BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Desa Gebangsari di Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen, selama ini dikenal sebagai pusat kerajinan gerabah. Ketika menelusuri desa ini, tampak bahwa masa keemasan pembuatan gerabah sudah berlalu.
Pada era kejayaannya, hampir seluruh penduduk desa terlibat dalam produksi gerabah berbahan tanah liat. Namun, bagaimana keadaan desa ini sekarang?
Di pintu masuk Desa Gebangsari berdiri sebuah gapura yang bertuliskan “Sentra Gerabah,” menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu.
Meski demikian, ketika memasuki desa tersebut, pengunjung akan mendapati bahwa aktivitas pembuatan gerabah semakin jarang terlihat.
Setelah berkeliling mencari informasi lebih lanjut, akhirnya awak media bertemu dengan seorang perajin yang masih setia menjalankan tradisi ini.
Kasiyem adalah salah satu dari sedikit perajin yang masih bertahan. Di usianya yang menginjak 65 tahun, ketangkasan dan keterampilannya dalam membuat gerabah tetap terjaga.
Ia dengan lincah menghasilkan berbagai jenis perkakas dari tanah liat dengan menggunakan alat-alat tradisional seperti perbot, serig, tatap dan sotog yang sebagian besar dibuat sendiri dari kayu dan tanah liat.
Kasiyem menjelaskan bahwa jumlah perajin di desa ini telah menyusut drastis dibandingkan masa lalu.
“Dulu hampir seluruh warga Gebangsari bikin gerabah. Kini yang bertahan paling 25 orang,” ungkapnya saat ditemui di rumahnya di Dukuh Bobang, Desa Gebangsari pada Kamis (24/7).
Menurut Kasiyem, keberlanjutan kerajinan ini terancam karena generasi muda tidak tertarik untuk meneruskannya. Mereka lebih memilih mencari pekerjaan di luar kota.
Ia memperkirakan bahwa hanya dua generasi lagi yang akan meneruskan tradisi ini.
“Yang masih buat gerabah tinggal seumuran saya dan di bawah usia saya itupun usianya sudah 40-an,” tambahnya dibenarkan oleh Mirah (40), seorang perajin lainnya.
Kasiyem tetap bersemangat meskipun menghadapi tantangan berat. Setiap hari ia mengolah tanah liat menjadi berbagai perkakas dapur seperti wajan, cobek, paruk hingga kendi minum dari tanah liat.
“Kalau dulu banyak jenisnya. Ada pengaron, mendheng, dan banyak lagi,” kenangnya.
Harga jual produk-produk gerabah Kasiyem berkisar antara Rp 2.500 hingga Rp 7.500 bergantung pada ukuran dan jenis barangnya.
“Biasanya 25 hari sekali ada pedagang yang ngambil kesini,” ujarnya dengan optimisme sederhana.
Meskipun hasil penjualan tidak besar secara finansial, bagi Kasiyem cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan sedikit menyisihkan untuk cucunya.
“Ya lumayan bisa beli bumbu dapur dan jajan cucu,” katanya sembari tersenyum.
Desa Gebangsari mungkin menyimpan potensi besar jika mampu memanfaatkan kesempatan dengan baik dalam mempromosikan produk lokal ini ke pasar yang lebih luas sehingga dapat menarik minat generasi muda untuk kembali menghidupkan kejayaan kampung gerabah tersebut.
Latar belakang ekonomi lokal serta bagaimana perubahan gaya hidup berdampak pada keberlanjutan kerajinan tradisional seperti ini.
Hal ini tentunya sangat relevan dibahas lebih lanjut demi mendapatkan gambaran komprehensif mengenai situasi sebenarnya serta langkah-langkah strategis apa saja diperlukan guna menjaga warisan budaya bangsa tetap lestari bagi generasi berikutnya. (cah/stch)
















