BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Derby Ngapak II antara Persibangga Purbalingga dan Persibas Banyumas pada Minggu (18/1/2026) di Stadion Goentoer Darjono menjadi ajang yang penuh emosi, tidak hanya di lapangan tetapi juga hingga ke tribun penonton.
Persibangga berhasil meraih kemenangan telak 4-1 (3-0) atas Persibas, namun ketegangan justru semakin terasa karena kehadiran suporter tim tamu yang semestinya tidak berada di lokasi pertandingan.
Sejumlah pendukung Persibas terlihat memasuki stadion tanpa mengenakan atribut kebanggaan mereka.
Mereka menempati tribun sisi barat bagian selatan dengan berpakaian dominan hitam.
Meskipun tanpa atribut resmi, keberadaan mereka mudah dikenali dari nyanyian dukungan yang terus terdengar hampir sepanjang pertandingan.
Kehadiran mereka jelas melanggar aturan Asprov PSSI Jawa Tengah dan PT Liga Indonesia yang melarang suporter mendukung timnya secara langsung saat laga tandang.
Situasi sempat memanas ketika terjadi aksi saling ejek dengan pendukung tuan rumah yang berada di tribun VIP. Ketegangan ini hampir berujung bentrokan antarsuporter.
Untungnya, kesigapan panitia pelaksana pertandingan dan aparat keamanan dari TNI dan Polri berhasil mencegah bentrokan terbuka.
Sebagai langkah antisipatif, suporter Persibas dikeluarkan terlebih dahulu dari stadion sebelum pendukung tuan rumah meninggalkan area pertandingan.
Media Officer Persibangga, Afianza, mengakui bahwa pihaknya tidak sepenuhnya dapat membendung kehadiran suporter tim tamu.
“Kami tak bisa membendung kehadiran suporter tim tamu karena mereka masuk tanpa atribut,” ujarnya kepada awak media. Ia berharap insiden tersebut tidak berujung sanksi bagi Persibangga.
“Panitia pelaksana pertandingan sudah berusaha semaksimal mungkin melarang pendukung tim tamu masuk ke dalam stadion,” tambahnya.
Setelah pertandingan usai, ketegangan belum sepenuhnya mereda. Sekitar sepuluh menit setelah laga berakhir, Ketua Umum Persibas Banyumas Trisno Sudarso mengalami insiden pelemparan di luar stadion.
“Kena lemparan puing-puing. Hidung lecet, keluar darah sedikit,” ungkap Trisno.
Trisno menjelaskan bahwa insiden tersebut terjadi saat dirinya sedang berjalan menuju area parkir depan stadion. Lemparan berasal dari arah dalam stadion menuju luar.
“Aku lagi di depan stadion mau jalan ke arah parkiran, dari dalam pada melempar ke luar. Padahal yang di luar bisa jadi banyak orang Purbalingga. Saya yakin yang di dalam orang Purbalingga semua,” jelasnya dengan nada kecewa.
Merespons kejadian tersebut, Trisno menyerukan evaluasi dari panitia pelaksana pertandingan agar insiden serupa tidak terulang kembali.
Ia juga membandingkan dengan putaran pertama saat Persibangga bertandang ke Purwokerto yang berlangsung lebih kondusif berkat pengawalan ketat tuan rumah.
“Sangat disayangkan. Saat kemarin Purbalingga ke Purwokerto, kita selaku tuan rumah benar-benar mengawal dan tidak terjadi seperti ini,” ungkapnya.
Meski diliputi kekecewaan akibat kekalahan telak dan insiden pelemparan, Trisno tetap menekankan pentingnya menjaga persaudaraan antara kedua belah pihak di luar lapangan.
“Rivalitas hanya selama 2×45 menit. Setelah itu kita saudara,” ujarnya menekankan solidaritas antarpendukung.
Mengenai hasil pertandingan yang mengecewakan bagi Persibas, Trisno menyebut kekalahan ini sebagai pelajaran berharga bagi timnya agar tidak terlena oleh kemenangan semata.
“Dalam perjalanan apa pun ada kalah dan menang. Justru dengan adanya hal ini menjadi pembelajaran kalau setiap main menang pemain akan jumawa,” tutupnya penuh harap untuk masa depan tim.
Pertandingan Derby Ngapak kali ini seharusnya menjadi perayaan olahraga dengan rivalitas sehat namun sayangnya tercederai oleh insiden-insiden di luar lapangan. (tya/res/stch/dda)
















