BANYUMASEKSPRES.ID, Penyanyi sekaligus anggota BLACKPINK, Rosé, kembali menjadi sorotan setelah dilaporkan menolak tawaran kerja sama komersial bernilai fantastis dari sebuah merek minuman teh asal China.
Nilai kontrak yang ditawarkan disebut mencapai sekitar 10 miliar won atau sekitar Rp115 miliar.
Meski nominal tersebut sangat besar, Rosé dilaporkan memilih untuk tidak menerima tawaran tersebut.
Kabar ini menjadi perhatian karena menunjukkan posisi Rosé yang semakin kuat sebagai artis solo dengan pengaruh global.
Laporan mengenai keputusan tersebut muncul dari media Korea Selatan yang mengutip sumber industri.
Hingga kini, pihak Rosé maupun agensinya belum memberikan pernyataan resmi mengenai tawaran, penolakan, maupun nilai kontrak tersebut.
Menurut laporan yang beredar, sebuah merek minuman teh terkenal asal China menawarkan kontrak iklan senilai sekitar 7,2 juta dolar AS, yang setara dengan kurang lebih 10 miliar won.
Merek tersebut disebut ingin menjadikan Rosé sebagai wajah utama dalam upaya memperluas pasar ke luar China.
Namun, tawaran bernilai fantastis itu dikabarkan tidak dilanjutkan oleh Rosé. Keputusan tersebut kemudian menjadi bahan pembicaraan di industri hiburan Korea Selatan.
Besarnya nilai kontrak membuat keputusan Rosé semakin menarik perhatian.
Sebab, nominal sekitar 10 miliar won bukanlah angka kecil untuk sebuah kerja sama iklan.
Meski demikian, laporan industri menilai keputusan tersebut menunjukkan bahwa pertimbangan Rosé dalam memilih kerja sama tidak hanya berkaitan dengan besarnya bayaran.
Selain tawaran iklan dari merek China, Rosé juga dilaporkan sempat menjalani pembicaraan dengan sebuah merek sampanye ternama.
Pembahasan kerja sama tersebut disebut berlangsung selama hampir satu tahun. Salah satu rencana yang dipertimbangkan adalah menghadirkan produk edisi khusus yang menggunakan nama Rosé.
Namun, proyek tersebut pada akhirnya dikabarkan tidak terealisasi.
Menurut sumber industri yang dikutip sejumlah media, salah satu faktor yang disebut berpengaruh terhadap batalnya kolaborasi adalah desain botol yang diajukan pada tahap akhir.
Rosé dikabarkan tidak merasa puas dengan desain tersebut karena dinilai belum sesuai dengan standar estetika yang diinginkannya.
Dua kabar tersebut kemudian memunculkan penilaian mengenai semakin selektifnya Rosé dalam menentukan kerja sama komersial.
Sejumlah laporan industri menilai Rosé kini memiliki posisi yang memungkinkan dirinya memilih proyek berdasarkan kesesuaian dengan citra dan arah kreatifnya.
Artinya, keputusan menerima atau menolak sebuah tawaran tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya nilai kontrak.
Nama Rosé yang melekat pada sebuah produk juga menjadi bagian dari pertimbangan.
Terlebih, sebagai artis global, citra yang dibangun Rosé memiliki nilai tersendiri. Kerja sama dengan sebuah merek dapat ikut memengaruhi bagaimana publik melihat dirinya sebagai penyanyi dan figur kreatif.
Laporan mengenai penolakan tersebut pun banyak ditafsirkan sebagai tanda bahwa Rosé semakin memiliki kendali terhadap penggunaan nama dan citranya dalam aktivitas komersial.
Karier solo Rosé turut menjadi salah satu faktor yang membuat namanya semakin kuat di pasar global.
Setelah debut bersama BLACKPINK pada 2016, Rosé memulai perjalanan solonya pada 2021.
Popularitasnya kemudian semakin meluas setelah kolaborasinya dengan Bruno Mars melalui lagu “APT.” pada 2024.
Kesuksesan tersebut membuat Rosé semakin dikenal bukan hanya sebagai anggota BLACKPINK, tetapi juga sebagai penyanyi solo dengan daya tarik global.
Sejumlah media Korea Selatan menilai perkembangan tersebut turut meningkatkan posisi tawar Rosé dalam memilih kerja sama dengan berbagai merek.
Ia disebut memiliki keleluasaan lebih besar untuk mempertimbangkan apakah sebuah produk benar-benar sesuai dengan citra dan arah artistiknya.
Keputusan yang dilaporkan diambil Rosé juga memperlihatkan pentingnya kesesuaian antara artis dan merek dalam sebuah kolaborasi.
Bagi figur dengan pengaruh global, kerja sama komersial bukan hanya tentang memperkenalkan produk kepada penggemar.
Nama artis juga akan melekat pada identitas produk dan kampanye yang dijalankan.
Karena itu, standar visual, konsep, hingga kesesuaian citra dapat menjadi bagian dari pertimbangan sebelum sebuah kolaborasi benar-benar diwujudkan.
Dalam kasus Rosé, laporan mengenai tawaran iklan 10 miliar won dan kolaborasi sampanye yang batal sama-sama memperlihatkan gambaran tersebut.
Meski demikian, perlu ditegaskan bahwa informasi mengenai kedua keputusan tersebut masih berdasarkan laporan media dan sumber industri.
Belum ada konfirmasi resmi dari Rosé atau pihak agensinya mengenai detail tawaran maupun alasan penolakan.
Terlepas dari itu, kabar tersebut kembali menegaskan besarnya nilai komersial Rosé di industri hiburan global.
Di tengah tawaran bernilai fantastis, ia dilaporkan tetap mempertimbangkan kesesuaian sebuah produk dengan citra serta standar kreatif yang ingin dibawanya. (*/stch/dda)














