BANYUMASEKSPRES.ID, Euforia kepastian gelar juara Liga 4 Jawa Tengah 2025/2026 yang diraih oleh Persibangga Purbalingga kini menjadi sorotan tajam publik.
Kejadian ini muncul sehari setelah tim berhasil mengalahkan Persak Kebumen dalam laga final yang berlangsung di Stadion Jatidiri Semarang pada Senin, 16 Februari 2026.
Dalam momen kemenangan tersebut, sejumlah pemain mengungkapkan kekecewaannya melalui siaran langsung di media sosial yang viral pada Selasa, 17 Februari 2026.
Salah satu pemain andalan Persibangga, Haidar Nur Afif, secara terbuka menyampaikan kritik kepada manajemen tim. Ia merasa perjuangan mereka selama ini tidak dihargai, terutama setelah meraih gelar juara.
“Manajer tidak menemui pemain, tidak memberikan selamat di locker room, malah langsung ditinggal pergi,” ungkapnya dalam siaran langsung tersebut.
Kecewa dengan situasi ini, Haidar juga menyoroti masalah biaya akomodasi pasca pertandingan.
Menurutnya, biaya hotel dan perjalanan tol harus ditanggung sendiri oleh para pemain.
“Kita sudah berjuang, tapi seperti tidak dihargai,” tambahnya sambil mengekspresikan rasa frustrasinya.
Dalam ungkapan emosionalnya, ia bahkan mengatakan, “Mending kalah saja.”
Keluhan serupa juga diutarakan oleh striker Persibangga lainnya, Rizqi Fauzan, dalam siaran langsung terpisah.
Rizqi menegaskan bahwa permintaan para pemain untuk tambahan satu malam menginap bukanlah untuk bersenang-senang.
Ia menjelaskan bahwa kondisi fisik pemain menurun setelah laga final yang harus ditentukan melalui adu penalti.
Menurutnya, tambahan waktu istirahat sangat penting agar para pemain bisa kembali bugar sebelum bertemu dengan suporter.
Rizqi juga menolak anggapan bahwa permintaan mereka berkaitan dengan fasilitas hotel mewah.
Ia menekankan bahwa tambahan menginap semata-mata demi pemulihan fisik pasca-laga krusial.
Menanggapi isu yang tengah viral ini, Manajer Persibangga Hamzah Asadullah akhirnya memberikan tanggapannya.
Ia menjelaskan bahwa sejak awal diamanahi untuk mengelola tim ini, dirinya berkomitmen untuk memajukan Persibangga dengan target promosi ke Liga 3.
“Kami juga berkomitmen untuk mendukung Persibangga dengan semaksimal mungkin, baik dukungan kepada pemain, pelatih, operasional, dan keseluruhannya,” ujarnya pada Rabu, 17 Februari 2026.
Hamzah menegaskan bahwa komitmen tersebut telah dijalankan sejak awal hingga saat ini.
“Salah satu bentuk komitmen tersebut adalah manajemen Persibangga mengeluarkan anggaran sedikitnya Rp 400 juta per bulan,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa semua pengeluaran memiliki bukti dan digunakan untuk gaji pemain, makan, penginapan, transportasi, bonus serta operasional lainnya.
“Kami sangat berterima kasih karena Persibangga bisa berjalan dari dukungan sponsor dari berbagai pihak,” lanjutnya.
Ia juga menyebutkan bahwa manajemen tidak pernah menunggak gaji dan tetap memberikan fasilitas meskipun ada keterbatasan anggaran yang dihadapi saat ini.
“Meskipun dengan berbagai keterbatasan anggaran yang kita miliki, apalagi dengan tantangan anggaran karena kita lolos ke Liga Nasional,” kata Hamzah.
Terkait masalah bonus bagi para pemain, Hamzah merinci bahwa saat Persibangga menang 4-1 atas Persibas sebelumnya, manajemen memberikan bonus sebesar Rp 25 juta di luar gaji.
“Untuk pertandingan lain di fase grup pun kami selalu memberikan bonus setiap kali Persibangga menang,” jelasnya.
Di babak 16 besar hingga ke semifinal dan final pun manajemen disebut telah memberikan bonus saat tim berhasil lolos ke fase berikutnya dengan nominal sedikitnya sebesar Rp 30 juta saat persiapan menuju babak final Liga 4 Jawa Tengah.
Berkenaan dengan polemik tambahan menginap pasca-final tersebut, Hamzah menjelaskan kronologi permintaan itu muncul beberapa hari sebelum keberangkatan ke Semarang.
Pelatih dan pemain menyampaikan aspirasi untuk berangkat lebih awal sebagai bentuk reward karena berhasil masuk final.
“Jika biasanya kami berangkat H-1 sebelum pertandingan, kali ini kami meminta untuk berangkat H-2 agar para pemain dapat lebih banyak beristirahat dan mendapatkan kesempatan refreshing serta berwisata sebelum pertandingan final,” jelasnya.
Setelah pertandingan selesai, manajemen meminta tim segera pulang ke Purbalingga agar bisa melaksanakan konvoi untuk merayakan kemenangan yang kebetulan berlangsung pada masa libur menjelang Ramadan.
Namun begitu, baik pemain maupun pelatih tetap ingin menginap lebih lama tanpa langsung pulang setelah pertandingan.
“Kami sangat bersedih dengan isu dan berita yang beredar berkaitan dengan Persibangga,” ungkap Hamzah penuh rasa empati.
Ia menjelaskan bahwa tujuan dari amanah ini adalah untuk kemajuan dan keberhasilan tim kebanggaan Purbalingga tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa manajemen tidak mengambil keuntungan apa pun dari hasil kerja keras mereka selama ini.
“Seluruh hasil yang didapatkan dikembalikan sepenuhnya untuk kebutuhan Persibangga,” tegasnya sambil menambahkan pentingnya dukungan bagi klub saat menghadapi tantangan di level nasional mendatang.
Hamzah berharap masyarakat tidak terprovokasi oleh isu yang berkembang mengenai situasi internal tim itu.
“Jangan sampai prestasi dan kemenangan ini dicederai oleh isu atau berita yang beredar,” pintanya sambil berharap agar semua pihak tidak membiarkan konflik internal merusak semangat kolektif tim.
“Saya siap legawa jika dinilai tidak lagi tepat memimpin tim ini,” ia menambahkan dengan nada tulus.
“Amanah ini pun tidak ada tendensi apa pun bagi saya pribadi; silakan apabila Persibangga dirasa dapat lebih baik dan berprestasi jika dipimpin oleh orang lain.”
Dengan pernyataan tersebut, Hamzah menunjukkan komitmennya terhadap perkembangan tim meskipun dalam situasi sulit seperti sekarang ini. (tya/stch/dda)
















