Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Ganti Pertamax ke Pertalite, Ini Efeknya untuk Performa Mesin

Subsidi Pertalite Dipotong 6,28 PersenSubsidi Pertalite Dipotong 6,28 Persen
ISI BENSIN: Pengendara motor tengah mengisi BBM jenis pertalite

BANYUMASEKSPRES.ID, Kenaikan harga BBM non-subsidi, khususnya Pertamax yang per 10 Juni 2026 mencapai Rp16.250 per liter, membuat banyak pemilik kendaraan mulai mencari cara untuk menekan pengeluaran harian.

Salah satu langkah yang paling sering dipilih adalah beralih dari Pertamax ke Pertalite dengan harapan biaya operasional kendaraan menjadi lebih ringan.

Sekilas, keputusan tersebut memang terlihat menguntungkan karena pengeluaran untuk mengisi bahan bakar dapat berkurang.

Namun, di balik penghematan yang dirasakan dalam jangka pendek, terdapat sejumlah konsekuensi yang perlu diperhatikan, terutama terkait performa mesin dan biaya perawatan kendaraan dalam jangka panjang.

Banyak pemilik kendaraan beranggapan bahwa semua jenis bahan bakar memiliki fungsi yang sama selama mesin masih dapat menyala dan kendaraan tetap bisa digunakan.

Padahal, setiap kendaraan telah dirancang dengan spesifikasi tertentu, termasuk kebutuhan bahan bakar yang sesuai dengan rasio kompresi mesin yang digunakan.

Ketika kendaraan yang direkomendasikan menggunakan Pertamax justru diisi Pertalite secara terus-menerus, performa mesin berpotensi mengalami penurunan.

Salah satu dampak yang dapat dirasakan adalah respons akselerasi yang tidak lagi optimal.

Alih-alih hemat, Anda justru akan menarik gas lebih dalam, yang ujung-ujungnya membuat konsumsi Pertalite menjadi jauh lebih boros.

Kondisi tersebut terjadi karena mesin membutuhkan usaha lebih besar untuk menghasilkan tenaga yang sama seperti saat menggunakan bahan bakar yang sesuai dengan rekomendasi pabrikan.

Akibatnya, efisiensi penggunaan bahan bakar bisa menurun dan keuntungan yang diharapkan dari harga BBM yang lebih murah tidak selalu benar-benar dirasakan.

Penumpukan Kerak Karbon pada Ruang Bakar

Selain berpengaruh terhadap performa kendaraan, penggunaan bahan bakar yang tidak sesuai juga dapat memicu munculnya masalah lain pada komponen mesin.

Salah satu yang paling sering terjadi adalah penumpukan kerak karbon di dalam ruang bakar.

Sisa bahan bakar yang gagal terbakar dengan sempurna akan meninggalkan kerak karbon di ruang bakar dan katup mesin.

Kerak ini memicu mesin cepat panas (overheat) dan memperpendek usia pakai oli mesin.

Kerak karbon yang terus menumpuk dapat mengganggu proses pembakaran di dalam mesin.

Dalam jangka waktu tertentu, kondisi ini berpotensi membuat performa kendaraan semakin menurun dan menyebabkan mesin bekerja lebih berat dibandingkan kondisi normal.

Tidak hanya itu, suhu kerja mesin yang meningkat akibat penumpukan kerak karbon juga dapat mempercepat penurunan kualitas oli mesin.

Ketika kualitas pelumas menurun lebih cepat, perlindungan terhadap komponen internal mesin pun menjadi kurang maksimal.

Jika dibiarkan berlangsung dalam waktu lama, pemilik kendaraan berpotensi menghadapi biaya perawatan yang lebih besar dibandingkan penghematan yang diperoleh saat membeli bahan bakar dengan harga lebih murah.

Hemat Sesaat, Risiko Biaya Servis Lebih Besar

Pertimbangan biaya memang menjadi alasan utama banyak orang memilih mengganti Pertamax dengan Pertalite.

Terlebih ketika harga BBM mengalami kenaikan yang cukup signifikan sehingga berdampak langsung pada pengeluaran bulanan.

Menyiasati kenaikan Pertamax menjadi Rp16.250 dengan beralih ke Pertalite memang terasa menyelamatkan dompet dalam jangka pendek.

Namun, bagi pemilik motor matic dengan kompresi tinggi, tindakan ini tidak direkomendasikan.

Motor matic modern dengan rasio kompresi tinggi umumnya dirancang untuk menggunakan bahan bakar dengan spesifikasi tertentu agar proses pembakaran berlangsung optimal.

Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, risiko munculnya gangguan performa dan penurunan efisiensi mesin menjadi lebih besar.

Pada tahap awal, dampaknya mungkin belum langsung terasa. Namun penggunaan yang berlangsung terus-menerus dapat meningkatkan potensi munculnya masalah pada komponen penting di dalam mesin.

Biaya servis turun mesin akibat kerusakan piston dan penumpukan kerak karbon jauh lebih mahal dibanding selisih harga BBM yang Anda hemat setiap liternya.

Pengeluaran untuk perbaikan komponen mesin tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Oleh karena itu, penghematan yang diperoleh dari selisih harga bahan bakar perlu dipertimbangkan secara menyeluruh, termasuk kemungkinan munculnya biaya servis yang lebih besar di kemudian hari.

Gunakan BBM Sesuai Rekomendasi Pabrikan

Setiap kendaraan telah dilengkapi panduan penggunaan yang mencantumkan jenis bahan bakar yang direkomendasikan.

Informasi tersebut dibuat untuk memastikan mesin dapat bekerja secara optimal sekaligus menjaga usia pakai komponen kendaraan tetap panjang.

Sebaiknya, tetaplah gunakan bahan bakar yang sesuai dengan buku panduan kendaraan demi menjaga performa jangka panjang.

Dengan menggunakan BBM yang sesuai spesifikasi, performa mesin dapat tetap terjaga, proses pembakaran berlangsung lebih optimal, dan risiko munculnya kerak karbon dapat diminimalkan.

Selain itu, pemilik kendaraan juga dapat mengurangi kemungkinan munculnya biaya perbaikan besar yang berpotensi menguras anggaran perawatan.

Pada akhirnya, keputusan memilih bahan bakar bukan hanya soal harga per liter, tetapi juga berkaitan dengan efisiensi, kesehatan mesin, dan biaya kepemilikan kendaraan dalam jangka panjang.

Penghematan sesaat memang terlihat menarik, namun menjaga kendaraan tetap sesuai rekomendasi pabrikan sering kali menjadi pilihan yang lebih bijak untuk masa depan kendaraan Anda.(taa)

Berita Sebelumnya
Persibangga Diguyur Total Bonus Rp 45 Juta

Lolos Babak 16 Besar Liga 4, Persibangga Purbalingga Dapat Bonus 45 Juta

Berita Selanjutnya
Penggantian Kiswah Ka'bah Tandai Awal Muharram

Gunakan Sutra dan Emas 24 Karat, Penggantian Kiswah Ka'bah Tandai Tahun Baru Islam 1448 H