BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Bupati Kebumen, Hj Lilis Nuryani, telah menginisiasi sebuah langkah strategis untuk mempromosikan ekonomi lokal dengan mendorong pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar melakukan pembelian bahan baku di pasar tradisional.
Selain itu, Bupati Lilis juga menekankan pentingnya penggunaan bahan pangan lokal dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pesan ini disampaikan Bupati Lilis saat peluncuran program MBG Nglarisi Pasar dan Petani yang berlangsung di halaman Pasar Tumenggungan Kebumen pada Senin (12/1).
Dalam acara tersebut, turut dilakukan penandatanganan surat edaran mengenai program tersebut serta perjanjian kerja sama terkait penyediaan dan pemanfaatan komoditas pertanian lokal guna memenuhi kebutuhan MBG antara kalangan petani dengan yayasan atau koperasi SPPG.
Penandatanganan ini dihadiri oleh Bupati Kebumen Lilis Nuryani dan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hidayana.
Setelah acara tersebut, keduanya menyempatkan diri untuk meninjau pasar dan berbincang dengan para pedagang.
Bupati Lilis menjelaskan bahwa program MBG ini lahir dari keluhan yang disampaikan oleh para pedagang mengenai kondisi pasar yang semakin sepi.
“Kondisi ini tidak bisa dipisahkan dari kehadiran pedagang sayur keliling yang beroperasi di rumah-rumah dan kantor maupun tren belanja online,” ungkap Bupati Lilis.
Oleh karena itu, beliau menegaskan bahwa seluruh SPPG di Kebumen harus aktif berbelanja di pasar tradisional setidaknya seminggu sekali untuk membantu meramaikan kembali pasar-pasar di wilayah Kebumen.
Selain itu, Bupati Lilis juga berkomitmen untuk mendorong penggunaan bahan pangan lokal sebagai bahan baku utama dalam penyediaan MBG.
Langkah ini bukan hanya akan mendukung petani lokal tetapi juga memastikan kualitas gizi yang lebih baik bagi penerima manfaat MBG.
Kepala BGN, Dadan Hidayana, memberikan apresiasi atas inisiatif Bupati Kebumen yang telah mengaitkan program MBG dengan pasar tradisional.
Menurutnya, program ini sangat relevan dengan tujuan utama MBG yaitu investasi dalam sumber daya manusia anak-anak masa depan yang berkualitas.
Dadan menjelaskan bahwa satu SPPG dapat melayani antara 2.000 hingga 3.000 penerima manfaat dan memiliki potensi besar untuk mendorong aspek ekonomi.
Menurut Dadan, setiap SPPG mengelola dana sekitar Rp 10 miliar hingga Rp 11 miliar per tahun.
Dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen dialokasikan untuk pembelian bahan baku, 20 persen untuk biaya operasional, dan 10 persen sisanya untuk insentif investor.
“Pembelian oleh SPPG ini cukup masif per unit SPPG,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa di Kebumen sendiri terdapat sekitar 200 SPPG dengan total dana tahunan mencapai sekitar Rp 2 triliun sehingga diyakini akan mampu menggerakkan perekonomian daerah.
Lebih lanjut, Dadan mengimbau agar seluruh pengelola SPPG bisa turut serta menghidupkan ekonomi lokal dengan cara berkoordinasi bersama koperasi, UMKM, dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Hal ini bertujuan agar bahan baku dapat diambil dari pasar sehingga para pedagang dapat merasakan dampak positif dari implementasi program nasional ini.
“Saya sangat berterima kasih kepada Bupati Lilis yang telah berhasil menghubungkan program MBG dengan pasar,” pungkasnya.
Peluncuran program ini juga mencakup kunjungan ke salah satu SPPG di Kebumen yang terletak di Jalan Ahmad Yani Nomor 108 Kebumen.
Unit layanan tersebut berada di bawah naungan Yayasan Mafatikhul Huda (Yamaha).
Dalam kunjungannya ke SPPG tersebut, Bupati Lilis kembali menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam mendukung keberhasilan program-program kesehatan dan ekonomi seperti MBG Nglarisi Pasar dan Petani.
Program ini tidak hanya menjadi solusi jangka pendek bagi permasalahan sepinya pasar tradisional tetapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi pembangunan SDM unggul melalui pemenuhan gizi yang berkualitas bagi anak-anak penerus bangsa. (mam/dda)
















