BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Inovasi teknologi pertanian mulai diterapkan petani di Desa Kebarongan, Kecamatan Kemranjen, Banyumas. Mereka kini memanfaatkan mesin penanam padi (rice transplanter) untuk mempercepat proses tanam sekaligus menekan biaya produksi yang selama ini tinggi jika dilakukan secara manual.
Penggunaan rice transplanter dilakukan oleh Kelompok Tani Cungkring II. Mesin ini merupakan pinjaman dari kelompok tani di Kecamatan Tambak dan langsung dimanfaatkan dalam musim tanam kali ini.
“Mesin penanam padi dipinjami oleh kelompok tani di Kecamatan Tambak,” kata Kusni Barnat, Ketua Kelompok Tani Cungkring II, Selasa (3/6).
Menurut Kusni, hasil penggunaan mesin tanam padi ini sangat signifikan. Proses penanaman menjadi jauh lebih efisien, tidak hanya dari sisi waktu, tetapi juga dari jumlah tenaga kerja dan ongkos produksi.
“Tanam manual 0,35 hektare butuh 7-8 orang. Selesai siang. Pakai mesin cukup 3 orang, selesai jam 10 pagi,” jelasnya.
Bibit padi yang digunakan adalah varietas Mekongga, berusia 21 hari saat ditanam. Bibit tersebut disemai di nampan khusus yang memudahkan proses pencabutan.
Hal ini membuat seluruh proses tanam menjadi lebih praktis dibandingkan metode konvensional.
Di awal pengoperasian, Kusni mengakui bahwa dirinya perlu beradaptasi. Namun dengan latihan, ia kini merasa terbiasa dan tidak mengalami kendala berarti dalam mengoperasikan alat modern tersebut.
Penerapan teknologi rice transplanter ini mendapat dukungan penuh dari penyuluh pertanian di wilayah setempat.
Kuswarti, penyuluh di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kemranjen, menyambut baik langkah inovatif yang dilakukan para petani tersebut.
“Apa lagi sekarang sudah era modern. Walaupun teknologi baru pasti ada pro dan kontra,” ucap Kuswarti.
Ia menekankan bahwa rice transplanter membantu petani dalam menghadapi krisis tenaga kerja pertanian yang semakin sulit didapat, terutama saat musim tanam serempak tiba.
Di sisi lain, keberadaan alat ini turut mendorong percepatan tanam, yang merupakan bagian penting dari strategi peningkatan ketahanan pangan nasional.
Dengan efisiensi yang dihasilkan, teknologi tanam modern ini dinilai cocok untuk memperkuat sistem pertanian berkelanjutan.
Petani pun mulai melihat potensi jangka panjang dari mekanisasi pertanian sebagai solusi untuk menghadapi tantangan modern.
Selain soal tenaga kerja, penggunaan mesin tanam juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen, karena tanam bisa dilakukan lebih tepat waktu dan lebih seragam.
Petani berharap ke depan akses terhadap alat dan mesin pertanian seperti rice transplanter bisa semakin luas dan terjangkau.
Dukungan pemerintah atau program bantuan alat mesin pertanian (alsintan) diharapkan bisa menyasar lebih banyak kelompok tani di wilayah Banyumas dan sekitarnya.
Dengan demikian, petani tidak hanya menghemat biaya dan waktu, tetapi juga bisa meningkatkan kesejahteraan dari hasil produksi yang lebih optimal dan efisien.
Langkah petani Desa Kebarongan ini menjadi gambaran bahwa adopsi teknologi pertanian bukan hanya kebutuhan, melainkan juga jawaban atas tantangan zaman. (fij/stch)
















