BANYUMASEKSPRES.ID, Dalam sebuah ruang pameran yang tenang di Yogyakarta, belasan kanvas tidak sekadar tergantung. Mereka menyimpan cerita dan suara yang dapat didengar oleh mereka yang memiliki kepekaan tersendiri.
Warna-warna di atas kanvas seolah menari bukan karena teknik sempurna tetapi karena muncul dari kedalaman rasa. Di balik setiap sapuan kuas itu terdapat sosok perempuan asal Cilacap, Hani Santana.
Hani adalah seorang pelukis otodidak yang memilih jalan sunyi dalam berkarya. Tanpa suara keras atau hiruk-pikuk sorotan media, ia belajar dari kesunyian, berdialog dengan dirinya sendiri, serta menggali dari luka dan rindu.
Ia juga mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan hidup yang tak kunjung selesai terjawab.
“Orang menyebut aku ekspresionis abstrak,” ujarnya dengan tenang ketika diwawancarai oleh awak media.
“Tapi aku sendiri tidak terlalu peduli dengan isme-isme itu. Saat melukis, aku tak lagi memikirkan teknis, bentuk, atau warna. Semuanya mengalir dari perasaan,” lanjutnya.
Bagi Hani, melukis bukan hanya aktivitas visual atau sekadar menyusun teori dan komposisi. Melalui kuas dan cat, ia menemukan bahasa alternatif untuk mengekspresikan emosi terdalamnya.
Setiap goresan kuas bagaikan puisi yang ditulis dengan warna dan berbicara lewat bentuk-bentuk yang muncul tanpa perencanaan matang sebelumnya. Dalam setiap lukisan tersimpan emosi murni yang dituangkan tanpa filter apapun.
Sejak memulai perjalanan seninya pada 2019, Hani telah menciptakan lebih dari 500 karya seni. Jumlah ini bukanlah sesuatu yang kecil bagi seorang seniman yang bekerja dalam kesendirian penuh dedikasi dan introspeksi mendalam.
Setiap karya menyimpan cerita tentang kehidupan kehilangan pencarian jati diri hingga cinta yang belum berakhir.
Pameran perdana Hani bertajuk “Segara” diselenggarakan di Museum Affandi pada 2021. Dalam pameran tersebut ia menghadirkan laut bukan sebagai pemandangan biasa tetapi sebagai metafora dirinya sendiri.
Laut dalam setiap lukisan menjadi ruang untuk menenggelamkan ego serta menemukan siapa sesungguhnya Hani Santana.
Setahun kemudian Hani mempersembahkan karya bertajuk “Nyekar” sebuah pameran yang sangat emosional sebagai bentuk penghormatan kepada ayahnya yang telah tiada.
Sosok ayah adalah figur besar dalam hidup Hani tempat berteduh yang kini tinggal kenangan indah saja. Kehilangan itu dituangkan dalam bentuk bunga dan karang laut simbol duka sekaligus cinta abadi.
“Bunga-bunga dan karang laut yang muncul dalam karyaku bukan hanya metafora,” tuturnya kepada awak media Banyumas Ekspres.
“Mereka adalah simbol-simbol yang sedang aku kejar maknanya,” lanjutnya sambil menjelaskan inspirasi di balik karya-karyanya.
Seiring berjalannya waktu karya Hani terus berkembang namun esensi kejujuran terhadap rasa tetap terjaga kuat.
Dalam pameran bertajuk “Spark” di Pertamina Cilacap ia menampilkan lukisan-lukisan sebagai pelepasan rindu dan wujud pengikhlasan hati yang belum sepenuhnya tuntas diterima oleh dirinya sendiri.
Warna-warna berani dan bentuk-bentuk meledak-ledak seolah menunjukkan betapa meski sunyi hatinya masih bergolak penuh semangat.
Pada tahun 2023 Hani menyajikan dua pameran berturut-turut yaitu “Nothing But Love #1” di Semarang lalu dilanjutkan dengan “Nothing But Love #2” di Bali.
Kedua pameran ini terasa seperti surat cinta untuk kehidupan penuh warna namun juga penuh luka mendalam bagi sang pelukis.
Di penghujung tahun itu pula ia menggelar pameran bertajuk “Isi Ruang” sebuah refleksi spiritualitas serta eksistensialitas diri seorang Hani Santana melalui seni lukisnya.
Kini pada tahun 2025 Hani kembali hadir dengan karya terbarunya dalam pameran berjudul “Allegoria”.
Karya-karya tersebut bagaikan potongan puzzle emosional menyatu dalam bingkai besar pencarian jati diri sang seniman tanpa memberikan jawaban pasti hanya kejujuran dalam setiap pertanyaan hidupnya.
Tidak hanya berpameran secara individu Hani juga rutin mengikuti berbagai pameran kolektif berbagi panggung dengan seniman lain tanpa merasa perlu tampil menonjol atau mencuri perhatian orang banyak.
Bagi dirinya karya adalah ruang paling jujur untuk berekspresi dan ia lebih nyaman berada di balik kanvas tanpa sorotan lampu kamera atau microphone besar media massa sekalipun.
“Seorang seniman sejati itu nggak pernah merasa cukup,” katanya dengan bijak saat diwawancarai oleh tim Banyumas Ekspres.
“Kegelisahan itu energi dorongan terus menyelami rasa belum selesai teruslah berproses jangan cepat puas,” tambahnya memberi pesan inspiratif bagi para seniman muda lainnya agar tetap setia mengikuti kata hati masing-masing dalam berkarya seni rupa maupun bidang kreatif lainnya.
Lahir serta dibesarkan di Cilacap jauh dari lingkungan seni formal membuat perjalanan karir artistik seorang wanita bernama lengkap Nurhani Santiana ini terasa unik sekaligus menginspirasi banyak orang terutama generasi muda saat ini.
Karyanya membuktikan bahwa pendidikan formal bukanlah satu-satunya jalan menuju kesuksesan jika kita mau mendengar intuisi batin kita sendiri membaca emosi pribadi dan membangun dunia baru melalui imajinasi liar kita semua bisa mencapai mimpi-mimpi besar impian selama ini terpendam diam-diam.
Hani Santana bukan sekadar pelukis tapi juga pengelana jiwa menjadikan ruang sunyi tempat paling produktif baginya menciptakan berbagai macam mahakarya artistik inovatif luar biasa bermutu tinggi.
Dalam keheningan tercipta kegelisahan ditemukan bentuk baru bukan sekadar pamer melainkan jujur pada isi hati tulus ikhlas sepenuh jiwa raganya.
Hani merupakan contoh nyata bagaimana seni sejatinya tidak harus diajarkan langsung tetapi bisa tumbuh subur berkembang pesat karena keberanian mendengarkan apa kata hati kita masing-masing mengikuti alunan musik nurani asli tulus bening murni adanya.
Ia tidak mengikuti tren pasar populer mengejar popularitas lewat gimmick murahan sensasionalisme sesaat belaka.
Berasal dari kota Cilacap Jawa Tengah, hasil kerja keras serta perjuangan panjang tanpa henti terbayar lunas sudah ketika karyanya berhasil menembus batas hingga merambah berbagai galeri nasional bahkan internasional membawa pesan suara hati terdalam kepada dunia bagi siapapun yang berani mendengarnya. (ray/stch)
















