Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Produksi Padi Cilacap Digenjot, Target Luas Tanam 80 Persen Demi Jaga Stok Beras
Pemerintah Siapkan Skema Kredit Karbon dan Pembiayaan Konservasi, Masyarakat Adat Jadi Mitra Utama

Pemerintah Siapkan Skema Kredit Karbon dan Pembiayaan Konservasi, Masyarakat Adat Jadi Mitra Utama

Indonesia Ubah Strategi KonservasiIndonesia Ubah Strategi Konservasi
NAIK PERAHU: Kawasan wisata hutan mangrove

BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Upaya konservasi satwa dilindungi di Indonesia diyakini harus memberikan manfaat konkret, terutama dengan melibatkan masyarakat setempat.

Hal ini penting untuk mencapai keberhasilan yang lebih tinggi dalam pelestarian alam.

Pemerintah Indonesia telah menegaskan komitmennya untuk memperkuat langkah-langkah konservasi di seluruh wilayah tanah air.

Sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati yang paling kaya di dunia, aktivitas konservasi tidak hanya berfungsi untuk menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga harus mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat dan perekonomian secara berkelanjutan.

“Indonesia meyakini bahwa alam bukan hanya sesuatu yang harus dilindungi, tetapi merupakan modal pembangunan yang harus dikelola dan diinvestasikan secara berkelanjutan. Karena itu, kita perlu beralih dari paradigma financing conservation menuju investing in conservation,” ujar Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni saat membuka acara ‘Nature and Finance’ dalam rangka London Climate Action Week 2026 pada Kamis (25/6/2026).

Pendekatan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya memperkuat perlindungan sumber daya alam, sekaligus menciptakan peluang pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Indonesia memandang alam sebagai aset strategis nasional yang menjadi fondasi ketahanan ekonomi, ketahanan pangan, ketahanan air, stabilitas iklim, serta kesejahteraan generasi mendatang.

Dalam upaya tersebut, Menteri Kehutanan juga memperkenalkan Presidential Task Force for Innovative Financing for National Parks.

Satuan tugas ini memiliki tujuan untuk memperkuat perlindungan dan pemulihan taman nasional, menjaga spesies langka dan terancam punah, serta mengembangkan sumber-sumber pembiayaan yang berkelanjutan untuk konservasi.

Menurut Menhut, keberhasilan dalam bidang konservasi tidak terlepas dari keterlibatan masyarakat setempat.

Pemerintah memastikan bahwa masyarakat hukum adat dan masyarakat lokal akan menjadi mitra utama dalam pengelolaan kawasan konservasi.

“Pengetahuan, pengalaman, dan hubungan yang telah terbangun selama berabad-abad antara masyarakat dengan alam merupakan modal yang sangat berharga untuk mewujudkan keberhasilan konservasi jangka panjang,” tegas Menhut.

Indonesia sendiri telah melakukan berbagai kajian di sejumlah taman nasional guna mengidentifikasi berbagai peluang pembiayaan yang sesuai dengan karakteristik ekologi masing-masing daerah, prioritas konservasi yang ditetapkan, serta kapasitas pengelolaan yang ada.

Berbagai instrumen pembiayaan sedang dikembangkan untuk mendukung upaya ini, termasuk kredit karbon, kredit biodiversitas, obligasi konservasi spesies, ekowisata, debt-for-nature swap, serta berbagai mekanisme pembiayaan inovatif lainnya.

Salah satu inisiatif menarik yang diperkenalkan adalah ‘One Species, One Company’, yang bertujuan untuk mendorong partisipasi sektor swasta dalam mendukung perlindungan satwa ikonik Indonesia seperti badak, orangutan, gajah, harimau, dan burung cenderawasih.

Melalui inisiatif ini diharapkan sektor swasta dapat lebih aktif terlibat dalam upaya pelestarian satwa langka dengan cara memberikan dukungan finansial dan sumber daya lainnya.

Menteri Raja Juli juga mengajak seluruh pemangku kepentingan global untuk bersama-sama memperkuat kolaborasi dalam menutup kesenjangan pendanaan konservasi dunia yang masih sangat besar.

“Tidak ada satu negara pun yang mampu menutup kesenjangan pembiayaan alam global sendirian. Diperlukan aksi kolektif, kemitraan inovatif, dan tanggung jawab bersama. Indonesia mengundang pemerintah, lembaga pembangunan, organisasi filantropi, lembaga keuangan, dan investor swasta untuk bersama-sama membangun model pembiayaan konservasi yang praktis, terukur, dan berdampak nyata,” pungkasnya.

Kegiatan konservasi di Indonesia bukanlah hal baru; namun tantangan yang dihadapi semakin kompleks seiring dengan meningkatnya tekanan terhadap lingkungan.

Urbanisasi cepat, deforestasi, dan perubahan iklim menjadi beberapa tantangan utama yang harus dihadapi dalam upaya melindungi keanekaragaman hayati.

Oleh karena itu, pendekatan yang lebih holistik dan melibatkan berbagai pihak menjadi sangat penting.

Pentingnya keterlibatan masyarakat lokal dalam konservasi telah terbukti efektif di berbagai belahan dunia.

Komunitas yang terlibat aktif dalam pengelolaan sumber daya alam mereka cenderung lebih peduli dan bertanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan mereka.

Pengetahuan lokal yang dimiliki oleh masyarakat adat dapat memberikan wawasan berharga dalam pengelolaan ekosistem yang lebih baik.

Satu contoh sukses adalah program ekowisata yang melibatkan masyarakat setempat sebagai pelaku utama.

Program ini tidak hanya memberikan sumber pendapatan alternatif kepada masyarakat tetapi juga meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan.

Dengan mengedukasi pengunjung tentang flora dan fauna yang ada serta cara menjaga kelestariannya, masyarakat dapat merasakan langsung manfaat dari upaya konservasi tersebut. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Kejar Target Luas Tambah Tanam 80 Persen

Produksi Padi Cilacap Digenjot, Target Luas Tanam 80 Persen Demi Jaga Stok Beras