Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Rupiah Melemah ke Rp17.140 per Dolar AS, BI Optimistis Akan Menguat

Rupiah Melemah Rp 17.140 per Dolar ASRupiah Melemah Rp 17.140 per Dolar AS
Ilustrasi uang rupiah

BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) optimis bahwa nilai tukar rupiah masih memiliki potensi untuk menguat meskipun saat ini berada di bawah nilai fundamentalnya.

Dalam analisis terbaru yang dirilis pada Selasa, 21 April 2026, rupiah tercatat pada level Rp 17.140 per dolar AS.

Ini menunjukkan adanya pelemahan sebesar 0,87 persen jika dibandingkan dengan posisi akhir Maret 2026.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam pernyataannya menyatakan bahwa secara fundamental, rupiah seharusnya memiliki ruang untuk menguat seiring dengan kondisi ekonomi domestik yang tetap solid.

Hal ini didorong oleh berbagai kebijakan moneter yang telah diterapkan oleh bank sentral.

Perry menegaskan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia masih terjaga di tengah tekanan yang disebabkan oleh faktor-faktor global, termasuk dampak dari konflik geopolitik seperti perang di Iran.

“Nilai tukar rupiah sekarang ini telah undervalued dibandingkan dengan fundamental,” ujar Perry dalam konferensi pers pada Kamis, 23 April 2026.

Pernyataan ini menyoroti keyakinan BI bahwa meskipun ada tantangan di pasar global, terdapat landasan kuat bagi penguatan rupiah ke depan.

Namun, Perry juga mengakui bahwa konflik di Iran memberikan dampak tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Kenaikan harga minyak dunia, penguatan dolar AS dan meningkatnya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat telah menciptakan arus modal global yang cenderung keluar dari negara berkembang termasuk Indonesia.

Situasi ini memaksa BI untuk terus beradaptasi dan merumuskan strategi guna menjaga stabilitas nilai tukar.

Dalam upaya mengantisipasi volatilitas yang terjadi akibat kondisi global tersebut, BI berkomitmen untuk mengoptimalkan bauran kebijakan yang mencakup kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran.

Kebijakan makroprudensial bersama dengan sistem pembayaran tetap difokuskan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Sebaliknya, kebijakan moneter diarahkan untuk menjaga stabilitas dan ketahanan ekonomi dari gejolak yang mungkin terjadi di pasar internasional.

Sebagai bagian dari langkah strategis tersebut, BI melakukan intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri serta transaksi spot dan Domestic NDF (DNDF) di pasar domestik.

Langkah ini bertujuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memastikan kecukupan cadangan devisa nasional. Hingga akhir Maret 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat sekitar 148,2 miliar USD.

Perry juga menekankan pentingnya menarik aliran modal asing melalui penyesuaian suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Langkah ini akan memperkuat ketahanan eksternal serta meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik bagi investor asing.

“Dari sisi kebijakan moneter kami berupaya mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah dan menjaga inflasi tetap dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen,” ungkap Perry lebih lanjut.

Hal ini mencerminkan komitmen BI dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional agar tetap resilient menghadapi tantangan global.

Upaya-upaya yang dilakukan oleh BI tidak hanya melibatkan intervensi langsung di pasar valuta asing tetapi juga mencakup langkah-langkah proaktif dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif.

Dalam konteks ini, penting bagi pemerintah dan bank sentral untuk bekerja sama dalam merumuskan kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan serta menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.

Dengan situasi perekonomian global yang semakin kompleks akibat berbagai faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik dan fluktuasi harga komoditas, tantangan bagi nilai tukar rupiah memang tidak bisa dianggap remeh. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Tiga Relawan SPPG Alami Tekanan Darah Tinggi

Skrining PTM Temukan 3 Relawan MBG Alami Tekanan Darah Tingg di Purbalingga

Berita Selanjutnya
UI Siapkan Kuota Besar SNBT 2026, Inilah Program Studinya

UI Perketat UTBK SNBT, Metal Detector Jadi Alat Wajib Pengawasan