Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Menghidupkan Kembali Wayang Banyumasan, Ki Ulum Kartodiwiryo Gelar Pertunjukan di Brug Menceng

Metuk Sendekala di Brug MencengMetuk Sendekala di Brug Menceng
Penampilan dalang muda Ki Ulum Kartodiwiryo yang berinisiatif menggelar kelir untuk pertunjukan wayang Banyumasan, Rabu (9/7) sore di area Brug Menceng, perbatasan Banyumas dan Cilacap.

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Di perbatasan antara Kabupaten Banyumas dan Cilacap, tepat saat senja mulai menyapa, suasana yang tak biasa berlangsung di atas jembatan yang dikenal oleh masyarakat Banyumas dan sekitarnya sebagai Brug Menceng.

Di sana, angin lembut menyapu hamparan sawah saat kelir wayang didirikan dan lampu sorot sederhana dinyalakan. Alunan gamelan mengiringi suara arus lalu lintas yang berlalu lalang.

Pada kesempatan itulah, Ki Ulum Kartodiwiryo, seorang dalang muda berusia 21 tahun dari Desa Kemiri, Kecamatan Sumpiuh, menggelar sebuah pertunjukan yang lebih dari sekadar seni panggung; itu adalah panggilan dari jiwa.

Kehadirannya tidak dipicu oleh undangan ataupun bayaran, juga bukan demi mengejar ketenaran. Inisiatif ini sepenuhnya datang dari dirinya sendiri dengan tujuan menjaga eksistensi wayang Banyumasan agar tidak pudar ditelan zaman.

“Wayang Banyumasan sebagai bagian dari kekayaan budaya Banyumas berada dalam kondisi memprihatinkan. Bahkan banyak di antara masyarakat kita yang belum mengenalnya,” ujar Ki Ulum pada Jumat (11/7), sesaat sebelum ia memulai lakonnya.

Pertunjukan tersebut diberi judul ‘Metuk Sandekala‘—menjemput senja.

Ini bukan sekadar simbol waktu melainkan juga memiliki makna filosofis. Pertunjukan ini menyapa masyarakat saat hari berganti, ketika aktivitas mulai menurun dan perhatian kembali tertuju ke sekitar.

Para penonton terdiri dari berbagai kalangan usia. Ada anak-anak duduk bersila di tikar seadanya, orang tua tersenyum lirih, hingga pengendara yang berhenti karena penasaran.

Selama dua jam, sejak pukul 16.00 hingga 18.00 WIB, pertunjukan berlangsung di bawah langit yang perlahan berubah warna.

Tak ada baliho promosi atau panggung mewah. Hanya ada kelir wayang kulit dan semangat membara dari seorang pemuda yang ingin melawan kelupaan budaya lokal.

Dalam debutnya ini, Ki Ulum memilih lakon ‘Sarkawi Meranto‘, sebuah tokoh yang mungkin masih asing bagi sebagian besar masyarakat dibandingkan dengan tokoh-tokoh legendaris seperti Pandawa Lima atau Rama Shinta.

Namun justru di situlah tekadnya terletak—memperkenalkan kekayaan lokal yang belum dikenal luas.

“Generasi muda menjadi sasaran utama sosialisasi wayang gagrak Banyumasan,” lanjutnya.

Ki Ulum memahami bahwa penonton muda adalah kunci regenerasi budaya ini. Tanpa mereka, meski panggung tetap berdiri megah, penontonnya lambat laun akan sepi dan lenyap.

Sebagai seorang dalang muda, Ki Ulum sadar betul bahwa ia melawan arus besar budaya pop dan digitalisasi serta komersialisasi yang kian menggerus tradisi lokal.

Namun ia yakin bahwa jika disampaikan dengan cara yang menggugah dan membumi, tradisi tak harus mati begitu saja.

Benar saja, respons positif pun berdatangan. Warga yang awalnya hanya lewat memilih untuk berhenti sejenak. Anak-anak muda yang biasanya sibuk dengan gadget mereka mendadak ikut terlarut dalam pertunjukan ini.

Beberapa pengunjung bahkan mengabadikan momen tersebut dan membagikannya di media sosial.

“Saya tidak menyangka kalau Metuk Sandekala perdana ini mendapat tanggapan luar biasa, terutama dari kalangan muda yang memang menjadi target utama,” kata Ki Ulum sambil tersenyum bangga.

Pagelaran di Brug Menceng bukanlah akhir tetapi awal dari rangkaian kegiatan lain yang telah direncanakannya.

Ki Ulum berencana untuk terus menggelar sosialisasi wayang Banyumasan di berbagai lokasi strategis lainnya.

Ia ingin wayang kembali menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat sehari-hari—bukan hanya sebagai tontonan tetapi juga sebagai bagian integral dari identitas budaya yang harus dijaga bersama-sama.

“Acara di Brug Menceng hanyalah permulaan,” pungkasnya sambil menjelaskan rencana untuk mendatangi lokasi-lokasi strategis lainnya demi memperkenalkan wayang Banyumasan lebih luas lagi kepada publik.

Di tengah era dominasi budaya visual modern saat ini, Ki Ulum hadir sebagai simbol bahwa tradisi tidak pernah benar-benar mati selama masih ada sosok-sosok yang percaya dan bersedia memperjuangkannya dengan sepenuh hati melalui layar pertunjukan sederhana namun penuh nilai budaya tersebut. (fij/stch)

Berita Sebelumnya
40 sekolah swasta gratis diuji coba di jakarta

DKI Jakarta Mulai Program Sekolah Swasta Gratis, 40 Sekolah Diuji Coba

Berita Selanjutnya
Uin jakarta

Jalur Mandiri UIN Jakarta 2025 Masih Dibuka, Begini Tahapan Pendaftarannya