BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Pada perdagangan Rabu (8/7/2026) siang, rupiah tercatat melemah ke level Rp18.011 per dolar AS, atau turun 31 poin setara 0,17 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Berdasarkan data perdagangan hingga pukul 11.35 WIB, pelemahan rupiah terjadi di tengah pergerakan mayoritas mata uang Asia yang juga mengalami tekanan terhadap dolar AS.
Kondisi tersebut mencerminkan sentimen global yang masih memengaruhi pasar keuangan kawasan. Di kawasan Asia, sejumlah mata uang terpantau bergerak melemah.
Peso Filipina turun sekitar 0,20 persen, dolar Singapura terkoreksi 0,02 persen, yuan China melemah 0,02 persen, sedangkan yen Jepang turun 0,18 persen.
Selain itu, rupee India juga melemah 0,14 persen, baht Thailand turun 0,16 persen, ringgit Malaysia terkoreksi 0,15 persen, sementara dolar Hong Kong bergerak turun tipis sekitar 0,01 persen.
Berbeda dengan kondisi di Asia, sebagian besar mata uang negara maju justru menunjukkan penguatan terhadap dolar AS.
Dolar Australia naik sekitar 0,19 persen, euro menguat 0,02 persen, dan dolar Kanada bertambah 0,04 persen.
Sementara itu, poundsterling Inggris melemah tipis 0,05 persen dan franc Swiss turun sekitar 0,02 persen. Pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir memang cukup fluktuatif.
Pada Senin (6/7/2026), mata uang Garuda sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, bahkan menyentuh posisi Rp18.009 sebelum akhirnya ditutup di level Rp17.995 per dolar AS.
Sehari kemudian, Selasa (7/7/2026), rupiah berhasil mencatatkan penguatan tipis.
Mata uang nasional ditutup di level Rp17.980 per dolar AS, menguat sekitar 15 poin atau 0,08 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Meski demikian, tekanan terhadap rupiah kembali muncul pada perdagangan Rabu sehingga nilai tukar kembali berada di atas level Rp18 ribu per dolar AS.
Menanggapi perkembangan tersebut, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny Prakoso, menegaskan bahwa pelemahan rupiah masih relatif lebih baik apabila dibandingkan dengan sejumlah mata uang negara berkembang lainnya.
Berdasarkan data Bloomberg periode 17 Juni hingga 6 Juli 2026, rubel Rusia tercatat melemah sekitar 5,5 persen terhadap dolar AS.
Peso Chile mengalami penurunan sekitar 4 persen, sedangkan baht Thailand turun sekitar 2,3 persen. Pada periode yang sama, rupiah hanya melemah sekitar 1,4 persen.
Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan beberapa mata uang lainnya, seperti won Korea Selatan yang turun sekitar 1 persen, peso Filipina sekitar 1 persen, rupee India sebesar 0,7 persen, dan yuan China sekitar 0,5 persen.
Menurut Ramdan Denny Prakoso, kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan rupiah masih tergolong cukup baik di tengah tekanan pasar keuangan global yang masih berlangsung.
Bank Indonesia juga menegaskan akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Langkah stabilisasi dilakukan melalui berbagai strategi yang disesuaikan dengan dinamika pasar keuangan domestik maupun global.
Bank sentral memastikan akan terus melakukan upaya maksimal atau all out untuk menjaga stabilitas rupiah agar tetap terkendali serta memiliki kecenderungan menguat dalam jangka menengah.
Stabilitas nilai tukar rupiah dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor, mengendalikan inflasi, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.
Dengan berbagai kebijakan yang telah disiapkan, Bank Indonesia berharap gejolak nilai tukar dapat diminimalkan sehingga kondisi pasar keuangan Indonesia tetap stabil dan aktivitas perekonomian nasional dapat terus berjalan dengan baik. (*/stch/dda)
















