Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Desa Sigedang Wonosobo Selamatkan Mata Air dengan Penanaman 1.000 Bibit Kopi

Selamatkan 1.670 Mata AirSelamatkan 1.670 Mata Air
MEDITASI: Para perempuan dari berbagai organisasi, sebelum menanam kopi di sepanjang jalur menuju mata air di Desa Sigedang, Kejajar, Wonosobo

BANYUMASEKSPRES.ID, WONOSOBO – Dataran Tinggi Dieng kini berada dalam situasi yang kritis. Tekanan ekologis yang semakin meningkat mengancam keberadaan 1.670 mata air di wilayah ini, yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat Wonosobo.

Di tengah ancaman ini, gerakan warga lokal tampil sebagai ujung tombak dalam upaya penyelamatan. Desa Sigedang, di Kecamatan Kejajar, menjadi salah satu pusat dari gerakan ini.

Desa yang menjadi pintu masuk ke kawasan Dieng ini menggagas aksi pemulihan mata air dengan melibatkan berbagai kelompok perempuan dan komunitas lingkungan.

Aksi mereka diwujudkan melalui penanaman seribu bibit kopi di jalur menuju salah satu sendang, sebuah sumber air penting yang kini berada dalam pengawasan ketat.

Langkah ini merupakan bagian dari gerakan yang diprakarsai oleh Samitra Lingkungan bersama Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup Indonesia (BPDLH).

Gerakan tersebut menekankan bahwa penyelamatan mata air harus dimulai dari hulu dengan menjaga vegetasi dan ruang resapan air. Hal ini lebih efektif dibandingkan hanya memperbaiki infrastruktur di hilir.

Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Wonosobo, Endang Lisdyaningsih, kondisi mata air di kabupaten tersebut sebenarnya masih cukup baik. Namun tanpa intervensi nyata, jumlah mata air dapat berkurang drastis.

“Pada musim kemarau 2025, kami mendata 1.670 mata air yang masih aktif. Menanam pohon minimal 200 meter di atas titik mata air adalah langkah paling efektif untuk menjaga debitnya,” jelasnya.

Penanaman kopi di Desa Sigedang dilakukan di area yang terhubung langsung dengan aliran ke sendang.

Pohon kopi dipilih bukan hanya karena fungsinya secara ekologis sebagai penahan erosi tetapi juga karena dapat memberikan manfaat ekonomi jangka panjang bagi warga setempat.

Ketua PAC Fatayat NU Kejajar, Umi Amkhudloh, menegaskan bahwa kesiapsiagaan masyarakat untuk menyelamatkan mata air tidak bisa lagi ditunda.

“Saat mata air melemah, dampaknya langsung dirasakan warga. Air bukan hanya kebutuhan rumah tangga tetapi juga pertanian. Penanaman pohon seperti ini adalah investasi masa depan,” ujarnya dengan nada penuh semangat.

Direktur Samitra Lingkungan, Rumiyati menambahkan bahwa aksi di Sigedang merupakan tindak lanjut dari rekomendasi Kongres Mata Air yang diselenggarakan pada Agustus 2025.

Salah satu rekomendasinya adalah pemulihan dan pendataan kawasan mata air melalui gerakan masyarakat.

Penyadaran akan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam penyelamatan 1.670 mata air sangat diperlukan agar langkah-langkah konkret dapat diambil bersama.

“Air tidak bisa menunggu,” tegas Rumiyati.

“Jika kita hanya mengandalkan pemerintah, langkah penyelamatan tidak akan secepat kerusakan yang terjadi saat ini. Gerakan warga seperti inilah yang menjadi kunci utama.”

Kegiatan penanaman kopi oleh para perempuan dari berbagai organisasi sebelum menuju lokasi penanaman menunjukkan betapa serius dan terorganisirnya aksi ini.

Perempuan-perempuan ini datang dengan semangat untuk berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus memperjuangkan masa depan generasi mendatang.

Gerakan warga seperti yang terjadi di Sigedang menunjukkan bahwa ketika masyarakat bergandengan tangan untuk tujuan bersama, hasilnya bisa sangat signifikan dan berdampak luas.

Bagi para warga Desa Sigedang dan sekitarnya, keberhasilan menyelamatkan mata air tidak hanya berarti tersedianya pasokan air bersih tetapi juga memastikan kelangsungan hidup ekonomi berbasis pertanian yang sangat bergantung pada ketersediaan air.

Selain itu tindakan penanaman pohon kopi di sekitar mata air juga menunjukkan bahwa kelestarian lingkungan dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal.

Dengan menjadikan tanaman kopi sebagai pilihan utama dalam program penghijauan mereka tidak hanya mempertahankan fungsi ekologis daerah tetapi juga menciptakan peluang ekonomis baru bagi penduduk setempat.

Keberhasilan inisiatif seperti ini juga memiliki potensi untuk dijadikan model bagi daerah lain di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa terkait kelestarian sumber daya alam khususnya sumber daya air bersih.

Sementara itu pemerintah daerah diharapkan mampu memberikan dukungan fasilitatif agar gerakan-gerakan akar rumput semacam ini dapat terus berkembang dan memberikan dampak positif lebih luas lagi ke depannya. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Regrouping SD Nihil Tahun Ini

Dindik Banyumas Batalkan Kebijakan Regrouping SD Tahun 2025, Pertimbangkan Jarak dan Aksesibilitas

Berita Selanjutnya
Buka Rekening hi Nabung Kini Makin Mudah Melalui Aplikasi

Cara Buka Tabungan hi Nabung Lewat Aplikasi hi by Hibank, Bebas Biaya Admin