Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Mario Suryo Aji Ungkap Pernah Ditawari ke MotoGP oleh Honda Team Asia
Mengenal Suliha: Perajin Sulam Kristik Sokaraja Banyumas yang Mengukir Seni Selama Puluhan Tahun

Mengenal Suliha: Perajin Sulam Kristik Sokaraja Banyumas yang Mengukir Seni Selama Puluhan Tahun

Setia Menyulam Kesabaran, Saat Gawai Merebut PerhatianSetia Menyulam Kesabaran, Saat Gawai Merebut Perhatian
SULAM: Suliha, warga Desa Karangrau, Kecamatan Sokaraja, Banyumas, menyelesaikan karya kristik di rumahnya, Rabu (10/6)

BANYUMASEKSPRES.ID, Di tengah kesibukan masyarakat modern yang sering kali terjebak dalam layar ponsel, Suliha memilih untuk menghabiskan waktu luangnya dengan merangkai benang demi benang menjadi karya seni yang memikat.

Warga RT 07 RW 03 Desa Karangrau, Kecamatan Sokaraja, Banyumas ini telah menekuni seni kristik selama lebih dari dua dekade.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang berkarya, tetapi juga cara bagi Suliha untuk mempertahankan produktivitas di tengah rutinitas rumah tangga yang padat.

Dalam suasana tenang di teras rumahnya yang teduh, Suliha tampak khusyuk menyulam selembar kain khusus.

Dengan jarum kecil yang bergerak perlahan, ia menganyam ribuan tusukan benang warna-warni hingga membentuk gambar sebuah masjid.

Proses tersebut tidak hanya memerlukan ketelitian, tetapi juga kesabaran tinggi. Bagi Suliha, seni kristik bukan sekadar hobi, melainkan sebuah bagian integral dari kehidupannya sejak tahun 2000.

Ia mengungkapkan bahwa seluruh keterampilan yang dimiliki diperoleh secara otodidak, jauh sebelum internet dan media sosial memberi akses mudah untuk belajar.

“Saya belajar sendiri. Dulu belum ada YouTube, belum ada Android,” ujarnya dengan bangga.

Ketelatenan adalah modal utama dalam dunia kristik bagi Suliha. Untuk menyelesaikan satu karya berupa gambar masjid yang kini tengah dikerjakannya, ia membutuhkan waktu sekitar dua bulan.

Dalam kesehariannya, ia biasanya menyempatkan diri untuk berkarya setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumah tangga. Suliha mengungkapkan pandangannya tentang kegiatan ini.

“Berkarya jauh lebih bermanfaat dibanding menghabiskan waktu tanpa aktivitas yang jelas,” katanya.

Ia merasakan ketenangan dan kepuasan tersendiri saat melihat hasil karyanya selesai.

Meski perjalanan panjangnya menekuni seni ini sempat terhenti beberapa kali akibat berbagai alasan seperti kehamilan dan pengasuhan anak-anak, kini ketika waktu luangnya lebih banyak, kecintaannya terhadap seni kristik kembali hidup.

Suliha masih mengenang momen saat ia menghasilkan karya pertamanya ketika hamil anak pertama.

Saat itu, ia hanya menggunakan sekitar sepuluh warna benang wol sederhana. Kini, tingkat kerumitan karyanya semakin meningkat.

Untuk menciptakan gambar masjid yang sedang dikerjakannya saat ini, ia membutuhkan sedikitnya dua puluh satu warna benang berbeda agar detail dan gradasi pada karyanya lebih hidup dan menarik perhatian.

Tidak hanya soal kreativitas, namun aspek finansial juga menjadi pertimbangan dalam setiap proyek seni yang dilakukan Suliha.

Biaya untuk seluruh bahan yang digunakan—mulai dari kain khusus hingga benang dan jarum—mencapai sekitar Rp145 ribu.

Meskipun demikian, bagi Suliha nilai sebuah karya tidak selalu dapat diukur dari harga jualnya.

“Belum pernah dijual, buat sendiri saja dipajang di rumah,” katanya sambil tersenyum penuh kebahagiaan.

Di tengah era serba instan dan digital saat ini, pilihan Suliha untuk tetap setia pada seni kristik menghadirkan cerita sederhana namun berharga tentang kesabaran dan dedikasi.

Setiap karya yang terpajang di dinding rumahnya adalah simbol bahwa waktu luang bisa dimanfaatkan menjadi sesuatu yang indah dan bermakna.

Keberadaan Suliha sebagai perajin sulam kristik di Sokaraja memberikan gambaran betapa pentingnya menjaga warisan budaya melalui keterampilan tradisional seperti ini.

Dalam setiap goresan jarumnya terdapat nilai-nilai estetika dan tradisi yang perlu dilestarikan oleh generasi mendatang.

Dengan semakin meningkatnya minat masyarakat terhadap produk handmade dan kerajinan lokal, harapan agar seni kristik seperti yang ditekuni oleh Suliha mendapat tempat di hati masyarakat juga semakin besar. (zet/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Sempat Punya Peluang Ikut MotoGP

Mario Suryo Aji Ungkap Pernah Ditawari ke MotoGP oleh Honda Team Asia