BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Ekosistem mangrove di Kabupaten Cilacap, yang terletak di pesisir selatan Jawa Tengah, memegang peranan vital dalam menjaga keseimbangan lingkungan pesisir.
Namun, kelestariannya saat ini dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari tekanan aktivitas manusia, alih fungsi lahan, hingga dampak perubahan iklim yang semakin nyata.
Menyadari pentingnya mangrove sebagai benteng alami terhadap abrasi serta penopang keanekaragaman hayati laut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cilacap terus memperkuat upaya pelestarian dan rehabilitasi kawasan pesisir.
Kepala DLH Cilacap, Sri Murniyati, mengungkapkan bahwa pemerintah daerah menargetkan program penanaman mangrove secara masif pada tahun 2025.
“Ditargetkan, penanaman pohon di Kabupaten Cilacap pada tahun 2025 nantinya dapat tertanam sebanyak 176.340 batang bibit mangrove dan vegetasi pantai,” kata Sri Murniyati, Selasa (10/6).
Langkah ini merupakan bagian dari komitmen Cilacap dalam mendukung program nasional rehabilitasi mangrove serta memperkuat ketahanan wilayah pesisir dari dampak abrasi dan krisis iklim.
Menurutnya, penanaman mangrove akan difokuskan pada kawasan-kawasan yang mengalami degradasi ekosistem dan dinilai masih memiliki potensi besar untuk dipulihkan secara ekologis.
“Penanaman akan difokuskan pada kawasan-kawasan yang mengalami degradasi dan memiliki potensi untuk dipulihkan,” tambahnya.
Berdasarkan Peta Mangrove Nasional tahun 2024, luas kawasan mangrove di Kabupaten Cilacap mencapai 9.307,247 hektare.
Dari angka tersebut, mangrove lebat mendominasi dengan luasan mencapai 8.836,754 hektare. Sementara itu, mangrove dengan kerapatan sedang tercatat seluas 362,699 hektare, dan mangrove jarang seluas 107,794 hektare.
“Kondisi ini menunjukkan sebagian besar kawasan mangrove di Cilacap masih tergolong dalam kondisi baik dan berfungsi optimal sebagai penyangga ekosistem pesisir, pelindung abrasi, serta habitat bagi berbagai jenis biota laut,” jelas Sri Murniyati.
Namun demikian, tekanan dari alih fungsi lahan dan meningkatnya aktivitas pesisir terus menjadi ancaman nyata yang harus dihadapi dengan pendekatan kolaboratif.
Oleh karena itu, DLH Cilacap tidak hanya bergerak secara struktural, tetapi juga mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga ekosistem ini.
Sri Murniyati menyampaikan bahwa partisipasi masyarakat pesisir, dunia usaha, dan lembaga swadaya masyarakat sangat penting dalam keberhasilan jangka panjang rehabilitasi mangrove.
Kolaborasi lintas sektor dianggap sebagai pendekatan terbaik untuk menjadikan hutan mangrove sebagai bagian yang terintegrasi dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar pesisir.
“Kami mengajak keterlibatan aktif masyarakat pesisir, dunia usaha, serta lembaga swadaya masyarakat dalam menjaga dan merawat ekosistem mangrove,” ungkapnya.
Dengan pendekatan partisipatif tersebut, diharapkan kawasan mangrove Cilacap tidak hanya pulih secara ekologis, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat.
Selain menjadi pelindung alami dari ancaman abrasi dan intrusi air laut, kawasan ini juga berpotensi besar sebagai sumber ekowisata berbasis konservasi yang berkelanjutan.
Langkah strategis Cilacap dalam menjaga ekosistem pesisir melalui rehabilitasi mangrove juga mendukung target pengurangan emisi karbon, yang semakin relevan dalam konteks perubahan iklim global. Mangrove dikenal sebagai salah satu penyerap karbon paling efektif dan menjadi aset penting dalam mitigasi krisis iklim.
Dengan jumlah target penanaman hingga ratusan ribu batang bibit, kawasan pesisir Cilacap berpeluang menjadi contoh nasional dalam tata kelola mangrove yang baik.
Keberhasilan program ini tidak hanya akan memperkuat ketahanan ekologis wilayah pesisir, tetapi juga mendorong terbentuknya kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga lingkungan hidup. (ray/stch)
















