BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas mempercepat pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk mengejar target nasional yang masih jauh dari pencapaian.
Setiap puskesmas di wilayah ini ditargetkan melayani 400 pemeriksaan per minggu sebagai upaya meningkatkan jumlah peserta yang telah mengikuti program tersebut.
Ketua Tim CKG Dinas Kesehatan Banyumas, Anwar Hudiono, menjelaskan bahwa menurut Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dalam bidang kesehatan tahun 2025, setidaknya 36 persen dari populasi Banyumas harus sudah berpartisipasi dalam CKG.
“Populasi di Banyumas sekitar 1,8 juta jiwa. Target nasionalnya adalah 36 persen, tetapi hingga akhir Juni baru tercapai 9,3 persen. Masih ada gap sekitar 400 ribu jiwa,” ungkap Anwar pada Jumat (11/7).
Untuk mempercepat pencapaian ini, Dinas Kesehatan telah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh puskesmas. Dari total 40 puskesmas yang ada, masing-masing diberi target mingguan sebesar 400 peserta.
“Sudah ada pembagian target spesifik untuk setiap puskesmas. Angka itu dihitung agar gap 400 ribu bisa dikejar dalam beberapa bulan ke depan,” kata Anwar.
Program CKG ini merupakan bagian dari inisiatif nasional yang bertujuan meningkatkan kesadaran serta derajat kesehatan masyarakat. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi tekanan darah, gula darah, kolesterol, berat badan, dan kesehatan jantung.
Namun demikian, Anwar menyoroti bahwa rendahnya animo masyarakat menjadi tantangan tersendiri sehingga puskesmas harus aktif melakukan pendekatan jemput bola.
“Kalau hanya mengandalkan peserta yang datang ke puskesmas, tidak akan cukup. Maka kami mendorong puskesmas untuk aktif ke lapangan—ke kampus, pabrik, sekolah, dan instansi,” jelasnya.
Sejumlah puskesmas telah menerapkan strategi proaktif ini. Salah satunya adalah Puskesmas Purwokerto Timur I. Kepala Puskesmas tersebut, Fajar Windia, menyatakan timnya secara rutin mengadakan CKG di luar kantor.
“Kami tidak hanya menunggu di puskesmas. Kami jemput bola ke kantor-kantor dan instansi sekitar wilayah kerja kami,” ujar Fajar.
Meski demikian, Fajar mengakui bahwa sejumlah kendala turut memengaruhi capaian program ini. Saat ini puskesmas yang ia kelola sedang menjalani proses akreditasi sehingga pelaksanaan CKG sedikit tersendat.
“Memang saat ini kami sedang fokus akreditasi. Tapi setelah itu kami akan ekspansif lagi,” ucapnya dengan optimisme.
Pihak Dinas Kesehatan Banyumas berharap strategi jemput bola ini bisa secara signifikan meningkatkan capaian CKG khususnya di Kabupaten Banyumas.
Program ini tidak hanya penting untuk memenuhi target RPJMN tetapi juga memberikan dampak langsung terhadap deteksi dini penyakit tidak menular (PTM).
“CKG itu bukan formalitas. Dari situ kita bisa tahu risiko kesehatan masyarakat dan bisa ambil tindakan lebih awal,” tegas Anwar dengan penekanan pada pentingnya program ini.
Dinas Kesehatan juga menghimbau masyarakat agar memanfaatkan program ini semaksimal mungkin. Pemeriksaan tersebut bersifat gratis dan hasilnya dapat menjadi rujukan awal untuk perawatan lebih lanjut jika ditemukan indikasi gangguan kesehatan.
“Semakin banyak yang ikut, semakin besar potensi kita mencegah penyakit sejak dini,” pungkas Anwar menyimpulkan harapannya terhadap partisipasi masyarakat dalam program tersebut. (alw/stch)
















