BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Krisis fiskal yang berujung pada terjadinya government shutdown di Amerika Serikat (AS) tampaknya membuka peluang menarik bagi pasar obligasi Indonesia.
Ketidakpastian yang melanda ekonomi terbesar di dunia ini memaksa sebagian investor global untuk mengatur ulang portofolio mereka, dan beralih ke aset berimbal hasil tinggi yang lebih menjanjikan, seperti Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia.
Ahmad Nasrudin, Head of Fixed Income Analyst di PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), menyatakan bahwa dampak dari shutdown AS terhadap pasar obligasi domestik Indonesia bukanlah dampak langsung, tetapi tetap signifikan melalui sentimen global dan arus modal.
“Shutdown memang menciptakan ketidakpastian, namun efeknya tidak serta-merta negatif bagi Indonesia. Dalam kondisi pasar global yang tengah menghadapi tekanan, sebagian investor justru mencari alternatif dengan carry trade ke negara berkembang yang menawarkan yield menarik seperti Indonesia,” ungkap Ahmad kepada awak media.
Selama periode Senin hingga Kamis (6–9 Oktober), data pasar menunjukkan bahwa investor asing mencatatkan net buy senilai Rp 5,14 triliun di pasar SBN.
Angka ini muncul setelah pada minggu sebelumnya terjadi aksi jual oleh investor asing.
Penguatan tersebut menandakan adanya kepercayaan terhadap prospek makroekonomi Indonesia yang stabil di tengah gejolak ekonomi global.
Ahmad juga menyoroti bahwa potensi shutdown AS dapat memicu penurunan yield Treasury AS, sehingga memperlebar spread terhadap obligasi Indonesia.
Kondisi ini semakin memperkuat minat investor terhadap SBN, khususnya pada Surat Utang Negara (SUN) dengan tenor menengah hingga panjang.
“Penurunan yield Treasury mempersempit selisih dan menciptakan potensi capital gain bagi SUN,” tambah Ahmad. Ia juga mencatat bahwa stabilitas rupiah dan tingkat inflasi yang terkendali turut meningkatkan daya tarik investor asing untuk menanamkan modal pada SBN.
Secara spesifik, imbal hasil SUN dengan tenor 10 tahun tercatat turun ke angka 6,115 persen pada akhir pekan lalu dibandingkan dengan 6,315 persen pada pekan sebelumnya.
Menurut Ahmad, yield ini diperkirakan akan bergerak dalam rentang 6,0 persen hingga 6,2 persen dalam jangka pendek dengan kecenderungan stabil. Hal ini sejalan dengan ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan baik dari Bank Indonesia (BI) maupun The Federal Reserve (The Fed).
“Ruang penurunan yield masih terbuka jika The Fed benar-benar menghentikan siklus pengetatannya,” ujar Ahmad seraya menambahkan bahwa kondisi domestik yang solid, seperti inflasi rendah dan pertumbuhan ekonomi sekitar lima persen, akan terus menjaga daya tarik obligasi Indonesia.
Secara keseluruhan situasi ini memperlihatkan bagaimana tekanan eksternal dapat berbalik menjadi peluang bagi pasar obligasi Indonesia.
Dengan investor global mencari tempat aman untuk investasi mereka di tengah ketidakpastian AS, aset-aset semacam SBN menjadi semakin berharga.
Ilustrasi Gedung Capitol AS di Washington menggambarkan betapa pentingnya peran kebijakan fiskal AS dalam mempengaruhi dinamika ekonomi global termasuk pengaruhnya terhadap pasar keuangan di negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Dengan demikian setiap perubahan kebijakan atau krisis seperti shutdown memiliki implikasi luas yang dapat dimanfaatkan oleh pasar lain untuk meningkatkan daya saing mereka di mata investor internasional. (*/dda)
















