BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Di sudut Kantor Kepala Desa Banjarkulon, Kecamatan Banjarmangu, terdapat sebuah pakaian tua yang berhasil mengungkap kembali jejak sejarah hampir terlupakan.
Pakaian tersebut diyakini milik Mangunyudha Seda Loji, sosok pejuang lokal Banjarnegara yang gugur dalam Perang Pracina melawan VOC pada abad ke-18.
Kondisi pakaian tersebut memang sudah rapuh, terdiri dari potongan kain baju, celana, dan selembar kain yang diduga sebagai ikat kepala atau jarik. Namun bagi para peneliti sejarah dan pelestari budaya, benda ini lebih dari sekadar kain usang.
“Ini bukan sekadar benda lama. Ini pakaian seorang pejuang yang gugur membela tanah air dan keyakinannya. Rasanya luar biasa bisa melihat langsung,” ujar Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banjarnegara, Heni Purwono, Selasa (17/6).
Heni menjelaskan bahwa pihaknya tengah menyusun kajian akademik untuk mendukung usulan resmi kepada Bupati Banjarnegara agar pakaian ini ditetapkan sebagai cagar budaya.
Tidak hanya untuk tingkat kabupaten saja, peninggalan bersejarah ini juga layak diusulkan hingga ke tingkat nasional.
“Perang Pracina adalah bagian penting dari sejarah Indonesia, melibatkan banyak etnis dan berskala besar. Ini bisa menjadi pijakan untuk mengusulkan Mangunyudha Seda Loji sebagai pahlawan nasional dari Banjarnegara,” ungkap Heni lebih lanjut.
Perang Pracina sendiri terjadi sekitar tahun 1740-an dan dikenal sebagai pemberontakan besar melawan kekuasaan VOC di Kartasura.
Nama-nama pejuang seperti Mangunyudha jarang disebut dalam narasi utama sejarah Indonesia, membuat temuan semacam ini semakin bernilai penting.
Sementara itu, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Banjarnegara, Arief Rahman menambahkan bahwa wilayah Banjarkulon kemungkinan besar masih menyimpan lebih banyak peninggalan sejarah lainnya, termasuk naskah-naskah kuno yang belum terdokumentasikan.
“Kami berharap bisa menemukan teks babad atau naskah lain yang bisa didaftarkan sebagai bagian dari khazanah naskah kuno Nusantara di Perpustakaan Nasional,” kata Arief dengan penuh harap.
Arief menegaskan bahwa pelestarian warisan seperti ini penting tidak hanya untuk riset sejarah tetapi juga sebagai bentuk edukasi nilai-nilai kejuangan kepada generasi muda.
“Jika benda ini benar-benar asli, maka dia bicara lebih dari dua abad lalu. Kita sedang berbicara soal ingatan kolektif, tentang siapa kita sebagai bangsa,” tambah Arief dengan penuh semangat.
Pakaian Mangunyudha Seda Loji ini kini berada dalam perhatian penuh tim ahli cagar budaya.
Jika berhasil lolos verifikasi sebagai cagar budaya nasional, bukan hanya Banjarnegara yang akan mendapat pengakuan baru dalam konteks sejarah tetapi Indonesia secara keseluruhan akan menambahkan satu lagi fragmen penting dalam mozaik perlawanan terhadap kolonialisme. (jud/stch)
















