Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Minimnya Lapangan Kerja Picu Lonjakan Jumlah Pekerja Migran di Purbalingga

Jumlah PMI Terus MeningkatJumlah PMI Terus Meningkat
KE LUAR NEGERI: Fungsional Pengantar Kerja Ahli Muda Dinperinnaker Purbalingga, Yudhi Hendri Hananto menunjukkan data Pekerja Migran Indonesia (PMI) Kabupaten Purbalingga

BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Lonjakan jumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Purbalingga menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam sektor ketenagakerjaan lokal.

Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, angka penempatan PMI terus merangkak naik dari 514 orang pada tahun 2023 menjadi 657 orang pada tahun 2025.

Fungsional Pengantar Kerja Ahli Muda Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Ketenagakerjaan (Dinperinnaker) Purbalingga, Yudhi Hendri Hananto, menekankan bahwa tren ini dipicu oleh sempitnya lapangan kerja di daerah serta daya tarik gaji yang ditawarkan di luar negeri yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pekerjaan lokal.

Kondisi ini menciptakan pergeseran minat masyarakat untuk mencari pekerjaan di luar negeri ketimbang bertahan di sektor lokal.

“Pada tahun 2023, total warga yang berangkat mencapai 514 orang. Angka ini meningkat menjadi 637 orang pada tahun 2024, dan kembali melonjak menjadi 657 orang di tahun 2025,” jelas Yudhi saat konferensi pers yang berlangsung pada Rabu (8/4/2026).

Dari total 657 PMI yang terdaftar pada tahun 2025, sebanyak 455 orang adalah perempuan sementara itu sisanya, yaitu 202 orang merupakan laki-laki.

Data ini menunjukkan bahwa mayoritas atau sekitar 60,7 persen PMI bekerja di sektor formal, sementara sisanya sebanyak 39,3 persen berada di sektor informal.

Para PMI tersebut tersebar di sejumlah negara tujuan seperti Taiwan, Hongkong, Jepang, hingga kawasan Timur Tengah.

Memasuki periode Januari hingga April 2026, tercatat sebanyak 172 warga telah berangkat ke luar negeri. Dari jumlah tersebut terdiri dari 115 perempuan dan 57 laki-laki.

Meskipun jumlah ini lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 208 orang, namun tren bulanan justru menunjukkan peningkatan yang signifikan.

“Biasanya penempatan luar negeri hanya berkisar antara 12 hingga 15 orang per bulan. Namun sekarang, ada sekitar 40 sampai 50 orang warga Purbalingga yang berangkat bekerja ke luar negeri setiap bulannya,” tambah Yudhi.

Faktor utama yang menjadi magnet bagi para pencari kerja adalah upah yang ditawarkan di luar negeri yang sulit disaingi oleh pasar kerja lokal.

Para lulusan Sekolah Menengah Atas (SLTA) yang bekerja di Taiwan bisa mendapatkan penghasilan antara Rp8 juta hingga Rp9 juta per bulan.

Di Hongkong, mereka dapat memperoleh antara Rp7 juta hingga Rp8 juta dan di Malaysia antara Rp5 juta hingga Rp6 juta.

Besaran gaji tersebut bahkan bisa jauh lebih tinggi jika mereka bekerja di sektor formal dibandingkan dengan rata-rata peluang pendapatan yang ada di daerah asal.

Meningkatnya jumlah PMI ini mencerminkan tantangan besar dalam upaya pengembangan sektor ketenagakerjaan lokal.

Pemerintah daerah perlu melakukan evaluasi mendalam terhadap faktor-faktor penyebab minimnya lapangan kerja dan melakukan langkah-langkah strategis untuk menciptakan lebih banyak peluang kerja bagi masyarakat.

Tanpa adanya tindakan nyata untuk meningkatkan kualitas lapangan kerja lokal, maka kemungkinan besar tren peningkatan PMI akan terus berlanjut.

Hal ini bukan hanya akan mengurangi potensi sumber daya manusia yang ada tetapi juga akan berdampak langsung terhadap perekonomian daerah.

Sementara itu, Yudhi juga menyampaikan bahwa pihaknya terus melakukan koordinasi dengan berbagai instansi terkait agar para pekerja migran mendapatkan perlindungan dan hak-haknya selama bekerja di luar negeri.

Hal ini penting mengingat banyaknya laporan tentang pelanggaran hak pekerja migran yang terjadi selama ini.

Langkah-langkah preventif perlu dilakukan agar para PMI tidak hanya menjadi tenaga kerja murah namun juga memiliki keterampilan dan pengetahuan yang memadai untuk bersaing secara global.

Selain itu, penting bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan program pelatihan dan pendidikan guna mempersiapkan calon pekerja agar siap menghadapi tantangan di pasar kerja internasional.

Dalam situasi seperti ini, dukungan dari keluarga dan masyarakat juga sangat diperlukan untuk mendorong para pemuda agar tidak ragu mengambil kesempatan bekerja ke luar negeri asalkan melalui jalur resmi dan aman.

Kesadaran akan pentingnya pendidikan dan keterampilan juga harus ditanamkan sejak dini agar generasi mendatang memiliki pilihan karier yang lebih baik tanpa harus mengandalkan opsi bekerja sebagai PMI.

Dengan semua faktor ini diperhatikan dan ditangani secara serius oleh semua pihak terkait, harapan untuk menciptakan lapangan kerja lokal yang lebih baik dan menarik bagi masyarakat dapat terwujud. (alw/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Durasi Car Free Day Ditambah

Pemkab Banyumas Perpanjang CFD Alun-Alun Purwokerto Hingga Pukul 10.00 WIB

Berita Selanjutnya
Demam Trading Card Game

Dari Hobi ke Investasi, Trading Card Game Melejit di Indonesia