Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Zona E-Nol Jadi Panggung Resital Musik Epilog, Angkat Wajah Budaya Pinggiran Cilacap

Resital musik epilog digelar di zona e nolResital musik epilog digelar di zona e nol

BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Geliat seni di Kabupaten Cilacap memasuki babak baru dengan hadirnya resital musik bertajuk Epilog. Bukan di pusat kota, tapi justru di kawasan pinggiran, Zona E-Nol wilayah Slarang, Kesugihan.

Lokasi ini dipilih sebagai ruang ekspresi terbuka yang menawarkan makna perenungan sekaligus keberpihakan terhadap akses budaya yang lebih merata.

Resital Epilog bukan sekadar pertunjukan musik kontemporer biasa. Ini adalah pernyataan tegas bahwa seni tidak harus eksklusif hadir di ruang-ruang kota.

Acara ini menjadi simbol keberanian mengangkat potensi kreatif dari pinggiran, dan menggugah kesadaran bahwa keindahan dan makna tak harus selalu lahir dari pusat kekuasaan budaya.

“Kami ingin seni tidak hanya milik segelintir orang yang punya akses ke kota. Epilog adalah cara kami menunjukkan bahwa keindahan, ekspresi, dan refleksi juga tumbuh di pinggiran,” ujar Daryono Yunani, salah satu penggagas acara, Selasa (10/6).

Menurut Daryono, Kabupaten Cilacap selama ini lebih dikenal sebagai kota industri. Namun di balik identitas itu, tersimpan kekayaan budaya yang belum sepenuhnya terangkat. Ia menilai, masih ada ketimpangan besar dalam distribusi akses seni dan budaya antara pusat kota dan wilayah pinggiran.

Epilog dirancang sebagai bentuk kritik sekaligus perayaan—menggabungkan musik kontemporer dengan narasi-narasi keseharian warga di sekitar Zona E-Nol.

Melalui pendekatan ini, pesan sosial, ekonomi, hingga budaya diangkat menjadi bagian dari harmoni nada dan kata.

“Jika keadilan bisa dimulai dari panggung kecil di pinggiran kota, maka tugas kita adalah mendukungnya. Seni bukan sekadar hiburan, ia adalah bahasa keadilan. Setiap orang berhak bersuara, dan seni bisa menjadi corongnya,” tegas Daryono.

Pentas Epilog bukan hanya menjadi wadah pertunjukan, tapi juga alat penyampai pesan bahwa seni adalah hak semua orang—bukan hak istimewa segelintir pihak yang memiliki akses.

Dengan melibatkan komunitas lokal dan seniman independen, acara ini menciptakan ruang kolaborasi yang organik dan inklusif.

Dukungan dari masyarakat sekitar terhadap kegiatan ini cukup besar. Antusiasme tumbuh seiring dengan kesadaran bahwa wilayah pinggiran pun mampu menyuguhkan pertunjukan yang artistik dan reflektif.

Kegiatan seperti ini memperkuat narasi bahwa kesenian bisa hadir di mana saja, bahkan di tempat-tempat yang seringkali luput dari perhatian.

“Pertunjukan kesenian berada di wilayah kota, ternyata setelah saya lihat potensinya di sini tidak kalah. Sehingga untuk pemerataan jadi tidak hanya di kota saja,” ungkap Daryono lagi, menyoroti perlunya distribusi budaya yang lebih adil.

Epilog dijadwalkan akan digelar Sabtu, 14 Juni 2025, di Planet X Cafe, Slarang, Kesugihan. Acara ini terbuka untuk umum dan menjadi salah satu titik awal baru dalam peta persebaran kegiatan seni di Cilacap.

Dengan momentum ini, diharapkan kesenian lokal tidak lagi hanya tumbuh di pusat-pusat kota, tetapi juga berkembang subur di pinggiran, sebagai ekspresi jujur dari kehidupan masyarakat yang lebih luas.

Pertunjukan ini juga membawa misi jangka panjang: menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa kebudayaan adalah fondasi yang dapat menyatukan, membangun, dan mengangkat identitas lokal. (ray/stch)

Berita Sebelumnya
Pilih berdamai dengan hujatan

Sering Dihujat soal Asmara, Gisel: Hidup Bukan Tentang Masa Lalu

Berita Selanjutnya
Pembagian pot babak 4 kualifikasi piala dunia

Timnas Indonesia Masuk Pot 3 Kualifikasi Babak 4, Qatar dan Irak Jadi Lawan Potensial