BANYUMASEKSPRES.ID, Aldi Taher kembali menjadi sorotan publik setelah mencatut nama artis untuk mempromosikan barang dagangannya.
Kali ini, giliran aktor dan presenter Gading Marten yang terkejut dengan tindakan Aldi.
Kejadian ini menarik perhatian banyak orang, terutama di kalangan penggemar dan followers di media sosial, mengingat reputasi kedua figur publik ini yang cukup besar di industri hiburan Indonesia.
Gading Marten, seorang aktor yang telah lama dikenal di dunia perfilman dan televisi, merasa heran ketika nama dan citranya digunakan oleh Aldi Taher untuk menjual mobil.
Perilaku Aldi ini muncul ketika ia mengunggah sebuah video di platform media sosialnya yang berisi promosi penjualan sebuah mobil jenis Daihatsu Feroza.
Dalam video tersebut, Aldi menyebutkan bahwa harga mobil itu adalah Rp45 juta dan mengklaim bahwa mobil tersebut adalah milik Gading Marten.
“Bayarin mobilnya Gading Marten, Feroza ceper. Gue mau jual Rp45 juta aja, khusus hari ini, buat Lebaran, buat jalan-jalan keluarga. Gaul, ceper,” ujar Aldi dalam videonya.
Kejadian ini tentu saja membuat Gading merasa bingung dan tidak nyaman.
Dalam salah satu konten yang dipandu oleh Andre Taulany di kanal YouTube Taulany TV, Gading menjelaskan bahwa ia tidak pernah memiliki mobil Daihatsu Feroza seperti yang diklaim oleh Aldi.
“Jadi dia jual mobil Feroza, mana gue nggak pernah punya Feroza lagi,” ungkap Gading dalam pernyataannya pada Jumat (8/5).
Ternyata, Aldi Taher kerap meninggalkan komentar setiap kali Gading memamerkan mobil-mobil tahun 1990-an miliknya.
“Setiap posting-an mobil 90’s gue, (Aldi komentar) ‘Mas Gading, tinggal Feroza yang belum,'” tambah Gading.
Hal ini menunjukkan bahwa Aldi mungkin hanya berasumsi tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu mengenai kepemilikan mobil tersebut.
Gading pun mulai merasakan ketidaknyamanan ketika namanya dicatut untuk menjual sebuah mobil tanpa sepengetahuannya.
“Tiba-tiba dia jual Feroza dia, (bilang) ‘Ini Feroza bekas Gading Marten, Rp45 Juta. Lo punya ide dari mana pakai nama gue?'” tanya Gading dengan nada mempertanyakan kepada Aldi.
Di sisi lain, Aldi Taher mengakui bahwa ia hanya menduga bahwa Gading memiliki Feroza karena beberapa kali terlihat menggunakan mobil yang mirip.
Namun setelah mendapatkan klarifikasi dari Gading bahwa ia tidak pernah memiliki Daihatsu Feroza dan hanya memiliki jenis Suzuki Escudo, situasi ini menjadi semakin jelas.
Meski demikian, Aldi tetap melanjutkan promosi tersebut dengan mencatut nama Gading.
Menariknya, meski merasa heran karena namanya digunakan untuk promosi penjualan mobil secara tidak sah, Gading Marten mengatakan bahwa ia tidak keberatan selama hal tersebut bermanfaat bagi temannya.
Ini menunjukkan sikap positif dari Gading meskipun situasi tersebut cukup aneh dan tidak biasa.
Kasus ini menyoroti kompleksitas hubungan antar artis di dunia hiburan Indonesia serta bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain di ranah publik maupun media sosial.
Dalam industri yang sangat kompetitif seperti hiburan, penggunaan nama atau citra seseorang untuk kepentingan promosi memang bukan hal baru.
Namun, tindakan mencatut nama tanpa izin bisa menjadi masalah etis yang harus diperhatikan oleh semua pihak.
Menghadapi fenomena seperti ini, penting bagi publik untuk memahami konteks di balik setiap promosi yang dilakukan oleh para selebriti.
Banyak dari mereka seringkali terjebak dalam permainan media sosial di mana reputasi dan citra mereka dapat dimanfaatkan untuk keuntungan komersial pihak lain tanpa persetujuan mereka.
Dalam hal ini, tindakan Aldi Taher bisa dianggap sebagai langkah berisiko yang dapat merugikan hubungan antar artis.
Meskipun niat awalnya mungkin baik atau sekadar ingin memberi tahu para penggemar mengenai penjualan mobil tersebut, cara penyampaian dengan mencatut nama orang lain patut dipertanyakan.
Kejadian serupa juga sering terjadi di berbagai sektor lainnya di mana individu atau perusahaan menggunakan nama atau merek terkenal untuk menarik perhatian konsumen tanpa izin resmi dari pihak-pihak terkait.
Dalam dunia digital saat ini, tindakan semacam itu dapat berujung pada masalah hukum jika tidak ditangani dengan hati-hati.
Dengan munculnya berbagai platform media sosial yang memungkinkan interaksi langsung antara selebriti dan penggemar mereka, tanggung jawab atas informasi yang disebarkan menjadi semakin penting. (*/dda)
















