BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Di sebuah sudut Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, terdapat sentra kerajinan unik yang telah menjadi bagian dari warisan budaya setempat.
Kerajinan anyaman berbahan daun pandan di Dusun Stanakunci ini bukan hanya sekadar produk unggulan, melainkan juga tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Aktivitas ini terus dilestarikan oleh masyarakat setempat sebagai bagian dari identitas lokal dan sumber penghidupan.
Di Kelompok Tani Hutan Margo Rahayu, suasana kesibukan begitu terasa.
Beberapa ibu rumah tangga tampak sibuk menganyam daun pandan yang telah dikeringkan menjadi bahan setengah jadi yang dikenal sebagai complong.
Proses ini bukanlah pekerjaan mudah, setiap helai pandan harus dirangkai dengan teliti untuk kemudian diolah lebih lanjut menjadi berbagai macam kerajinan tangan.
Sementara itu, dua pria terlihat tekun menjahit anyaman-anyaman tersebut sesuai ukuran dan pola yang ditentukan untuk produk akhir.
Waginem, seorang perempuan 65 tahun, adalah salah satu pengrajin di sini. Ia dengan cekatan menyelesaikan anyaman setengah jadi bermotif kepang.
“Sejak kecil saya sudah bisa menganyam,” ceritanya sembari melanjutkan pekerjaannya menganyam anyaman berukuran 60 cm x 60 cm pada Rabu (6/1).
Baginya, menganyam adalah kegiatan sampingan yang penting di sela-sela kesibukan mengurus rumah tangga.
“Alhamdulillah, bisa menambah penghasilan untuk ongkos sekolah anak-anak,” ungkapnya dengan penuh syukur.
Ketua Kelompok Tani Hutan Margo Rahayu, Anung Pratama, menjelaskan bahwa unit usaha ini fokus pada pemberdayaan masyarakat sekaligus pelestarian budaya anyaman pandan.
Lebih dari 63 anggota dan pengurus terlibat aktif dalam kelompok ini. Tidak hanya itu, mereka juga menggandeng komunitas pengrajin di lima desa sekitar dengan total anggota mencapai dua ribuan orang.
“Kami memiliki ratusan jenis produk mulai dari tas, dompet, aneka box, topi, sandal hingga tikar,” ujarnya dengan bangga.
Pemasaran produk anyaman pandan saat ini tidak terbatas hanya di wilayah Kebumen.
Permintaan juga datang dari luar kota seperti Wonosobo, di mana setiap bulan mereka menerima pesanan ribuan tas dari pengusaha minuman karika di daerah tersebut.
Anung menjelaskan bahwa upaya pelestarian budaya ini juga dilakukan dengan menggandeng generasi muda melalui lomba menganyam dan wisata edukasi pembuatan anyaman.
Keunikan lain dari Desa Grenggeng adalah kerajinan bambunya yang kini menjadi bagian dari UNESCO Global Geopark Kebumen.
Ini menunjukkan bahwa keindahan dan nilai tradisional dari produk-produk lokal tidak hanya diakui secara nasional tetapi juga mendapat perhatian internasional.
Dengan adanya dukungan seperti ini, masa depan kerajinan anyaman pandan di Desa Grenggeng terlihat cerah.
Inisiatif-inisiatif lokal seperti yang dilakukan oleh Kelompok Tani Hutan Margo Rahayu memainkan peran penting dalam menjaga agar tradisi berharga ini tetap hidup dan berkembang seiring waktu. (mam/dda)
















