Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Jumlah Anak Tidak Sekolah di Pokjar Tambak Banyumas Turun

Ats di pokjar tambak turunAts di pokjar tambak turun
ATS mengikuti kegiatan belajar mengajar di Pokjar Kecamatan Tambak tahun ajaran baru 2025/2026.

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Pada tahun ajaran baru 2025/2026, jumlah Anak Tidak Sekolah (ATS) yang bergabung ke dalam Kelompok Belajar (Pokjar) di Kecamatan Tambak mengalami penurunan signifikan.

Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, angka penerimaan siswa baru menurun lebih dari setengahnya. Ketua Pokjar Kecamatan Tambak, Nuryadi, mengungkapkan bahwa tahun ini hanya terdapat 13 siswa baru yang mendaftar.

Angka ini jauh lebih sedikit dibandingkan dengan pendaftaran pada tahun ajaran 2024/2025, ketika Pokjar pertama kali dibuka dan berhasil menarik sekitar 30 siswa.

Nuryadi menjelaskan penurunan ini disebabkan oleh banyaknya ATS yang telah bergabung pada tahun pertama pembukaan Pokjar.

“Sudah banyak ATS yang masuk di tahun pertama Pokjar, jadi sekarang pendaftar menurun,” jelas Nuryadi ketika diwawancarai oleh awak media pada Rabu (23/7).

Meskipun demikian, upaya untuk menjaring ATS agar kembali mengikuti pendidikan tetap dilakukan melalui berbagai sosialisasi.

Dari 13 siswa baru yang terdaftar tahun ini, dua di antaranya merupakan siswa yang sempat putus sekolah dan ingin melanjutkan jenjang pendidikannya.

Ini menunjukkan adanya minat dari anak-anak yang sebelumnya terpaksa meninggalkan bangku sekolah untuk kembali melanjutkan pendidikan mereka melalui Pokjar.

Kegiatan belajar mengajar di Pokjar Kecamatan Tambak telah dimulai sejak Sabtu (19/7) dan berjalan sesuai jadwal. Ini menjadi langkah konkret dalam memberikan akses pendidikan bagi anak-anak yang sebelumnya terkendala berbagai faktor, terutama ekonomi.

Dalam angkatan pertama pada tahun ajaran 2024/2025 lalu, telah ada dua siswa yang berhasil lulus dari jenjang SD dan SMP. Kedua siswa tersebut memilih untuk melanjutkan pendidikan di Pokjar kembali.

“Siswa yang lulus, melanjutkan sekolah di Pokjar lagi,” tambah Nuryadi.

Pokjar Kecamatan Tambak berfungsi sebagai wadah pendidikan alternatif bagi anak-anak yang putus sekolah di wilayah tersebut. Inisiatif ini bertujuan untuk mengurangi angka ATS sekaligus memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menyelesaikan pendidikan mereka.

Dengan adanya Pokjar, diharapkan tidak hanya membantu menurunkan angka ATS tetapi juga memotivasi lebih banyak anak untuk kembali ke lingkungan belajar formal.

Hal ini penting mengingat faktor ekonomi seringkali menjadi penyebab utama anak-anak tidak dapat melanjutkan pendidikan mereka.

Dengan adanya dukungan komunitas dan sosialisasi terus-menerus dari pihak Pokjar, upaya ini bisa memberikan dampak positif jangka panjang bagi pengembangan sumber daya manusia di daerah tersebut.

Dalam konteks sosial ekonomi di Banyumas dan sekitarnya, keberadaan program seperti Pokjar sangat penting dalam menyediakan jaringan pengaman edukatif bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Ini adalah upaya nyata untuk memastikan bahwa setiap anak memiliki hak mendapatkan pendidikan dasar yang layak tanpa terhalang oleh kondisi finansial keluarga mereka.

Meskipun menghadapi kendala dalam jumlah pendaftar baru pada tahun ini, optimisme tetap ada karena program ini telah membuktikan efektivitasnya dalam dua tahun terakhir dengan menghasilkan lulusan yang dapat melanjutkan pendidikan mereka.

Hal ini mengindikasikan bahwa dengan strategi sosialisasi dan dukungan komunitas yang tepat, lebih banyak anak dapat dijangkau dan dibawa kembali ke jalur pendidikan.

Selain itu, program-program serupa dapat menjadi model untuk diterapkan di kecamatan lain guna menangani masalah serupa. Dengan demikian, kolaborasi antara pemerintah daerah dan masyarakat menjadi kunci sukses dalam menyelesaikan isu ATS secara berkelanjutan.

Keberhasilan program seperti ini tentu memerlukan dukungan dari berbagai pihak termasuk pemerintah daerah, lembaga non-profit serta komunitas lokal lainnya agar bisa terus berjalan dan berkembang lebih baik lagi kedepannya. (fij/stch)

Berita Sebelumnya
Limbah paralon jadi wayang bernilai seni

Limbah Paralon Jadi Wayang Bernilai Seni Hasil Kreativitas Warga Binaan Rutan Banjarnegara

Berita Selanjutnya
Tanah longsor, warga danasari panik

Tanah Longsor, Warga Danasari Purbalingga Panik