BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Menjelang Hari Raya Iduladha 2025, permintaan akan sapi kurban di wilayah Banjarnegara mengalami lonjakan tajam hingga 50 persen. Peningkatan ini mulai terasa signifikan dalam dua pekan terakhir dan diprediksi akan terus bertambah hingga menjelang hari penyembelihan hewan kurban.
Lonjakan permintaan ini tak hanya berdampak pada volume penjualan, tetapi juga turut mendorong kenaikan harga jual sapi. Salah satu peternak lokal, Ismanto, mengungkapkan bahwa peningkatan paling besar terjadi pada jenis sapi dengan bobot antara 2,5 hingga 3,5 kwintal.
Jenis ini populer disebut sebagai sapi “paket ekonomi”, karena harganya masih relatif terjangkau bagi masyarakat menengah yang ingin berkurban.
“Biasanya saya bisa jual lima ekor per hari, sekarang bisa sampai delapan sampai sepuluh ekor. Jenis yang paling dicari itu sapi ekonomi, karena harganya masih terjangkau,” ujar Ismanto, Rabu (21/5).
Menurutnya, sapi dengan bobot tersebut memang menjadi favorit karena ukurannya pas dan tidak memberatkan dari sisi biaya. Hal ini membuat masyarakat lebih mudah dalam memenuhi ibadah kurban tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.
Kondisi ini pun menjadi peluang emas bagi peternak untuk meningkatkan pendapatan menjelang hari besar keagamaan umat Islam tersebut.
Ismanto menambahkan bahwa lonjakan permintaan juga berdampak pada kenaikan harga sapi. Jika sebelumnya sapi dengan bobot rata-rata dijual di kisaran Rp18 juta per ekor, saat ini harga bisa melonjak hingga Rp20 juta hingga Rp25 juta tergantung kondisi fisik dan bobot sapi.
“Sapi ekonomis ini jadi primadona karena dianggap pas secara harga maupun ukuran untuk keperluan kurban oleh masyarakat menengah,” jelasnya.
Ia juga menyebutkan bahwa tren peningkatan permintaan sapi setiap menjelang Iduladha memang rutin terjadi.
Namun untuk tahun ini, pergerakannya dinilai lebih cepat dan tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Banyak konsumen yang sudah memesan lebih awal agar tidak kehabisan stok dan bisa mendapatkan harga yang masih kompetitif.
“Kenaikan ini sudah biasa terjadi setiap Iduladha, tapi tahun ini lebih cepat dan tajam,” tambah Ismanto.
Meski permintaan sapi berukuran besar atau kategori premium belum menunjukkan lonjakan serupa, Ismanto tetap menyiapkan stok dalam berbagai ukuran. Menurutnya, kebutuhan masyarakat beragam, dan setiap peternak harus siap menghadapi permintaan dari berbagai segmen pasar.
Strategi ini dilakukan agar tidak kehilangan peluang di tengah tingginya minat masyarakat untuk berkurban.
Kesehatan hewan juga menjadi fokus utama di tengah meningkatnya aktivitas jual beli. Ismanto memastikan bahwa seluruh sapi yang dijualnya berada dalam kondisi sehat dan layak sembelih.
Menjelang puncak permintaan, ia rutin memberikan vitamin serta menjaga kebersihan kandang secara intensif untuk memastikan kualitas hewan tetap terjaga.
“Kami rutin kasih vitamin dan menjaga kebersihan kandang. Apalagi jelang Iduladha, permintaan tinggi tapi yang dicari tetap sapi yang sehat dan layak sembelih,” ujarnya.
Permintaan yang tinggi menjelang Iduladha seperti ini bukan hanya menguntungkan peternak, tetapi juga menunjukkan geliat ekonomi di sektor peternakan rakyat.
Perputaran uang yang terjadi selama periode kurban bisa memberikan dampak signifikan bagi ekonomi lokal, terutama di wilayah pedesaan yang menjadi sentra peternakan sapi.
Selain itu, tren meningkatnya minat terhadap sapi kurban dengan harga ekonomis juga memperlihatkan adanya pergeseran preferensi masyarakat yang semakin rasional dalam memilih hewan kurban. Harga, ukuran, dan kelayakan menjadi pertimbangan utama, bukan semata-mata gengsi atau ukuran jumbo.
Dengan peningkatan permintaan yang tinggi dan ketersediaan pasokan yang terjaga, momentum Iduladha tahun ini diyakini akan menjadi salah satu musim panen terbaik bagi para peternak di Banjarnegara.
Namun tetap, pengawasan kesehatan hewan dari dinas terkait juga diharapkan terus berjalan agar kualitas hewan kurban tetap sesuai standar syariat dan kesehatan masyarakat terjaga. (jud/stch)
















