Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Saham BBCA Menguat ke 7.300 Saat IHSG Terkoreksi, Sinyal Beli!

Saham bbca menguatSaham bbca menguat
Saham BBCA kembali menguat

BANYUMASEKSPRES.ID, Saham BBCA sempat menguat ke Rp 7.300 ketika IHSG mengalami tekanan koreksi, sebuah kondisi yang menarik perhatian pasar karena menunjukkan ketahanan saham ini di tengah tekanan indeks utama.

Namun dalam beberapa pekan terakhir, arah pergerakan saham BBCA berubah drastis. Harga saham bank swasta terbesar ini malah menunjukkan tren penurunan yang cukup dalam sepanjang tahun berjalan.

Menurut data perdagangan, saham BBCA terkoreksi hingga 22,22 % sepanjang tahun 2025, sebuah angka yang tentu mengundang perhatian serius dari pelaku pasar dan analis teknikal.

Contoh terbaru terjadi pada Selasa, 9 September 2025. Saat itu, saham BBCA tercatat turun sebesar 2,27 % ke level Rp 7.525 per saham di tengah harapan investor atas rebound pasar.

Penurunan ini menjadi menarik karena terjadi pada saat IHSG sedang dalam tren positif. BBCA yang biasanya menjadi penopang indeks justru berada di jalur sebaliknya, menambah tekanan sektor perbankan.

Meski begitu, BBCA sempat menjadi satu-satunya saham bank besar yang menghijau ketika IHSG menguat 0,38 % pada 27 Agustus 2025, saat bank-bank lain mengalami penurunan nilai.

Namun pola tersebut tidak bertahan lama. Dalam tren terkini, saham-saham bank besar termasuk BBCA justru mengalami tekanan bersamaan, memperlihatkan sentimen hati-hati dari investor institusi.

Meski harga saham sedang dalam tekanan, fundamental Bank Central Asia tetap dinilai solid. Laba bersih bank ini pada periode Januari hingga Juli 2025 tercatat tumbuh 10,5 % secara tahunan.

Pertumbuhan laba itu membawa angka total laba bersih BCA menjadi Rp 34,7 triliun. Angka ini menegaskan bahwa kinerja operasional bank tetap menunjukkan efisiensi dan daya tahan yang tinggi.

Di saat yang sama, rasio profitabilitas BCA juga tetap tinggi. Return on Equity (ROE) bank ini tercatat di level 23,3 %, memperkuat posisi BCA sebagai bank paling efisien di Indonesia.

Selain laba dan efisiensi, penyaluran kredit BCA juga tumbuh positif. Hingga Juli 2025, kredit yang disalurkan oleh BCA naik sekitar 11 % dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Melihat data tersebut, sejumlah analis tetap mempertahankan pandangan positif terhadap BBCA. Konsensus dari 37 analis Bloomberg menunjukkan 34 di antaranya memberi rekomendasi beli (buy) untuk saham ini.

Sementara itu, hanya 3 analis yang menyarankan tahan (hold). Hal ini menunjukkan mayoritas analis tetap percaya bahwa BBCA memiliki potensi pertumbuhan jangka menengah hingga panjang.

Bahkan target harga rata-rata yang diberikan oleh para analis berada di level Rp 10.824. Ini berarti ada potensi kenaikan sebesar 43 % dari posisi harga saham BBCA saat ini.

Namun, tekanan pasar tetap nyata. Ketika IHSG menyentuh level 7.957 pada 16 September 2025, saham-saham bank besar seperti BBCA justru mengalami aksi jual cukup dalam dari pelaku pasar.

Kondisi ini menandakan bahwa investor besar kemungkinan sedang melakukan aksi ambil untung (profit taking), memanfaatkan kenaikan sebelumnya untuk merealisasikan keuntungan dari saham perbankan.

Meski tekanan terjadi, bagi investor yang sabar dan berpikir jangka panjang, momentum koreksi ini bisa menjadi peluang akumulasi. Namun tetap dengan catatan manajemen risiko yang disiplin.

Investor yang belum memiliki saham BBCA dapat mempertimbangkan untuk mulai masuk bertahap. Terutama jika harga telah membentuk konsolidasi kuat dan indikator teknikal menunjukkan sinyal reversal.

Bagi investor yang sudah memiliki saham ini, penting untuk menetapkan kembali strategi, termasuk meninjau ulang target harga jual dan titik keluar jika tekanan berlanjut atau volatilitas meningkat.

Meskipun secara teknikal harga BBCA terlihat melemah, kekuatan fundamental tetap menjadi faktor pendukung utama. Laba bersih tinggi, ROE yang kuat, serta pertumbuhan kredit yang sehat menjadi kunci.

Karena itu, jangan hanya melihat pergerakan harga harian. Investor juga perlu menilai kualitas aset BBCA, rasio kredit bermasalah (NPL), dan rasio kecukupan modal (CAR) sebagai faktor pendukung.

Kondisi makroekonomi dan arah suku bunga juga harus diperhatikan. Jika terjadi penurunan suku bunga acuan, margin bunga bersih bank bisa melebar dan memperkuat profitabilitas sektor perbankan.

Saham BBCA kini berada pada titik penting. Apakah akan melanjutkan pelemahan, atau justru berbalik arah seiring potensi rebound IHSG dan rotasi sektor kembali ke saham perbankan unggulan.

Kesimpulannya, tekanan harga yang dialami saham BBCA selama 2025 belum menghapus daya tariknya. Justru, ini bisa menjadi momen akumulasi cerdas bagi investor jangka panjang yang selektif. (Okt)

Berita Sebelumnya
Ketersediaan air di ikn hanya 0,5 persen

Hanya 0,5 persen Air yang Tersedia di Permukaan, IKN Terancam Kekurangan Air

Berita Selanjutnya
Joyit (2)

Main JOYit Bisa Dapat Uang? Simak Cara dan Bukti Penarikannya