BANYUMASEKSPRES.ID, NTB – Selama proses evakuasi seorang pendaki asal Brazil di Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) mengambil langkah tegas.
Mereka memutuskan untuk menutup sementara jalur pendakian menuju puncak Gunung Rinjani setelah insiden yang terjadi pada Sabtu pekan lalu, tanggal 21 Juni.
Penutupan ini mulai berlaku sejak Selasa, 24 Juni, dan akan berlangsung hingga waktu yang belum ditentukan.
Kepala Balai TNGR, Yarman, menyatakan bahwa prioritas utama mereka saat ini adalah memastikan evakuasi Juliana, pendaki asal Brazil yang menjadi korban dalam insiden tersebut, dapat dilaksanakan dengan maksimal dan segera selesai.
“Penutupan sementara jalur pendakian ini semata-mata dalam rangka percepatan proses evakuasi korban,” tegas Yarman.
Namun demikian, Yarman menjelaskan bahwa pengunjung masih dapat melakukan aktivitas pendakian di jalur wisata pendakian TNGR lainnya.
Aktivitas ini dibatasi hanya sampai Pelawangan 4 Sembalun. Jalur menuju puncak Gunung Rinjani ditutup total. Ia meminta pengertian dan kerja sama dari semua pihak terkait situasi ini.
“Informasi resmi terkait pembukaan jalur akan kami sampaikan melalui kanal komunikasi resmi TNGR,” tambahnya.
Sebelumnya, Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengungkapkan kronologi jatuhnya pendaki asal Brazil tersebut.
Berdasarkan laporan yang diterima oleh instansinya, Syafii menjelaskan bahwa musibah tersebut terjadi sekitar pukul 04.00 WITA pada saat Juliana De Souza Pereira Marins melakukan pendakian menuju puncak Gunung Rinjani. Pendakian ini dimulai sejak Jumat, 20 Juni.
Juliana mendaki bersama lima orang lainnya yang berasal dari berbagai negara melalui pintu Sembalun.
“Korban atas nama Juliana De Souza Pereira Marins, umur 27 tahun, melakukan pendakian melalui pintu Sembalun pada tanggal 20 Juni 2025 bersama dengan 5 orang lain dengan kewarganegaraan berbeda,” jelas Syafii.
Menurut laporan tersebut, tidak ada masalah apapun sejak pendakian dimulai hingga insiden terjadi ketika rombongan tengah berada di jalur pendakian.
Juliana terjatuh ke dalam jurang sedalam 500 meter. Informasi mengenai insiden itu diterima oleh Basarnas pada pukul 09.30 WITA setelah seorang warga bernama Mustiadi melaporkannya.
“Bahwa telah terjadi kondisi membahayakan manusia terhadap satu orang berkewarganegaraan Brazil yang terjatuh di jalur pendakian Gunung Rinjani, Lombok Timur. Dengan kronologis kejadian pada pukul 04.00 WITA saat akan melaksanakan summit menuju puncak Gunung Rinjani, korban terjatuh dari tebing ke arah danau,” ungkap Syafii.
Awalnya korban diduga jatuh dan terperosok ke dalam jurang dengan kedalaman sekitar 150-200 meter.
Namun setelah keberadaan korban diketahui lebih lanjut, Tim SAR menyebutkan bahwa korban berada pada kedalaman 500 meter dengan medan bebatuan dan pasir yang cukup berbahaya.
Operasi SAR sudah dilakukan sejak Basarnas mendapatkan kabar dari warga dan masih terus berjalan hingga saat ini.
Situasi seperti ini menyoroti pentingnya keselamatan dalam kegiatan pendakian gunung yang semakin populer di kalangan wisatawan lokal maupun internasional.
Dengan medan yang berbahaya seperti di Gunung Rinjani, persiapan fisik maupun mental serta peralatan keselamatan sangatlah krusial untuk mencegah insiden serupa.
Masyarakat dan para pecinta alam perlu memahami risiko yang ada dan mematuhi aturan keselamatan yang telah ditetapkan oleh pihak berwenang seperti Balai Taman Nasional Gunung Rinjani.
Di sisi lain, penutupan sementara jalur ke puncak juga berdampak pada sektor pariwisata lokal yang bergantung pada kunjungan para pendaki dari seluruh dunia.
Keputusan TNGR untuk menutup jalur adalah langkah yang perlu dihormati demi keselamatan semua pihak meskipun berdampak secara ekonomi bagi masyarakat setempat. (stch)
















