BANYUMASEKSPRES.ID, Setelah bocorannya sempat ramai beredar di dunia maya, Xiaomi akhirnya resmi merilis perangkat pelacak pintar bernama Xiaomi Tag.
Produk ini langsung diposisikan sebagai penantang serius Apple AirTag dan Samsung Galaxy SmartTag di pasar global. Kehadiran Xiaomi Tag mempertegas ambisi Xiaomi dalam memperluas lini perangkat Internet of Things (IoT) dan aksesoris pintar.
Tracker ini hadir dengan pendekatan harga yang lebih kompetitif, tanpa sepenuhnya mengorbankan fungsi utama sebagai alat pelacak barang sehari-hari.
Secara tampilan, Xiaomi Tag memiliki desain yang cukup berbeda dibandingkan Apple AirTag maupun Samsung Galaxy SmartTag.
Perangkat ini berbentuk elips dengan ukuran yang mungil, sehingga mudah diselipkan ke dalam tas, dompet, atau digantungkan pada gantungan kunci.
Dimensinya tergolong tipis, dengan ketebalan hanya 7,2 mm. Bodi perangkat dibuat dari material plastik dan saat ini tersedia dalam satu pilihan warna saja, yakni putih. Desainnya minimalis dan sederhana, mengikuti ciri khas perangkat Xiaomi yang fungsional.
Xiaomi Tag sudah mulai dipasarkan di sejumlah toko resmi Xiaomi di pasar Eropa, termasuk Perancis dan Inggris. Strategi peluncuran ini menunjukkan bahwa Eropa menjadi salah satu pasar prioritas untuk produk tracker terbaru tersebut.

Dari sisi harga, Xiaomi menawarkan banderol yang cukup agresif. Di Perancis, Xiaomi Tag dijual dengan harga sekitar 17,99 euro atau setara kurang lebih Rp 359.217 untuk satu unit.
Xiaomi juga menyediakan paket bundling berisi empat unit sekaligus. Paket ini dijual dengan harga 59,99 euro atau sekitar Rp 1,2 juta.
Jika dihitung, harga per unitnya turun menjadi sekitar 15 euro atau setara Rp 299.514, membuatnya semakin menarik bagi pengguna yang ingin memasang tracker di beberapa barang sekaligus.
Sebagai pembanding, Apple AirTag dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi di pasar Eropa. Perangkat pelacak buatan Apple tersebut dipasarkan di kisaran 35 euro atau sekitar Rp 698.866 per unit.
Perbedaan harga ini membuat Xiaomi Tag tampil sebagai alternatif lebih terjangkau bagi konsumen yang ingin perangkat pelacak pintar dengan harga ekonomis.
Dari sisi spesifikasi, Xiaomi Tag mengandalkan konektivitas Bluetooth 5.4 dan NFC. Perangkat ini menggunakan baterai koin CR2032 sebagai sumber daya.
Xiaomi mengklaim bahwa baterai tersebut mampu bertahan hingga satu tahun penggunaan. Klaim daya tahan baterai satu tahun ini menjadi salah satu nilai jual utama, mengingat pengguna tidak perlu terlalu sering mengganti baterai.
Namun, ada satu fitur penting yang absen dari Xiaomi Tag, yaitu dukungan Ultra Wideband atau UWB. Teknologi UWB dikenal mampu menghadirkan pelacakan yang lebih presisi, terutama dalam jarak dekat, sehingga posisi barang dapat ditemukan dengan lebih detail.
Padahal sebelumnya, rumor yang beredar sempat menyebut bahwa potongan kode dalam sistem operasi HyperOS mengindikasikan adanya dukungan UWB pada perangkat ini. Indikasi tersebut memunculkan ekspektasi bahwa Xiaomi Tag akan hadir dengan fitur pelacakan presisi tinggi.
Namun dalam daftar spesifikasi resmi yang tercantum di toko ritel Eropa, dukungan UWB tidak ditemukan. Artinya, Xiaomi Tag saat ini sepenuhnya mengandalkan koneksi Bluetooth untuk kebutuhan pelacakan.
Meski demikian, untuk penggunaan sehari-hari seperti melacak kunci, tas, atau dompet, koneksi Bluetooth dinilai sudah cukup memadai. Memang, tingkat presisinya tidak seakurat UWB saat mencari posisi barang secara detail di dalam ruangan, tetapi tetap fungsional untuk pelacakan umum.
Sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Gizchina, absennya teknologi UWB pada Xiaomi Tag diperkirakan berkaitan dengan dua kemungkinan, yaitu soal strategi penerapan harga dan rencana kehadiran model lain di masa mendatang.
Dengan tidak menyertakan fitur UWB, Xiaomi disebut dapat menekan biaya produksi. Langkah ini memungkinkan perusahaan memasarkan Xiaomi Tag dengan harga lebih murah dibandingkan pesaingnya, terutama Apple AirTag yang sudah lebih dulu mendominasi segmen tracker premium.
Kemungkinan lainnya, Xiaomi disebut-sebut tengah menyiapkan varian lain dari perangkat ini. Varian tersebut digadang-gadang akan hadir sebagai versi premium yang dibekali teknologi UWB untuk pelacakan lebih presisi.
Namun hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari Xiaomi terkait rencana peluncuran model premium tersebut. Informasi tersebut masih sebatas spekulasi yang berkembang di kalangan pengamat teknologi.
Menariknya, Xiaomi Tag kompatibel dengan dua ekosistem besar sekaligus. Perangkat ini mendukung Apple Find My untuk pengguna iPhone, serta Google Find Hub bagi pengguna Android.
Dukungan lintas platform ini menjadi keunggulan tersendiri. Pengguna tidak harus terikat pada satu ekosistem tertentu, sehingga fleksibilitas penggunaan menjadi lebih luas.
Dengan kombinasi harga terjangkau, desain ringkas, dukungan Bluetooth 5.4, serta kompatibilitas dengan Apple Find My dan Google Find Hub, Xiaomi Tag hadir sebagai alternatif menarik di pasar alat pelacak pintar.
Meski tanpa UWB, perangkat ini tetap relevan untuk kebutuhan pelacakan barang sehari-hari. Bagi konsumen yang mencari tracker murah dengan fitur esensial dan daya tahan baterai hingga satu tahun, Xiaomi Tag bisa menjadi opsi yang layak dipertimbangkan. (vip)
















