BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Di tengah keragaman yang ada, perbedaan iman tidak pernah menjadi penghalang untuk saling membantu dan berbagi.
Di Desa Banjarpanepen, Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas, semangat kebaikan justru tumbuh subur dari keanekaragaman yang ada.
Paguyuban Lintas Iman lahir sebagai wadah pertemuan nilai-nilai kemanusiaan yang melampaui batas keyakinan.
“Berbagi kasih tanpa pilih kasih” bukan sekadar slogan tetapi adalah inti dari setiap langkah paguyuban ini.
Pembina Umum Paguyuban Lintas Iman, Bhante Cira Subo Thera, menjelaskan bahwa semangat berbagi kasih tanpa pilih kasih terwujud nyata melalui kehadiran armada siaga lintas iman.
Armada ini menjadi salah satu layanan unggulan paguyuban, terutama dalam bidang sosial dan kesehatan.
“Armada siaga lintas iman merupakan bentuk kepedulian sosial, khususnya yang berhubungan dengan kesehatan,” ujar Bhante Cira pada Jumat (9/1).
Pengadaan armada ini berangkat dari keprihatinan mendalam terhadap keterbatasan akses masyarakat kelas menengah ke bawah menuju fasilitas kesehatan.
Kondisi geografis Desa Banjarpanepen yang berbukit membuat mobilitas warga menjadi sulit.
Infrastruktur yang terbatas dan minimnya angkutan umum semakin memperburuk keadaan.
Bagi warga yang tiba-tiba jatuh sakit, situasi ini sering kali menyajikan dilema antara menahan sakit atau berutang untuk ongkos transportasi.
Melihat kenyataan ini, para tokoh lintas agama dan kepercayaan di Banjarpanepen sepakat untuk bergerak bersama.
Mereka menginisiasi pengadaan armada siaga sebagai moda transportasi aman dan nyaman untuk mempermudah antar-jemput warga sakit ke puskesmas, rumah sakit, atau fasilitas kesehatan lainnya.
Realisasi armada siaga lintas iman terwujud berkat gotong royong banyak pihak termasuk dukungan para donatur yang tergerak oleh nilai-nilai kemanusiaan.
Bagi Bhante Cira, kendaraan tersebut bukan sekadar alat transportasi tetapi juga simbol kepedulian bersama.
“Setiap hari ada tiga orang relawan yang standby 24 jam untuk pelayanan armada siaga lintas iman,” tambah Bhante yang kini berusia 47 tahun.
Paguyuban Lintas Iman Banjarpanepen didirikan berdasarkan semangat Bhinneka Tunggal Ika—berbeda-beda tetapi tetap satu.
Diresmikan pada November 2025, paguyuban ini dihuni oleh anggota dari berbagai latar belakang agama dan kepercayaan yang hidup berdampingan di desa itu.
Meski berawal di Banjarpanepen, layanan armada siaga lintas iman tidak bersifat eksklusif dan terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan bantuan.
Saat ini cakupan layanan telah menjangkau sekitar setengah wilayah Kecamatan Sumpiuh, mencakup tujuh desa.
“Layanan berbagi kasih tanpa pilih kasih ini merupakan praktik universal nilai agama. Tidak memandang latar belakang suku, ras, maupun agama,” imbuh Bhante yang merupakan putra asli Banjarpanepen.
Tidak berhenti pada armada kesehatan saja, Paguyuban Lintas Iman juga menggagas pengembangan unit-unit layanan sosial dan kemanusiaan lainnya seperti layanan siaga bencana serta pendampingan dan penyembuhan pasien secara batin sesuai dengan iman masing-masing hingga rencana pendirian klinik lintas iman.
Di tengah hiruk-pikuk isu perbedaan yang kerap dipertentangkan, Paguyuban Lintas Iman Banjarpanepen hadir sebagai cermin keberagaman yang membangun harmoni ketika dirawat dengan kasih sayang.
Perbedaan yang dirawat dengan cinta mampu melahirkan keharmonisan dimana kemanusiaan menemukan rumahnya tanpa syarat sekat atau pilih kasih (fij/stch/dda)
















