BANYUMASEKSPRES.ID, Artis Shinta Bachir mengungkap secara terbuka pandangannya soal kehidupan pasca perceraiannya.
Meski sudah cukup lama menjanda, perempuan kelahiran Jakarta ini menyampaikan bahwa dirinya belum memiliki rencana untuk kembali membangun rumah tangga dalam waktu dekat.
“Kalau aku bilang aku janda ya mau gimana? Takdirnya perempuan apa? Tulang rusuk. Tapi ternyata takdir berkata aku harus jadi tulang punggung,” ungkap Shinta Bachir dalam sebuah kesempatan.
Pernyataan itu mencerminkan sikap realistis Shinta terhadap perannya saat ini. Ia menjalani kehidupan sebagai seorang single parent, yang bukan hanya bertanggung jawab untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk tumbuh kembang anaknya.
Dalam kesehariannya, Shinta memilih untuk menikmati momen kesendiriannya. Ia menekankan bahwa dirinya tidak ingin menyusahkan siapa pun dan berkomitmen penuh untuk memenuhi kebutuhan hidup melalui kerja kerasnya sendiri.
“Aku berusaha semangat, aku hidup nggak mau ngerepotin orang, iya kan? Aku berusaha kerja keras kerja buat cari uang. Jangan jadi pengemis,” ujarnya tegas.
Shinta menjadikan pengalamannya di masa lalu sebagai bahan pembelajaran yang sangat berharga.
Ia tidak menutup diri terhadap hubungan baru, namun kini lebih selektif dalam memilih pasangan. Baginya, pernikahan bukan sekadar status atau pelengkap hidup, tapi soal kualitas dan tanggung jawab.
“Jadi gini, kalau kita jatuh di lubang yang sama itu namanya kebodohan. Jadi ya harus milih-milihlah,” kata Shinta.
Dalam pernyataannya, Shinta juga menyinggung pentingnya menjaga diri dari hubungan yang justru bisa menambah beban hidup dan memperkeruh keadaan.
Bagi Shinta, ketenangan dan stabilitas jauh lebih penting daripada sekadar memiliki pasangan.
“Kalau mendatangkan orang dalam hidup saya hanya akan menambah dosa dan menambah beban hidup, buat apa? Mendingan hidup sendiri, iya kan,” lanjutnya.
Pandangan Shinta mencerminkan kemandirian dan prinsip hidup yang kuat. Ia memilih menjalani perannya sebagai ibu tunggal dengan penuh dedikasi.
Di tengah dunia hiburan yang penuh sorotan dan tekanan, Shinta tetap konsisten menjaga integritasnya, terutama dalam hal membesarkan anak tanpa bergantung pada orang lain.
Gaya hidup mandiri seperti yang dijalani Shinta Bachir ini belakangan semakin mendapat perhatian, terutama dari kalangan perempuan muda.
Banyak yang melihat figur seperti Shinta sebagai representasi perempuan tangguh yang tetap tegar meski harus berdiri sendiri di tengah berbagai tantangan hidup.
Keputusan untuk belum menikah lagi bukan karena trauma semata, melainkan bentuk kesadaran untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Shinta dengan jujur mengakui, pernikahan bukanlah satu-satunya jalan menuju kebahagiaan. Justru dengan ketenangan dan fokus pada kehidupan anak, ia merasa lebih utuh sebagai individu.
Pernyataan seperti “jangan jadi pengemis” dan “lebih baik sendiri daripada menambah dosa” mencerminkan filosofi hidup yang kini ia anut. Ini juga seolah menyuarakan pesan untuk para perempuan lain agar tidak takut memilih sendiri demi martabat dan ketenangan batin.
Dengan terus menekuni pekerjaannya di dunia hiburan dan membesarkan anaknya, Shinta Bachir menjadi sosok yang menunjukkan bahwa seorang perempuan bisa tetap kuat, berdikari, dan tak perlu bergantung pada pasangan untuk menjalani hidup.
Di tengah maraknya sorotan publik terhadap kisah asmara selebriti, sikap Shinta menjadi angin segar. Ia menolak standar kebahagiaan yang hanya terpusat pada status pernikahan.
Sebaliknya, ia memilih fokus pada hal-hal yang lebih substansial: membangun diri, menciptakan stabilitas, dan mendidik anak dengan sepenuh hati.
Dalam kondisi sosial yang masih sering menekan perempuan untuk menikah kembali pasca perceraian, pernyataan Shinta Bachir menjadi pengingat bahwa keputusan hidup adalah hak penuh setiap individu. Termasuk ketika seseorang memilih untuk bahagia dalam kesendirian, selama itu mendatangkan ketenangan dan kebaikan. (*/stch)
















