BANYUMASEKSPRES.ID, Indeks Harga Saham Gabungan kembali bergerak dalam pola konsolidasi pada perdagangan Kamis, 2 Oktober 2025. Tekanan jual yang mendominasi membuat pergerakan pasar terbatas.
Berdasarkan data RTI Infokom, IHSG ditutup melemah 0,21 persen pada posisi 8.043,82 di akhir perdagangan Rabu, 1 Oktober 2025.
Sepanjang hari, indeks berada di rentang 8.034 hingga 8.093. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 289 saham mencatat penguatan, 378 saham melemah, sementara 130 saham stagnan.
Nilai kapitalisasi pasar pun mengalami penurunan dan tercatat menjadi 14.887 triliun.
Saham PT Bank Central Asia Tbk atau BBCA ikut menekan indeks hari ini. Saham emiten perbankan terbesar ini turun 1,64 persen ke level 7.500 per lembar.
Kinerja saham afiliasi Hashim Djojohadikusumo, yakni PT Solusi Sinergi Digital Tbk dengan kode WIFI, juga terkoreksi cukup dalam. Saham tersebut melemah 3,20 persen hingga menyentuh 2.720 per saham.
Tim Riset MNC Sekuritas menilai pelemahan indeks kali ini masih wajar, dengan kecenderungan bergerak konsolidasi dalam jangka pendek.
“IHSG terkoreksi 0,21 persen ke 8.043 dan masih didominasi oleh tekanan jual, pergerakan IHSG pun masih cenderung konsolidasi dalam jangka pendek,” tulis Tim Riset MNC Sekuritas, Kamis 2 Oktober 2025.
Mereka menambahkan ada dua kemungkinan pergerakan indeks.
“Best case (biru) masih terdapat peluang penguatan bagi IHSG untuk membentuk bagian dari wave [iii] ke rentang 8.200 sampai 8.246. Namun, pada label hitam, IHSG masih rawan terkoreksi paling tidak untuk menguji 7.894 hingga 7.959 dahulu,” jelas Tim Riset.
Adapun level support IHSG berada di kisaran 8.005 dan 7.840, sementara level resistance diperkirakan berada di rentang 8.155 hingga 8.192.
Sejalan dengan analisis tersebut, MNC Sekuritas memberikan sejumlah rekomendasi saham yang dinilai menarik diperhatikan hari ini.
Saham pertama adalah BUKA dengan strategi Buy on Weakness. Pada perdagangan kemarin, BUKA menguat 5,88 persen ke level 180, didorong volume pembelian tinggi.
Menurut tim analis, posisi BUKA saat ini berada pada bagian dari wave 3 dari wave (C). Rekomendasi pembelian pada level 174 sampai 179, dengan target 194 dan 206, serta stoploss di bawah 167.
Saham kedua yang menjadi sorotan adalah ICBP dengan rekomendasi Spec Buy. ICBP terkoreksi 1,58 persen ke 9.325, masih dipengaruhi tekanan jual.
Tim Riset memperkirakan posisi ICBP sedang berada pada bagian dari wave [iv] dari wave A. Rekomendasi Spec Buy berada di kisaran 9.250 hingga 9.300, dengan target 9.775 dan 10.100, serta stoploss di bawah 9.100.
Selanjutnya ada KRAS, saham milik Krakatau Steel, yang berhasil menguat signifikan 14,74 persen hingga menyentuh 358. Penguatan ini didorong peningkatan volume pembelian.
Posisi KRAS saat ini diperkirakan berada pada wave 5 dari wave (A). Rekomendasi Spec Buy berada di 332 sampai 352, dengan target harga 390 dan 420, serta stoploss di bawah 330.
Saham lain yang juga masuk dalam radar adalah MINA, yang naik 2,96 persen ke level 174. Penguatan saham ini masih ditopang oleh tingginya volume pembelian dan posisinya di atas MA20.
Tim analis MNC Sekuritas memperkirakan posisi MINA berada pada bagian dari wave E dari wave (4) dalam pola triangle. Rekomendasi Buy on Weakness di kisaran 156 sampai 166, dengan target harga 180 dan 194, serta stoploss di bawah 152.
Meskipun sejumlah saham direkomendasikan untuk pembelian, Tim Riset menegaskan bahwa kondisi pasar masih rawan. Investor diminta tetap waspada terhadap potensi koreksi yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Dari catatan perdagangan kemarin, pergerakan saham-saham utama menjadi faktor penting dalam tekanan terhadap IHSG. Penurunan BBCA serta koreksi dalam pada WIFI memberi beban cukup besar.
Namun, masih terdapat sejumlah saham lain yang berhasil menjaga momentum penguatan, seperti KRAS dan BUKA, yang memberikan sinyal positif bagi sebagian investor.
Di sisi lain, kondisi pasar global juga terus memengaruhi arah perdagangan di Bursa Efek Indonesia. Tekanan eksternal, terutama dari dinamika kebijakan ekonomi global, sering menjadi pemicu pergerakan indeks domestik.
Pola konsolidasi yang terjadi saat ini menunjukkan pasar tengah mencari arah baru. Dengan dominasi aksi jual, potensi pergerakan jangka pendek menjadi terbatas meski peluang teknikal masih terbuka.
Bagi investor, rekomendasi dari MNC Sekuritas menjadi salah satu acuan dalam menentukan strategi harian. Namun disiplin terhadap batas stoploss dan target harga tetap penting diterapkan.
Dengan kondisi indeks yang rawan koreksi, para pelaku pasar diingatkan untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan. Sentimen global maupun domestik bisa menjadi pemicu perubahan arah secara cepat.
Meski begitu, rekomendasi saham yang masuk kategori Buy on Weakness atau Spec Buy bisa memberikan peluang bagi investor dengan profil risiko terukur.
Strategi ini dianggap relevan mengingat pergerakan teknikal menunjukkan pola yang masih berpotensi menguntungkan, terutama jika penguatan lanjutan benar-benar terjadi sesuai proyeksi analis. (WAN)
















