Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

99 Topeng Gagrak Wonosobo Dipamerkan di Balai Kampung Seni Sruni Wonosobo

99 topeng gagrak wonosobo dipamerkan99 topeng gagrak wonosobo dipamerkan
Sebanyak 99 topeng dipamerkan dalam Pameran Topeng yang digelar di Balai Kampung Seni Sruni, Kelurahan Jaraksari, Wonosobo.

BANYUMASEKSPRES.ID, WONOSOBO – Sebuah pameran yang menyoroti kekayaan seni tradisional digelar di Balai Kampung Seni Sruni, Kelurahan Jaraksari, Wonosobo.

Pameran Topeng ini berlangsung dari Minggu (27/7) hingga Sabtu (2/8), menghadirkan sebanyak 99 topeng yang dikenal sebagai Gagrak Wonosobo.

Acara ini tidak hanya menampilkan topeng secara visual, tetapi juga mengedepankan sisi edukatif dan filosofi mendalam dari seni topeng tradisional.

Bondet Lukistyo Adi Wibowo, penyelenggara acara sekaligus penggiat seni lokal, menjelaskan bahwa pameran ini bertujuan mengenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat luas, terutama generasi muda agar lebih mengenal dan menghargai seni Wonosobo.

“Kita kenalkan ke masyarakat, mengenai Topeng Gagrak Sruni, sekaligus makna atau filosofinya,” ungkap Bowo kepada Banyumas Ekspres.

Salah satu daya tarik utama dari Topeng Gagrak Seseruni yang dipamerkan adalah gaya ukirannya yang unik dan berkembang seiring waktu.

Jika dahulu ukiran didominasi oleh bentuk lancip-lancip khas gaya lama, kini telah berkembang menjadi lebih naturalis.

“Ciri khasnya ada pada ukiran topeng. Gagrak Seseruni ini mengembangkan bentuk ukiran. Jika yang dulu hanya lancip-lancip, sekarang bentuknya lebih naturalis,” jelas Bowo.

Pameran ini juga mengedepankan nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam setiap karya seni topeng tersebut.

Salah satu ungkapan dalam bahasa Jawa yang menjadi pusat perhatian adalah “Tutuping Pangroso, Batesing Paningal“. Ungkapan ini memiliki filosofi mendalam tentang keterbatasan indrawi dalam seni tari topeng.

“Tutuping Pangroso berarti rasa yang ditutupi oleh kayu, sehingga tidak menyentuh atau bahkan bila menyentuh pun tidak terasa. Sedangkan Batesing Paningal dimaknai sebagai batas dari penglihatan yang hanya sebatas apa yang tampak oleh mata,” terangnya lebih lanjut.

Dalam konteks seni tari topeng seperti Topeng Lengger, keterbatasan penglihatan bukan menjadi halangan melainkan bagian dari estetika tarian itu sendiri.

Gerakan tubuh serta interpretasi ekspresi menjadi sarana utama untuk menyampaikan pesan kepada penonton.

Pameran ini merupakan inisiatif pertama yang diselenggarakan secara mandiri oleh komunitas seni setempat dan diharapkan dapat membuka jalan bagi acara serupa di masa depan dengan skala yang lebih besar dan jangkauan lebih luas.

“Kami berharap pameran ini mampu menarik perhatian pelaku seni, penari, hingga masyarakat umum agar lebih mengenal dan mencintai seni topeng tradisional,” pungkas Bowo penuh harap.

Dengan demikian melalui Pameran Topeng Gagrak Wonosobo ini diharapkan masyarakat dapat memahami dan meresapi kekayaan budaya lokal serta menjadikannya sebagai bagian penting dari identitas budaya mereka sendiri. Upaya ini juga diharapkan dapat memupuk kecintaan generasi muda terhadap warisan seni tradisional Indonesia. (*/stch)

Berita Sebelumnya
Kur bni 2025

Cara Mengajukan Pinjaman KUR BNI 2025 dengan Bunga Subsidi

Berita Selanjutnya
Hasil perkebunan dilirik pengusaha mancanegara

Hasil Perkebunan Melon Premium Petani Muda Kebumen Dilirik Pengusaha Mancanegara