BANYUMASEKSPRES.ID, Penggunaan QRIS sebagai metode pembayaran terus berkembang seiring semakin luasnya adopsi transaksi digital di Indonesia.
Kemudahan pembayaran hanya dengan memindai kode QR membuat QRIS semakin umum ditemukan, mulai dari toko kelontong, warung makan, pasar, hingga berbagai layanan transportasi dan pariwisata.
Pertumbuhan tersebut memunculkan pertanyaan: apakah QRIS nantinya bisa menggantikan uang tunai sepenuhnya?
Data Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) menunjukkan perkembangan QRIS memang sangat signifikan. Pada kuartal I 2026, volume transaksi QRIS mencapai 5,67 miliar transaksi.
Jumlah tersebut tumbuh lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai transaksi juga menunjukkan peningkatan dengan total sekitar Rp522,2 triliun.
Khusus Maret 2026, transaksi QRIS mencapai 2,12 miliar transaksi dengan nilai Rp202,72 triliun. Dari sisi ekosistem, QRIS telah digunakan oleh sekitar 61,7 juta pengguna dan diterima oleh 44 juta merchant.

Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu kelompok yang paling banyak memanfaatkan sistem pembayaran tersebut.
Namun, tingginya jumlah pengguna dan merchant belum otomatis berarti masyarakat sudah meninggalkan uang tunai.
Transaksi QRIS Tumbuh, tetapi Uang Tunai Masih Dipakai
Salah satu tantangan dalam perkembangan QRIS adalah tingkat aktivitas setiap merchant. Selain itu, QRIS berpotensi menjadi acuan ASEAN dalam perkembangan fintech.
ASPI mencatat rata-rata transaksi pada merchant QRIS masih berada di kisaran 39-48 transaksi per bulan, dengan nilai sekitar Rp3,5 juta hingga Rp4,6 juta.
Angka tersebut menunjukkan bahwa sebagian merchant belum menggunakan QRIS secara aktif. Ada pula merchant yang sudah terdaftar tetapi belum menjadikan pembayaran digital sebagai pilihan utama.
Kondisi tersebut sejalan dengan hasil penelitian terhadap pelaku UMKM kuliner di Indonesia yang menunjukkan bahwa digitalisasi pembayaran banyak berlangsung sebagai pelengkap, bukan pengganti uang tunai.
Dalam penelitian yang melibatkan 237 pemilik UMKM pengguna QRIS, sebagian besar responden masih menerima pembayaran menggunakan berbagai metode.
Hanya sebagian kecil yang sepenuhnya beralih ke transaksi digital tanpa menerima uang tunai. Artinya, kehadiran QRIS tidak serta-merta membuat uang fisik ditinggalkan.
Pelaku usaha cenderung menyediakan beberapa pilihan pembayaran agar dapat mengikuti kebutuhan dan kebiasaan pelanggan.
Mengapa UMKM Memilih Menggunakan QRIS?
Ada beberapa alasan yang membuat QRIS semakin menarik bagi pelaku usaha. Salah satunya adalah kepraktisan dalam menerima pembayaran.
Dengan QRIS, pedagang tidak perlu menyediakan uang kembalian. Risiko menyimpan uang tunai dalam jumlah besar juga dapat dikurangi.
Selain itu, transaksi digital memudahkan pemilik usaha dalam memantau pemasukan dan mencatat aktivitas pembayaran.
Faktor kemudahan penggunaan serta manfaat bagi operasional bisnis menjadi daya tarik penting dalam adopsi QRIS. Di sisi lain, pembayaran tunai tetap memiliki keunggulan tertentu.
Tidak semua konsumen terbiasa menggunakan aplikasi pembayaran digital, sementara kondisi jaringan internet dan ketersediaan perangkat juga dapat memengaruhi kelancaran transaksi.
Karena itu, bagi banyak UMKM, menerima QRIS dan uang tunai secara bersamaan masih menjadi pilihan yang paling fleksibel.
Perbankan Mulai Fokus Tingkatkan Aktivitas Merchant
Pertumbuhan QRIS juga mendorong bank dan penyelenggara jasa pembayaran mengembangkan fitur yang tidak hanya berfungsi sebagai alat menerima uang.
Salah satunya dilakukan melalui aplikasi merchant yang memungkinkan pemilik usaha memperoleh notifikasi transaksi secara langsung.
Sistem tersebut membantu pedagang memastikan pembayaran telah berhasil tanpa harus mengandalkan bukti transfer berupa tangkapan layar atau pesan dari pelanggan.
Sejumlah layanan merchant menyediakan akses terbatas bagi kasir atau karyawan. Dengan sistem tersebut, pegawai memantau pembayaran yang masuk tanpa memperoleh akses penuh terhadap rekening dan transaksi finansial pemilik usaha.
Pengembangan fitur semacam ini menunjukkan bahwa persaingan layanan QRIS mulai bergeser. Fokusnya bukan hanya memperbanyak merchant, tetapi juga membuat merchant semakin aktif bertransaksi.
QRIS Cross Border Perluas Ekosistem Pembayaran Digital
Perkembangan QRIS juga tidak berhenti pada transaksi domestik. Fitur QRIS Cross Border memungkinkan masyarakat Indonesia melakukan pembayaran di sejumlah negara mitra menggunakan sistem QR.
Perluasan tersebut membuka peluang penggunaan QRIS di sektor pariwisata sekaligus memudahkan transaksi wisatawan.
Bagi pelaku usaha, semakin luasnya jaringan pembayaran digital dapat meningkatkan pilihan metode pembayaran bagi pelanggan lokal maupun wisatawan asing.
Meski demikian, perkembangan QRIS Cross Border tidak berarti transaksi tunai langsung hilang. Masyarakat memiliki kebutuhan pembayaran yang berbeda-beda sesuai kondisi dan kebiasaan.
QRIS Bisa Gantikan Uang Tunai?
Melihat tren saat ini, QRIS berpeluang menjadi salah satu metode pembayaran utama di Indonesia, tetapi belum menunjukkan bahwa uang tunai akan sepenuhnya tergantikan dalam waktu dekat.
Pertumbuhan transaksi QRIS lebih tepat dilihat sebagai bagian dari perubahan menuju ekosistem pembayaran yang semakin digital.
Masyarakat dan pelaku usaha tidak selalu harus memilih antara QRIS atau uang tunai karena keduanya dapat digunakan secara berdampingan.
Ke depan, tantangan terbesar bukan sekadar meningkatkan jumlah merchant QRIS, melainkan membuat transaksi digital semakin mudah, aman, terjangkau, dan bermanfaat bagi pelaku usaha.
Dengan demikian, masa depan pembayaran di Indonesia kemungkinan bukan tentang QRIS menggantikan uang tunai.
Hal ini melainkan bagaimana pembayaran digital dan uang tunai dapat terus berdampingan sesuai kebutuhan masyarakat. (*/nds)














