BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Di tengah tantangan kesehatan yang menghadapi masyarakat, Balai Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Kecamatan Sumpiuh mencatat dengan serius peningkatan angka stunting di wilayah tersebut.
Hingga April 2026, tercatat sebanyak 144 bayi usia di bawah dua tahun (baduta) masuk dalam kategori pendek dan sangat pendek, atau yang dikenal dengan istilah stunted.
Kondisi ini tidak hanya menjadi sorotan lokal, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran mendalam karena berpotensi memengaruhi pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, serta kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Dari total 144 baduta yang teridentifikasi, sebanyak 116 bayi berada dalam kategori pendek, sementara 28 lainnya tergolong sangat pendek.
Situasi ini memicu berbagai pihak untuk segera mengambil langkah-langkah pencegahan yang komprehensif dan berkelanjutan di Kecamatan Sumpiuh.
Kesadaran akan pentingnya menangani masalah stunting menggugah semangat kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai lembaga terkait.
Sebagai upaya awal pencegahan stunting di wilayah tersebut, Kecamatan Sumpiuh meluncurkan gerakan orang tua asuh cegah stunting serta program shodaqoh stunting.
Program ini bertujuan untuk mengajak masyarakat luas berpartisipasi aktif dalam menjaga kesehatan ibu hamil dan balita.
Koordinator PLKB Kecamatan Sumpiuh Susanti Dewi Hendriyati mengungkapkan bahwa inisiatif ini merupakan langkah penting dalam menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan generasi penerus.
“Gerakan orang tua asuh dan shodaqoh stunting sebagai upaya menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan ibu hamil dan anak balita,” jelas Susanti Dewi Hendriyati pada Rabu (10/6).
Dengan melibatkan perorangan, organisasi, komunitas, hingga lembaga-lembaga yang peduli terhadap kesehatan ibu dan anak, program ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi para baduta.
Saat ini terdapat lima desa dan satu kelurahan di Kecamatan Sumpiuh yang telah aktif menjalankan program orang tua asuh dan shodaqoh stunting.
Desa Nusadadi menjadi anggota terbaru sejak tahun 2026, menandakan komitmen bersama dalam menciptakan generasi sehat dan berkualitas.
Musrifah Tohir selaku Kasi Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Kecamatan Sumpiuh menjelaskan bahwa program shodaqoh stunting di Desa Nusadadi merupakan hasil kerja sama antara pemerintah desa, kader kesehatan, dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Kolaborasi ini sangat penting agar bantuan dapat tersalurkan dengan tepat kepada keluarga-keluarga yang memiliki ibu hamil serta baduta yang terindikasi berisiko mengalami stunting.
“Shodakoh stunting berupa telur ayam satu kilogram untuk baduta terindikasi stunted. Uangnya dari sumbangan para kader dan telornya diambilkan dari ternak ayam BUMDes Nusadadi,” rinci Musrifah.
Langkah pencegahan stunting bukan hanya dilakukan di tingkat desa dan kelurahan saja.
Pemerintah Kecamatan Sumpiuh juga secara aktif berperan sebagai orang tua asuh serta menjalankan program shodaqoh stunting bersama dinas terkait, pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), serta berbagai pihak lainnya yang turut peduli dengan kesehatan anak-anak balita.
Semakin banyaknya pihak yang terlibat dalam gerakan pencegahan stunting ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas upaya penanganan masalah gizi buruk pada baduta.
Kesadaran kolektif ini tidak hanya berdampak langsung pada kesehatan anak-anak saat ini, tetapi juga akan berkontribusi pada pencapaian tujuan jangka panjang negara dalam menciptakan generasi emas Indonesia pada tahun 2045 dengan kualitas kesehatan yang lebih baik.
Dengan latar belakang data yang menunjukkan tingginya angka stunting di wilayah tersebut, sangat penting bagi seluruh elemen masyarakat untuk bersatu padu menghadapi tantangan ini. (fij/stch/dda)














