BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Ancaman pergerakan tanah yang mengintai Desa Ketanda, Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas, menempatkan ratusan warga dalam kondisi darurat.
Situasi ini mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas untuk segera memindahkan 210 jiwa dari 67 kepala keluarga yang terdampak.
Hingga saat ini, 42 rumah telah dilaporkan mengalami kerusakan signifikan, membuat evakuasi menjadi prioritas utama guna menghindari risiko longsor lanjutan.
Kepala Pelaksana BPBD Banyumas, Dwi Irawan Sukma, menjelaskan bahwa kapasitas pengungsian yang tersedia saat ini masih belum memadai.
“Aula Kantor Desa Ketanda belum mampu menampung seluruh warga terdampak,” ungkapnya saat ditemui di lokasi bencana pada Minggu (23/11).
Dari data yang ada, baru 41 jiwa yang berhasil dievakuasi ke aula desa dan 15 jiwa lainnya berlindung di rumah warga sekitar. Artinya, masih ada sekitar 154 jiwa yang belum meninggalkan rumah mereka.
“Rencana kami adalah menambah dua tempat pengungsian baru. Saat ini kami tengah mempersiapkan sarana dan prasarana untuk warga terdampak yang belum mengungsi,” lanjut Irawan.
Setiap kali hujan turun, warga yang masih bertahan akan segera dievakuasi ke aula desa demi keselamatan mereka.
Pergerakan tanah masih terjadi dan situasi dinilai belum aman bagi warga untuk tetap tinggal di rumah mereka.
Di tengah kondisi darurat ini, gerakan solidaritas dari berbagai elemen masyarakat muncul dengan cepat. Komunitas Motor Banyumas (Kombas) bersama sejumlah komunitas motor lainnya seperti Mobar, Vespa Maci, MMB dan Mobar Pitung turut berpartisipasi dalam aksi kemanusiaan ini.
Tidak hanya komunitas motor, Dharma Wanita Kabupaten Banyumas, Bank Jateng, PDAM serta perusahaan swasta seperti 8888 juga ikut memberikan dukungan.
Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setda Banyumas, Junaidi menyampaikan bahwa aksi peduli ini dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Banyumas, Agus Nur Hadie.
“Kami turun ke lokasi bencana sekaligus menyalurkan bantuan untuk dapur umum dan kebutuhan dasar warga,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Banyumas juga bergerak cepat dalam menangani bencana ini secara komprehensif.
“Bupati sudah memerintahkan kepada kami untuk penanganan secara menyeluruh dengan mengajukan permohonan hunian sementara (huntara) maupun hunian tetap (huntap),” jelas Junaidi.
Hasil tinjauan di lapangan menunjukkan sebagian besar rumah warga mengalami kerusakan berat dan tidak layak huni.
Kondisi morfologi wilayah yang bergelombang meningkatkan risiko pergerakan tanah lebih lanjut.
“Kami tidak ingin ada korban jiwa akibat bencana tanah bergerak di sini,” tegas Junaidi seraya berharap bantuan yang disalurkan dapat meringankan beban warga yang terpaksa meninggalkan rumah mereka dalam kondisi darurat.
Bantuan dari komunitas motor dan pihak lain meliputi kebutuhan dapur umum seperti sembako pakaian layak pakai selimut karpet serta logistik pendukung lainnya.
Dukungan ini sangat diharapkan dapat membantu para pengungsi menghadapi masa sulit ini.
Di sisi lain Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Dinperkim) Kabupaten Banyumas juga telah menyiapkan skema penanganan jangka panjang melalui relokasi penduduk dari area rawan bencana tersebut.
Kepala Bidang Pengembangan Perumahan Dinperkim Nur Hadi Kurniawan menyebutkan dua opsi yang tengah dipertimbangkan pemerintah untuk solusi jangka panjang.
“Opsi pertama adalah menyiapkan lahan dalam satu komunitas sedangkan opsi kedua adalah memberikan bantuan bagi mereka untuk mencari lahan-lahan aman,” jelas Nur Hadi.
Setelah lahan ditentukan Dinperkim bersama BPBD akan melakukan survei lokasi guna memastikan keselamatan sebelum pembangunan hunian tetap dimulai.
“Tujuan utama kami adalah agar masyarakat tidak lagi tinggal di daerah yang rawan bencana,” pungkas Nur Hadi optimis.
Upaya-upaya tersebut memperlihatkan sinergi antara pemerintah komunitas lokal dan berbagai organisasi dalam menghadapi ancaman alam sekaligus memastikan keamanan serta kesejahteraan warga Desa Ketanda selanjutnya.
Dalam situasi darurat semacam ini solidaritas dan langkah-langkah proaktif menjadi kunci utama dalam menjaga keselamatan masyarakat dari ancaman bencana alam yang tak terduga. (fij/bay/dda)
















