BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Pemerintah Kabupaten Kebumen terus berupaya memberikan perlindungan dan pendampingan kepada anak-anak yang menjadi korban dari tragedi tragis yang terjadi di Kecamatan Buayan.
Salah satu anak, berinisial AW (7), kini mendapatkan perhatian khusus setelah ibunya, AA (44), dan adiknya, AT (5), ditemukan meninggal dunia di rumah mereka pada Selasa malam, 6 Januari.
Kejadian ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat sekitar.
AW kini tinggal bersama paman dan bibinya setelah berhasil selamat dari nasib tragis tersebut.
Menurut informasi yang dihimpun oleh Banyumas Ekspres, AW sempat diajak oleh ibunya untuk melakukan tindakan yang sama namun menolak dan memilih melarikan diri keluar rumah untuk memberi tahu pamannya tentang kejadian mengerikan itu.
Peristiwa ini diduga dipicu oleh tekanan ekonomi yang dialami oleh keluarga tersebut karena suami AA telah merantau selama dua tahun tanpa kabar hingga saat ini.
Arumi Dwi Lestari, Plt Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kebumen, menyatakan bahwa dinasnya telah mengambil langkah-langkah untuk mendampingi AW dengan penuh perhatian.
Berbagai upaya dilakukan untuk memastikan AW mendapatkan perlindungan dan dukungan yang dibutuhkannya.
“Assessment telah dilakukan untuk mengetahui kebutuhan anak serta pendampingan psikologis secara berkala dan bertahap,” ujar Arumi saat berbicara dengan awak media pada Selasa, 13 Januari.
Ia menambahkan bahwa pihaknya terus berupaya agar hak-hak dasar anak seperti pendidikan dan kesehatan terpenuhi.
Pemeriksaan psikiatri juga dilakukan sebagai bagian dari pendekatan holistik terhadap pemulihan kondisi psikologis AW.
Pendampingan yang diberikan tidak hanya terbatas pada AW semata tetapi juga mencakup keluarganya.
Hal ini penting agar keluarga dapat memberikan dukungan yang optimal bagi perkembangan dan pemulihan anak tersebut.
“Untuk mensuport keluarganya, anaknya untuk bisa berkembang menerima keadaan dan tumbuh kembangnya nanti dalam keadaan normal dan sehat,” kata Arumi.
Ketika ditanya mengenai durasi pendampingan yang akan diberikan kepada AW, Arumi menjelaskan bahwa hal tersebut sangat bergantung pada kondisi psikologis sang anak.
Pendampingan akan terus dilakukan secara berkala sesuai dengan kebutuhan agar proses pemulihan berjalan dengan baik.
Lingkungan sekitar pun turut berperan penting dalam mendukung pemulihan AW.
“Anak cenderung bisa menerima karena banyak dukungan. Kita khawatir nanti kalau sendiri dengan paman bibi. Oleh karena itu kita juga pendampingan ke keluarga,” ucap Arumi menambahkan.
Kasus ini menjadi pengingat bagi semua pihak tentang pentingnya memperhatikan kesejahteraan mental dan emosional terutama dalam situasi ekonomi yang sulit.
Dengan adanya dukungan dari pemerintah daerah serta lingkungan sekitar diharapkan AW dapat melalui masa-masa sulit ini dengan baik serta memperoleh kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara sehat.
Tragedi ini menggugah empati banyak orang di Kebumen dan sekitarnya. Keberanian AW dalam menghadapi situasi tersebut patut diapresiasi sekaligus menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak tentang arti penting keluarga dan komunitas dalam menjaga kesehatan mental.
Sebagai bagian dari upaya mencegah kejadian serupa terulang kembali diperlukan kerjasama lintas sektoral dalam meningkatkan kesejahteraan sosial terutama bagi keluarga-keluarga rentan di Kebumen. (mam/stch/dda)
















