BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Rutan Banjarnegara mendapatkan perhatian luas di tingkat nasional, bukan karena masalah, tetapi karena potensi luar biasa yang ditunjukkan oleh para warga binaannya dalam bidang keterampilan dan wirausaha.
Inspektur Wilayah II Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan RI, Ian Fidhianto, merasa terkesan dengan program pembinaan yang dijalankan di rutan tersebut.
“Kami datang untuk melakukan audit pembangunan aula dan ruang Balai Latihan Kerja. Namun, kami menemukan hasil karya warga binaan yang luar biasa. Karyanya punya nilai jual dan sangat bermanfaat bagi masa depan mereka setelah bebas,” tuturnya pada Sabtu (14/6).
Menurut Ian, Rutan Banjarnegara tidak hanya berfungsi sebagai tempat penahanan, tetapi juga menjadi pusat pembinaan yang memberikan bekal nyata agar para narapidana dapat kembali ke masyarakat dengan produktif dan terhormat.
“Mereka akan keluar dari sini dengan keterampilan. Artinya, mereka bisa kembali dan diterima masyarakat karena membawa manfaat, bukan sekadar status mantan narapidana,” lanjut Ian.
Dalam kunjungannya, Ian menyempatkan diri meninjau langsung sejumlah pelatihan yang diselenggarakan di dalam rutan. Pelatihan-pelatihan ini mencakup berbagai bidang seperti bengkel motor, jasa cuci kendaraan, seni lukis, kerajinan wayang dari paralon, hingga pelatihan memasak khusus bagi warga binaan perempuan.
Kepala Rutan Banjarnegara, Dodik Harmono, menjelaskan bahwa pihaknya memang terus mendorong pembinaan berbasis keterampilan sebagai bekal hidup pasca-pembebasan. Ia menyebutkan bahwa salah satu karya unggulan saat ini adalah wayang yang terbuat dari bahan paralon bekas.
“Salah satu karya unggulan saat ini adalah wayang dari bahan paralon bekas. Masih terus kami sempurnakan agar lebih layak jual,” jelas Dodik.
Dodik menambahkan bahwa hasil karya warga binaan tidak hanya akan ditampilkan di dalam rutan tetapi juga diperkenalkan ke masyarakat melalui berbagai platform dan kegiatan.
“Kami siapkan strategi promosi. Produk warga binaan akan kami perkenalkan melalui event seperti Car Free Day. Ada wayang, keset, wingko, dan kerajinan lainnya,” katanya.
Langkah ini, menurut Dodik, bukan hanya soal pemasaran, tetapi juga sebagai cara untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap mantan narapidana.
“Kami juga akan gandeng pemda, pelaku UMKM, dan pihak lain agar produk ini masuk ke pasar yang lebih luas,” tambahnya.
Dengan berbagai program pelatihan yang ditawarkan di Rutan Banjarnegara, para narapidana diharapkan dapat memiliki keterampilan yang tidak hanya berguna selama mereka menjalani hukuman, tetapi juga setelah mereka bebas.
Pembinaan yang dilakukan di rutan ini bertujuan untuk membekali para narapidana dengan keterampilan praktis yang dapat mereka gunakan untuk mencari nafkah dan berkontribusi positif bagi masyarakat setelah mereka keluar dari rutan.
Strategi pemasaran produk warga binaan juga menjadi fokus utama agar hasil karya mereka dapat dikenal dan diterima oleh masyarakat luas. Upaya ini diharapkan dapat membantu mempercepat proses reintegrasi mantan narapidana ke dalam masyarakat, sekaligus mengurangi stigma negatif yang kerap melekat pada diri mereka.
Rutan Banjarnegara menunjukkan bahwa program pembinaan yang tepat dapat memberikan dampak positif tidak hanya bagi para narapidana, tetapi juga bagi masyarakat secara keseluruhan.
Dengan keterampilan yang mereka peroleh, para narapidana memiliki peluang yang lebih besar untuk memulai hidup baru yang lebih baik dan produktif setelah mereka bebas. (jud/stch)
















