BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Pada Minggu, 22 Februari, bencana angin puting beliung melanda Kecamatan Cilongok dengan dampak yang sangat merusak, terutama bagi SD Negeri 1 Sambirata yang terletak di Desa Sambirata.
Kejadian ini mengakibatkan kerusakan parah pada fasilitas sekolah dan memaksa pihak sekolah untuk menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar secara tatap muka.
Hal ini menjadi berita penting bukan hanya bagi masyarakat lokal tetapi juga bagi berbagai kalangan yang peduli terhadap pendidikan dan keselamatan siswa.
Kejadian tersebut berawal sekitar pukul 14.30 WIB saat aktivitas sekolah belum dimulai.
Hujan deras disertai angin kencang tiba-tiba muncul, seperti yang diungkapkan oleh Slamet, penjaga sekolah.
“Dalam kondisi hujan deras, tiba-tiba muncul angin puting beliung yang mengarah langsung ke sekolah,” ujarnya kepada awak media.
Situasi ini begitu mendesak sehingga Slamet tidak sempat berbuat banyak sebelum angin menghantam bangunan sekolah dengan keras.
Angin puting beliung itu datang dengan kecepatan tinggi dan menerjang bangunan tanpa jeda.
Genteng-genteng beterbangan, plafon plafon runtuh, sementara kaca jendela pecah membuat Slamet bergegas menyelamatkan diri dari reruntuhan bangunan.
Setelah situasi sedikit mereda, ia segera berkoordinasi dengan para guru serta warga setempat untuk melakukan langkah-langkah awal dalam menghadapi bencana ini.
Sekitar pukul 15.00 WIB, pihak sekolah bersama dengan warga mulai mengamankan barang-barang penting serta melakukan pendataan awal kerusakan yang terjadi.
Kepala SDN 1 Sambirata, Heri Wijiarto, membenarkan bahwa hampir seluruh area sekolah terdampak oleh bencana ini.
“Kerusakan terjadi di sejumlah ruang kelas, dapur, perpustakaan, dan fasilitas sekolah lainnya,” tegasnya.
Lebih lanjut Heri menjelaskan rincian kerusakan yang cukup signifikan. Ruang kelas 1A, 1B, dan 1C mengalami kerusakan pada genteng akibat terjangan angin kencang.
Untuk ruang kelas 2A dan 2B, plafon mengalami kerusakan sehingga tidak lagi aman untuk digunakan oleh siswa.
Ruang kelas 3A dan 3B juga mengalami kerusakan parah; atapnya rusak dan kaca jendelanya pecah oleh terjangan angin.
Kondisi serupa juga dialami ruang kelas lainnya seperti ruang kelas 4 dan 5 yang memiliki tingkat kerusakan cukup signifikan.
Ruang guru pun tidak luput dari bencana ini; sejumlah arsip penting basah terkena air hujan yang masuk melalui atap yang rusak.
Perpustakaan yang juga difungsikan sebagai Unit Kesehatan Sekolah (UKS) mengalami kebocoran parah dan pagar sekolah tertimpa pohon tumbang akibat angin kencang.
“Kerusakannya memang cukup parah,” tutur Heri menambahkan informasi mengenai dampak bencana ini.
“Ruang perpustakaan yang juga difungsikan sebagai UKS mengalami kebocoran dan pagar sekolah juga ketimpa pohon tumbang.”
Tentu saja, semua kerusakan ini menjadi alasan utama bagi pihak sekolah untuk mengosongkan area pendidikan demi keselamatan siswa.
Dalam upaya pemulihan pascabencana tersebut, pihak sekolah telah mengambil langkah-langkah penting dengan menggandeng warga serta pemerintah setempat untuk membersihkan puing-puing sisa bencana.
Proses pembersihan puing masih berlangsung hingga saat ini disertai dengan pendataan kerugian material secara rinci agar semua hal dapat ditangani dengan baik.
Menghadapi situasi darurat ini, pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas memberikan arahan agar kegiatan belajar mengajar dialihkan menjadi pembelajaran jarak jauh (daring) untuk sementara waktu.
Hal ini dilakukan demi menjaga keselamatan siswa sekaligus memastikan bahwa proses pembelajaran tetap berjalan meskipun dalam keadaan darurat.
“Kami berharap perbaikan segera terealisasi agar siswa bisa kembali belajar dengan aman dan nyaman di ruang kelas mereka,” ungkap Heri sebagai harapan akan masa depan pendidikan di SDN 1 Sambirata pasca bencana alam tersebut.
Seiring berjalannya waktu, proses pemulihan akan terus berlangsung sambil menunggu bantuan dari instansi terkait untuk merehabilitasi fasilitas-fasilitas pendidikan yang rusak.
Masyarakat setempat juga menunjukkan kepedulian tinggi terhadap kondisi pendidikan anak-anak mereka; dukungan dari orang tua siswa sangat dibutuhkan selama masa transisi menuju pembelajaran daring.
Dalam konteks lebih luas, kejadian bencana alam seperti angin puting beliung ini merupakan pengingat bagi kita tentang pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana serta perlunya infrastruktur yang tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan perlu mendapatkan perhatian serius dalam hal pembangunan fisik serta perencanaan tata ruang yang berbasis mitigasi bencana agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Pihak berwenang diharapkan dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap infrastruktur bangunan sekolah di daerah rawan bencana guna memastikan bahwa keamanan siswa senantiasa menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan pembangunan.
Adalah tanggung jawab bersama untuk menjamin bahwa setiap anak memiliki akses ke lingkungan belajar yang aman dan kondusif.
Dengan langkah-langkah cepat dan tepat dari semua pihak terkait, diharapkan SDN 1 Sambirata dapat segera pulih dari dampak bencana ini dan melanjutkan tugas mulia dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan berkualitas bagi generasi penerus bangsa. (yda/stch/dda)
















