BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks, Samsung Electronics kini tengah meninjau ulang strategi harga untuk ponsel pintar terbaru mereka, Galaxy S26.
Kondisi ini dipicu oleh kenaikan tajam harga komponen memori dunia yang tidak terelakkan.
Saat ini, perusahaan raksasa teknologi asal Korea Selatan tersebut dihadapkan pada dilema antara menyerap kenaikan biaya produksi demi mempertahankan daya saing atau menaikkan harga jual perangkat mereka.
Mengutip laporan dari Korea Times, opsi penyesuaian harga menjadi langkah yang hampir tidak bisa dihindari oleh Samsung.
Menurut sumber industri, perusahaan lebih condong untuk melakukan penyesuaian harga tersebut karena harga DRAM dan NAND telah mengalami peningkatan drastis hingga hampir dua kali lipat sejak awal tahun 2025.
Informasi dari pengamat pasar Omdia menunjukkan bahwa harga DRAM LPDDR5 berkapasitas 96 GB untuk ponsel pintar melonjak sekitar 70 persen sejak awal tahun ini.
Sementara itu, harga NAND flash juga mengalami kenaikan signifikan hingga 100 persen.
Situasi ini berdampak langsung pada peningkatan biaya produksi perangkat elektronik, termasuk smartphone.
Lebih lanjut, TrendForce memperkirakan bahwa biaya bill of materials (BoM) untuk smartphone akan meningkat antara 5 hingga 7 persen pada tahun ini.
Counterpoint Research bahkan memprediksi bahwa harga memori masih berpotensi naik hingga 40 persen pada kuartal kedua tahun ini.
Kenaikan tersebut dapat mendorong peningkatan BoM hingga mencapai 15 persen dan membuat rata-rata harga jual smartphone naik sebesar 6,9 persen.
Tidak hanya berdampak pada sektor ponsel pintar, kenaikan harga memori ini juga telah dirasakan dalam industri PC.
Data yang dihimpun oleh DRAMeXchange menunjukkan bahwa harga DRAM untuk PC melonjak hingga 43 persen pada kuartal IV tahun 2025.
Hal ini memicu potensi peningkatan harga laptop pada paruh pertama tahun 2026, termasuk produk-produk dari Samsung.
Untuk Galaxy S26 sendiri, Samsung semula berharap dapat menekan biaya produksi dengan menggunakan prosesor Exynos 2600 buatan mereka sendiri pada model standar.
Namun kenyataannya, lonjakan harga memori ternyata lebih tinggi dari perkiraan awal sehingga strategi tersebut tidak cukup efektif untuk menahan laju kenaikan biaya produksi.
Hingga saat ini, Samsung belum memberikan keputusan final mengenai penetapan harga dari Galaxy S26 yang rencananya akan diperkenalkan dalam acara tahunan Galaxy Unpacked di San Francisco pada tanggal 25 Februari mendatang.
Perusahaan dikabarkan juga tengah menjajaki kemungkinan kerja sama jangka panjang dalam pasokan memori guna menjaga stabilitas biaya produksi ke depannya.
Situasi ini menggambarkan betapa kompleksnya tantangan yang harus dihadapi oleh produsen teknologi besar seperti Samsung dalam menjaga keseimbangan antara inovasi produk dan strategi bisnis yang efektif di tengah fluktuasi pasar global.
Dengan banyaknya faktor eksternal yang mempengaruhi biaya produksi, pengambilan keputusan terkait strategi harga menjadi semakin rumit dan membutuhkan analisis mendalam serta pendekatan inovatif.
Kenaikan harga memori, baik DRAM maupun NAND flash, telah menciptakan tekanan finansial yang signifikan bagi produsen perangkat elektronik secara global.
Ini bukan hanya permasalahan bagi Samsung semata tetapi juga menjadi tantangan bagi seluruh industri teknologi yang bergantung pada komponen-komponen tersebut.
Samsung sebagai salah satu pemimpin industri tentu harus mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan dinamika pasar yang terjadi saat ini.
Langkah-langkah strategis seperti menjalin kerja sama pasokan jangka panjang dan mempertimbangkan penyesuaian harga adalah upaya-upaya penting yang bisa membantu perusahaan untuk tetap kompetitif sekaligus memenuhi ekspektasi konsumen. (*/stch/dda)
















