Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

“Orongan”, Ciri Khas Layangan dari Kabupaten Kebumen Dapat Julukan “Terompet Malaikat”

Awalnya berbahan bambu, dapat julukan "terompet malaikat"Awalnya berbahan bambu, dapat julukan "terompet malaikat"

BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Bermain layang-layang telah menjadi bagian integral dari budaya di banyak wilayah, termasuk di Indonesia.

Aktivitas ini tidak hanya digemari oleh anak-anak tetapi juga orang dewasa, dan telah menghasilkan berbagai bentuk serta kreasi yang menjadi ciri khas daerah tertentu.

Di Kabupaten Kebumen, misalnya, hampir semua warga menikmati bermain layang-layang.

Dalam beberapa minggu terakhir, langit Kebumen dipenuhi oleh layang-layang yang beraneka ragam bentuk dan coraknya.

Ovin, salah satu pembuat dan perajin layangan di Kebumen, menjelaskan bahwa layangan dengan gaya Jawa Timuran sangat populer di daerah ini.

“Seperti layangan pegon dan ram-raman dengan berbagai variasinya banyak digemari. Tentu lengkap dengan bunyi-bunyiannya berupa sendaren,” ungkapnya pada Rabu (25/6).

Pegon dan ram-raman mengacu pada bentuk ekor layangan. Sedangkan sendaren berfungsi sebagai pemberat di bagian atas layang-layang agar dapat terbang stabil.

Namun, para pelayang di Kebumen memiliki cara unik dalam membuat pemberat tersebut. Mereka menggunakan sesuatu yang disebut “orongan“.

Berbeda dengan sendaren yang terbuat dari bilah bambu melengkung, orongan berbentuk tabung mirip peluit yang bisa dibuat dari bahan limbah seperti kaleng cat bekas atau tabung plastik tebal.

Bagian atas tabung ditutup dengan kayu berlubang kecil agar udara dapat masuk dan menghasilkan suara.

Bunyi yang dihasilkan oleh sendaren dan orongan pun berbeda. Sendaren mengeluarkan suara keras seperti sepeda motor atau air mendidih yang cenderung melengking.

Sementara itu, orongan menghasilkan nada bass berdengung mirip suara terompet.

Yoga, salah satu pelayang dari Kebumen, mengatakan bahwa orongan ini sering dijuluki “terompet malaikat Izrail” oleh orang luar daerah.

Yoga tidak hanya membuat orongan untuk dirinya sendiri tetapi juga menerima pesanan dari orang lain. Membuat orongan memang bukan hal mudah karena cukup rumit, terutama pada bagian tutup kayu tabungnya.

“Kayunya gak boleh tebal agar bisa bunyi. Sudah begitu harus ada lubang seperti peluit. Kalau baru belajar, kayu akan pecah,” jelasnya.

Kerajinan orongan ini ternyata cukup menguntungkan secara ekonomi. Untuk orongan berdiameter 4-5 cm dijual seharga Rp 60-70 ribu, sementara ukuran lebih besar dibanderol minimal Rp 100 ribu.

Dalam satu musim layangan, Yoga bisa menjual hingga 100 biji orongan.

“Makin besar ukurannya makin mahal harganya,” tambah pemuda yang akrab disapa Bugel tersebut.

Di Kecamatan Buluspesantren sendiri terdapat banyak pelayang yang mahir membuat orongan. Karya mereka tersebar luas hingga ke seluruh wilayah Kebumen.

Selain bahan limbah, mereka juga memanfaatkan bambu sebagai bahan utama tabung orongan ini karena konon inilah bahan asli pembuatan orongan tersebut sejak awal mula dikenal.

Penggunaan bambu sebagai bahan utama membuat harga orongan menjadi lebih mahal dibandingkan bahan limbah lainnya, sebagaimana dikatakan oleh Yoga dan diamini oleh Tolek, sesama pelayang dari daerah tersebut.

Mereka berharap tradisi bermain layang-layang termasuk kerajinan orongan khas Kebumen ini terus dilestarikan agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman dan gempuran teknologi seperti ponsel pintar yang semakin menarik perhatian anak-anak saat ini.

“Jangan sampai anak-anak nantinya gak kenal layangan dan tidak tahu orongan asli Kebumen,” kata mereka penuh harap akan kelestarian budaya lokal ini untuk generasi mendatang. (cah/stch)

Berita Sebelumnya
Pkh 2025

Bansos Tahap 2 Cair Sampai Akhir Juni, Ini Cara Cek Penerima Jika Saldo PKH Kosong

Berita Selanjutnya
Playstation plus

Rayakan Ulang Tahun PlayStation Plus ke-15, Sony Tawarkan 3 Game Premium Gratis