BANYUMASEKSPRES.ID, Sejumlah petenis top di ATP dan WTA saat ini tengah merasakan kekecewaan yang mendalam menyusul keputusan penyelenggara French Open 2026 terkait peningkatan hadiah turnamen.
Kekecewaan ini telah menciptakan wacana boikot yang semakin mengemuka dari beberapa petenis papan atas dunia.
Salah satu suara paling vokal dalam kritik ini adalah petenis nomor satu dunia, Aryna Sabalenka, yang secara terbuka mengekspresikan ketidakpuasannya terhadap panitia penyelenggara Roland Garros.
Sabalenka berpendapat bahwa kenaikan total hadiah sebesar 9,5 persen masih jauh dari cukup jika dibandingkan dengan pendapatan besar yang dihasilkan oleh turnamen Grand Slam tersebut.
French Open, yang juga dikenal sebagai Roland Garros, dijadwalkan berlangsung pada 18 Mei hingga 7 Juni 2026.
Pada edisi tahun ini, total hadiah mengalami peningkatan menjadi EUR 61,7 juta, yang setara dengan sekitar Rp 1,2 triliun jika dihitung berdasarkan nilai tukar saat ini.
Namun, meskipun angka tersebut menunjukkan pertumbuhan, banyak pemain merasa bahwa jumlah tersebut hanya mencerminkan sekitar 15 persen dari total pendapatan yang diperoleh turnamen.
Hal ini menimbulkan ketidakpuasan di kalangan para pemain, karena mereka merasa kontribusi mereka terhadap popularitas dan kesuksesan turnamen belum mendapatkan apresiasi yang sebanding.
Sabalenka bahkan mengemukakan bahwa opsi boikot bisa menjadi langkah terakhir yang diambil sejumlah pemain untuk memperjuangkan hak mereka.
Pernyataan tersebut disampaikan menjelang pelaksanaan turnamen Italian Open, dan menggambarkan betapa seriusnya situasi ini.
“Saya merasa itu (boikot) satu-satunya cara untuk memperjuangkan hak-hak kami,” ungkap Sabalenka dengan tegas.
Bagi petenis asal Belarus ini, keberadaan pemain top dunia adalah elemen penting dalam kesuksesan sebuah turnamen besar seperti French Open.
Ia berargumen bahwa tanpa kehadiran mereka, tidak akan ada acara menarik bagi penggemar tenis.
Lebih lanjut, Sabalenka menekankan pentingnya peran pemain dalam menarik minat penonton.
“Saya merasa pertunjukan ini bergantung pada kami. Saya merasa tanpa kami, tidak akan ada turnamen dan tidak akan ada hiburan seperti ini,” tambahnya.
Pendapatnya sejalan dengan pandangan petenis muda berbakat asal Amerika Serikat, Coco Gauff.
Juara grand slam tersebut juga melihat adanya banyak pemain lain yang berbagi pandangan serupa mengenai isu pembagian hadiah dalam turnamen besar.
Gauff menegaskan bahwa semakin banyak petenis berani mengambil sikap dan menyuarakan pendapat mereka tentang masalah ini.
Ia bahkan optimis bahwa aksi kolektif di antara para pemain bisa benar-benar terwujud jika para atlet bersatu dalam tujuan mereka.
“Jika semua bergerak bersama, saya bisa melihat itu terjadi 100 persen,” ungkap Gauff penuh keyakinan.
Dukungan terhadap gerakan ini juga datang dari juara Australian Open, Elena Rybakina.
Kehadiran suara-suara baru dan dukungan dari berbagai kalangan dalam dunia tenis membuat polemik seputar pembagian hadiah di French Open semakin ramai diperbincangkan menjelang dimulainya turnamen tersebut.
Situasi ini jelas menunjukkan bahwa masalah pembagian hadiah bukan hanya sekadar isu individu, namun telah melibatkan banyak pihak dan memicu diskusi lebih luas mengenai nilai kerja keras para atlet.
Hingga saat ini, pihak penyelenggara Roland Garros belum memberikan tanggapan resmi terhadap ancaman boikot yang dilontarkan oleh para pemain top dunia ini.
Namun demikian, polemik mengenai pembagian hadiah tentu saja akan menjadi sorotan utama di kalangan penggemar tenis maupun media olahraga secara keseluruhan. (*/stch/dda)
















