Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Gunung Slamet Alami Peningkatan Aktivitas Vulkanik, Suhu Kawah Capai Rekor Tinggi

Slamet Memanas Radius DiperluasSlamet Memanas Radius Diperluas
PENINGKATAN AKTIVITAS: Lereng selatan Gunung Slamet

BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Aktivitas vulkanik di Gunung Slamet menunjukkan lonjakan signifikan dalam beberapa waktu terakhir, dengan suhu kawah yang meningkat hingga 460 derajat Celsius.

Fenomena ini telah memicu perhatian serius dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Kepala PVMBG, Priatin Hadi Wijaya, mengungkapkan bahwa suhu kawah mengalami kenaikan yang tajam dalam waktu yang sangat singkat.

“Dari hasil citra termal yang kami buat, sebelum Maret suhu masih di kisaran 280 derajat Celsius, kemudian naik menjadi 418 derajat, dan terakhir mencapai 460 derajat Celsius,” kata Priatin pada Kamis (23/4/2026).

Peningkatan suhu ini juga diikuti oleh aktivitas kegempaan berfrekuensi rendah yang mengindikasikan pergerakan magma menuju permukaan.

Situasi ini menjadi dasar bagi pemerintah untuk memperkuat langkah mitigasi serta kesiapsiagaan masyarakat di sekitar kawasan rawan bencana.

Dalam respons terhadap kondisi terkini, PVMBG telah memperluas radius kawasan rawan bencana dari sebelumnya dua kilometer menjadi tiga kilometer dari puncak gunung.

“Radius bahaya yang sebelumnya dua kilometer kini menjadi tiga kilometer dari puncak,” tegasnya.

Priatin juga menekankan pentingnya data pemantauan yang akurat sebagai pijakan bagi pemerintah daerah dalam mengambil langkah-langkah mitigasi.

“Yang terpenting adalah keselamatan masyarakat. Data yang kami hasilkan harus bisa langsung ditindaklanjuti,” ujarnya dengan tegas.

Pemantauan aktivitas gunung dilakukan secara intensif menggunakan berbagai metode, termasuk pengawasan melalui CCTV serta alat instrumental seperti seismometer dan pemantau deformasi.

Teknologi EDM (Electronic Distance Measurement) juga digunakan untuk mendeteksi perubahan tubuh gunung secara akurat.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, menyatakan bahwa sosialisasi mitigasi adalah langkah awal yang sangat penting untuk memperkuat kesiapsiagaan di lima kabupaten terdampak.

“Ini menjadi bahan awal kita sosialisasikan ke masyarakat, khususnya di lima wilayah terdampak,” kata Bergas.

Ia menekankan bahwa keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama dalam setiap skenario penanganan bencana.

“Kuncinya adalah bagaimana kita bisa menyelamatkan masyarakat apabila terjadi erupsi,” ungkapnya.

Lebih lanjut Bergas menjelaskan bahwa mitigasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata, tetapi juga membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

“Semua pihak harus terlibat; seluruh sektor harus berperan aktif sebagai subjek, bukan hanya objek,” tegasnya.

Dalam hal ini, BPBD Jawa Tengah juga tengah mempersiapkan pembaruan rencana kontingensi yang sebelumnya disusun pada tahun 2021.

Dokumen tersebut akan disesuaikan dengan kondisi terbaru, termasuk perubahan jumlah penduduk dan potensi aliran material vulkanik yang mungkin terjadi akibat aktivitas gunung.

“Ini tinggal kita sesuaikan sekaligus mengingatkan kembali pihak-pihak yang akan terlibat seperti TNI dan Polri,” jelasnya lebih lanjut.

Pengalaman penanganan banjir bandang di awal tahun ini turut dijadikan bahan evaluasi untuk memperkuat sistem mitigasi dalam menghadapi potensi bencana alam lainnya.

“Ini soal manajemen penanggulangan bencana; bagaimana kita bisa menyelamatkan masyarakat secepat mungkin,” ungkap Bergas.

Dalam konteks kesiapsiagaan bencana, penting untuk menyoroti peran desa sebagai garda terdepan dalam menghadapi kemungkinan situasi darurat akibat letusan gunung atau bencana alam lainnya.

Ia menegaskan bahwa keberadaan desa tangguh bencana dan kecamatan tangguh bencana sangatlah penting karena mereka berfungsi sebagai lini pertama dalam penanganan bencana.

“Desa tangguh bencana dan kecamatan tangguh bencana itu penting karena mereka yang berada di garis depan,” pungkasnya.

Dengan meningkatnya aktivitas vulkanik di Gunung Slamet serta suhu kawah yang melampaui ambang batas normal ini, pemerintah daerah bersama BPBD serta PVMBG terus menjaga komunikasi dengan masyarakat untuk memberikan informasi terkini mengenai situasi dan langkah-langkah mitigasi yang harus dilakukan. (dms/stch/dda)

Berita Sebelumnya
TPST Sumpiuh Produksi RDF

TPST Sumpiuh Hasilkan 1 Kuintal RDF per Hari dari Pemilahan Sampah

Berita Selanjutnya
Tim Indonesia Tak Alami Kendala Serius

Tim Indonesia Adaptasi Cepat di Venue Thomas & Uber Cup 2026, Shuttlecock Lebih Kencang