Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Saluran Irigasi Putus, Petani Ikan di Banjarnegara Terpaksa Panen Dini

Petani Ikan Terpaksa Panen DiniPetani Ikan Terpaksa Panen Dini
NYESER: Petani ikan di Desa Gemuruh saat memanen lebih awal akibat kekurangan air

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Masyarakat Desa Gemuruh, Kecamatan Bawang, kini menghadapi dampak serius akibat putusnya saluran irigasi.

Kejadian ini tidak hanya mengancam lahan pertanian, tetapi juga berdampak besar pada sektor perikanan.

Pasokan air yang terhenti total membuat para pembudidaya ikan air tawar terpaksa menanggung kerugian.

Dalam situasi yang semakin mendesak ini, mereka harus melakukan panen lebih awal untuk menyelamatkan ikan-ikan mereka dari ancaman kematian akibat kekurangan air.

Sejumlah petani mengungkapkan bahwa mereka terpaksa memanen ikan lebih cepat dari jadwal yang seharusnya.

Meskipun langkah ini merupakan upaya untuk menghindari kerugian yang lebih besar, hasil panen menjadi tidak optimal.

Ikan yang dijual dalam kondisi lebih kecil akan mendapatkan harga yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan ukuran ideal.

“Dampaknya sangat luar biasa. Air kolam terus berkurang karena pasokan dari irigasi terputus. Kalau dibiarkan, ikan bisa mati semua,” ungkap Yudi Rianto, salah satu petani ikan dari Desa Gemuruh, dalam keterangannya pada Rabu (10/6/2026).

Kondisi ini sangat membebani petani, terutama bagi mereka yang baru saja menebar benih beberapa pekan lalu.

Mereka kehilangan kesempatan untuk membesarkan ikan hingga mencapai ukuran konsumsi yang diinginkan, karena kolam-kolam mereka mulai mengering.

Beberapa petani bahkan terpaksa mengeringkan kolam-kolam tersebut dan mengalihfungsikannya menjadi area resapan.

Langkah ini diambil untuk menjaga cadangan air tanah di sekitar permukiman warga yang juga mulai merasakan dampak kekeringan.

“Langkah tersebut kami ambil agar sumur warga masih punya cadangan air,” tambah Yudi, menjelaskan betapa pentingnya menjaga ketersediaan air bagi kehidupan sehari-hari masyarakat sekitar.

Dalam kondisi krisis ini, keberlanjutan hidup masyarakat Desa Gemuruh menjadi taruhannya.

Panen dini yang dilakukan oleh banyak petani berdampak langsung pada harga ikan di tingkat pembudidaya.

Harga ikan bawal misalnya, biasanya dijual antara Rp 17 ribu hingga Rp 18 ribu per kilogram (kg), kini mengalami penurunan drastis menjadi hanya Rp 14.500 hingga Rp 15 ribu per kg.

Meskipun selisih harga tersebut terlihat kecil, dampaknya sangat signifikan bagi petani yang memanen dalam jumlah besar.

Kerugian yang dialami bisa mencapai jutaan rupiah, apalagi biaya pakan dan perawatan sudah dikeluarkan selama masa budidaya.

Krisis air akibat putusnya jalur irigasi tidak hanya memengaruhi sektor perikanan tetapi juga mulai merembet ke pemukiman warga.

Sejumlah sumur gali dilaporkan mengalami penurunan debit secara signifikan. Khotimah, seorang warga desa setempat, mengungkapkan rasa cemasnya terkait kondisi air di rumahnya.

“Air sumur di rumah saya kini jauh berkurang dibanding biasanya. Meski belum kering total, air cepat habis saat pompa dinyalakan,” katanya.

Kekhawatiran warga semakin meningkat seiring dengan pengurangan pasokan air dari sumber-sumber alami lainnya.

Di tengah situasi sulit ini, masyarakat Desa Gemuruh merasa harus berpikir kreatif untuk bertahan hidup dan beradaptasi dengan kondisi baru yang semakin menantang.

Pihak pemerintah daerah perlu memberikan perhatian serius terhadap masalah ini agar dapat menemukan solusi jangka panjang untuk mencegah kejadian serupa terjadi di masa depan.

Penanganan terhadap infrastruktur irigasi dan penyediaan sumber daya air menjadi hal yang sangat penting demi keberlangsungan pertanian dan perikanan lokal.

Tanggul jebol yang menyebabkan putusnya saluran irigasi bukanlah sebuah kejadian sepele.

Hal ini mencerminkan perlunya perhatian lebih terhadap infrastruktur pertanian dan budidaya ikan yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat desa tersebut.

Warga berharap agar pemerintah segera mengambil tindakan nyata untuk memperbaiki saluran irigasi yang rusak demi kelangsungan hidup mereka. (jud/stch/dda)

Berita Sebelumnya
48 Adegan Ungkap Kasus Pembakaran

48 Adegan Diperagakan dalam Rekonstruksi Kasus Pembakaran Anak di Banyumas

Berita Selanjutnya
BPJS Kesehatan Terancam Gagal Bayar

Defisit Bulanan Capai 2 Triliun, BPJS Kesehatan Terancam Gagal Bayar Klaim