Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Ekspor Non-Migas Indonesia Naik 9,15% di 2025, Industri Pengolahan Jadi Penggerak Utama

Ekspor non migas naik 9,15 persenEkspor non migas naik 9,15 persen
Sektor Industri menjadi faktor utama kenaikan ekspor non-migas Indonesia

BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Kinerja ekspor Indonesia menunjukkan tren positif sepanjang Januari hingga Agustus 2025, dengan nilai total mencapai USD 185,3 miliar.

Angka ini mencatat peningkatan sebesar 7,72 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Deputi Bidang Statistik Produksi Badan Pusat Statistik (BPS), M Habibullah, mengungkapkan bahwa meskipun ekspor migas mengalami penurunan hingga 14,14 persen dengan nilai USD 9,04 miliar, ekspor non-migas justru mengalami kenaikan sebesar 9,15 persen dengan nilai mencapai USD 176,09 miliar.

“Ekspor sektor industri pengolahan berkontribusi besar terhadap peningkatan ini,” jelas Habibullah saat ditemui di kantornya pada Rabu (1/10).

Sektor industri pengolahan menjadi motor penggerak utama kenaikan ekspor non-migas Indonesia, dengan andil sebesar 12,26 persen.

Komoditas yang berperan signifikan meliputi minyak kelapa sawit, logam dasar bukan besi, dan bahan kimia dasar organik yang berasal dari hasil pertanian.

Selain itu, barang perhiasan serta semikonduktor dan komponen elektronik lainnya turut menyumbang kenaikan.

Dari segi tujuan negara dan kawasan ekspor, Tiongkok menjadi salah satu pasar utama dengan nilai ekspor non-migas mencapai USD 40,44 miliar. Angka ini meningkat sebesar 8,68 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Tidak hanya Tiongkok, Amerika Serikat, kawasan ASEAN, dan Uni Eropa juga mencatat kenaikan ekspor dari Indonesia. Namun demikian, ekspor ke India mengalami penurunan dalam periode tersebut.

Pada bulan Agustus 2025 saja nilai ekspor tercatat sebesar USD 24,96 miliar atau naik 5,78 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Di bulan ini pula terjadi penurunan ekspor migas sebanyak 10,88 persen dengan nilai USD 1,07 miliar. Sementara itu nilai ekspor non-migas meningkat sebesar 6,68 persen hingga mencapai USD 23,89 miliar.

Kenaikan nilai ekspor selama Agustus terutama didorong oleh lonjakan pada komoditas lemak dan minyak hewan nabati yang naik hingga 51,07 persen dengan kontribusi sebesar 5,18 persen.

Disusul oleh logam mulia dan perhiasan yang meningkat 34,76 persen dengan andil kontribusi sebesar 1,02 persen.

“Komoditas nikel dan barang turunan lainnya pun mengalami peningkatan signifikan sebesar 35,34 persen,” tambah Habibullah.

Di sisi lain total nilai impor Indonesia dari Januari hingga Agustus 2025 mencapai USD 155,99 miliar atau naik tipis sebesar 2,05 persen dibandingkan tahun lalu.

Rincian lebih lanjut menunjukkan bahwa impor migas mengalami penurunan hingga menjadi USD 21,11 miliar atau turun sebanyak 12,82 persen YoY sementara impor non-migas justru meningkat sebanyak 4,85 persen hingga mencapai USD 134,88 miliar.

Habibullah juga memaparkan bahwa jika dilihat dari penggunaan barang secara kumulatif peningkatan terbesar terjadi pada barang modal.

Kenaikan ini menunjukkan adanya peningkatan aktivitas ekonomi domestik yang membutuhkan investasi dalam bentuk modal baru untuk mendukung operasional industri di tanah air.

Fenomena kenaikan dan penurunan pada sektor-sektor tertentu dalam perdagangan internasional Indonesia mencerminkan dinamika yang dihadapi oleh perekonomian nasional maupun global.

Meski tantangan di sektor migas masih ada karena ketidakstabilan harga internasional namun optimisme tetap terjaga dengan adanya pertumbuhan signifikan dari sektor non-migas khususnya sektor industri pengolahan.

Penguatan kinerja ekspor ini juga tidak lepas dari upaya pemerintah dalam memperkuat daya saing produk lokal di pasar internasional serta menjalin kerja sama strategis dengan berbagai negara mitra dagang.

Dengan demikian diharapkan kinerja perdagangan luar negeri Indonesia dapat terus bertumbuh positif sehingga memberikan dampak langsung pada pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan.

Sementara itu upaya untuk meningkatkan kualitas produk dan diversifikasi pasar menjadi langkah strategis bagi para pelaku usaha untuk memperluas jangkauan produk-produk unggulan Indonesia di pasar global.

Meningkatkan kapasitas produksi serta inovasi produk menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi persaingan dagang internasional yang semakin ketat.

Pada akhirnya keberlanjutan pertumbuhan ekspor Indonesia akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah baik dalam hal regulasi maupun insentif kepada para pelaku usaha terutama di sektor-sektor prioritas.

Pemeriksaan mobil listrik BYD impor di IPCC Terminal Kendaraan Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Selasa (16/9/2025) menunjukkan gambaran bagaimana arus perdagangan terus berjalan demi memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun internasional. (*/dda)

Berita Sebelumnya
Jp morgan sekuritas menaikkan target ihsg ke level 8.600

IHSG Berpeluang Tembus 8,6 Ribu, JP Morgan Soroti Saham BBCA hingga GOTO

Berita Selanjutnya
Menkeu bakal pangkas anggaran mbg

Program Makan Bergizi Gratis Dinilai Kurang Efektif, Pemerintah Siap Revisi Anggaran