BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Meski diguyur hujan deras, semangat ratusan warga Desa Prendengan, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara, tak surut untuk mengikuti tradisi tahunan sedekah bumi yang digelar pada Kamis (8/5).
Acara yang menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki hasil bumi ini semakin istimewa karena untuk pertama kalinya dihadiri langsung oleh Bupati Banjarnegara, dr. Amalia Desiana.
Suasana berlangsung khidmat saat warga bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat memanjatkan doa, menggelar istighotsah, dan menyaksikan pentas seni tradisional wayang kulit.
Puncak acara ditandai dengan rebutan gunungan hasil bumi—tumpeng besar berisi sayuran dan hasil pertanian lokal yang diyakini membawa berkah bagi siapa saja yang mendapatkannya.
“Tradisi ini adalah warisan leluhur yang harus kita jaga. Selain sebagai bentuk rasa syukur, ini juga untuk mempererat kebersamaan dan kerukunan antarwarga,” ujar Kepala Desa Prendengan, Muhamad Barokah.
Ia mengungkapkan bahwa seluruh rangkaian kegiatan sedekah bumi dilaksanakan secara swadaya masyarakat, tanpa menggunakan dana bantuan dari pemerintah.
“Kami bergotong-royong menyiapkan semuanya. Kami berharap kehadiran Ibu Bupati bisa membawa perhatian lebih bagi desa kami, yang masih menghadapi banyak tantangan, mulai dari infrastruktur dasar hingga kerawanan bencana seperti tanah longsor,” tambahnya.
Hal senada diungkapkan oleh Juwarto, salah satu warga yang mengaku bangga karena untuk pertama kalinya tradisi ini mendapat perhatian dari pemimpin daerah.
“Selama ini yang datang biasanya hanya camat atau tokoh desa. Baru kali ini bupati hadir langsung. Ini sejarah bagi kami,” ujarnya.
Menanggapi antusiasme warga, Bupati Amalia menyampaikan apresiasi dan komitmennya untuk memperhatikan aspirasi masyarakat desa.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa kebutuhan seluruh wilayah di Banjarnegara harus ditangani secara bertahap.
“Saya tahu banyak yang harus dibenahi, terutama di desa-desa rawan bencana seperti Prendengan. Tapi saya tidak hanya mengurus satu desa. Maka semuanya harus disesuaikan dengan kemampuan dan prioritas pembangunan daerah,” ujarnya.
Amalia juga menekankan pentingnya komunikasi dua arah antara pemerintah desa dan pemerintah kabupaten. Ia meminta agar kepala desa dan warga tidak ragu menyampaikan persoalan melalui saluran resmi.
“Kalau ada kebutuhan, sampaikan dengan baik. Pemerintah kabupaten tidak akan tahu jika tidak ada komunikasi dari bawah. Jangan sampai masalah dibiarkan tanpa upaya solusi,” tegasnya.
Kehadiran bupati dalam acara adat tersebut menjadi momentum penting bagi masyarakat Prendengan.
Mereka berharap perhatian pemerintah tidak berhenti pada seremoni saja, tetapi juga menyentuh pembangunan konkret di bidang infrastruktur, kesehatan, pendidikan, dan penanggulangan bencana.
Dengan pelestarian budaya dan dukungan pemerintah, masyarakat berharap tradisi sedekah bumi akan terus menjadi kekuatan sosial dan spiritual untuk menjaga keharmonisan hidup di tengah tantangan zaman. (jud/*stch)
















