Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Ratusan Pengungsi Longsor Situkung Banjarnegara Jalani Trauma Healing untuk Pulihkan Mental

Ratusan Pengungsi Situkung Jalani Trauma HealingRatusan Pengungsi Situkung Jalani Trauma Healing
BERCERITA: Warga korban longsor bercerita saat mendapatkan pendampingan trauma healing dari personel Polres Banjarnegara di posko pengungsian, Rabu (19/11)

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Di Dusun Situkung, suasana posko pengungsian masih diselimuti kecemasan dan harapan yang menggelisahkan.

Setiap kabar terbaru dari lokasi longsor segera menyedot perhatian warga, memunculkan secercah harapan akan kejelasan nasib 26 orang yang hingga kini belum ditemukan.

Di tengah ketegangan ini, pendampingan trauma healing hadir menjadi oase bagi ratusan penyintas bencana longsor Situkung Banjarnegara yang selama empat hari terakhir hidup dalam bayang-bayang ketidakpastian.

Rumini, salah satu pengungsi, terlihat bersandar di sudut Gelanggang Olahraga (GOR) Desa Beji.

Selimut bantuan digenggamnya erat, seolah menjadi satu-satunya pelipur lara di saat dua anggota keluarganya masih hilang. Setiap malam terasa panjang karena kesulitan tidur menghantuinya.

“Dari 10 orang yang belum ketemu, dua itu keluarga saya. Trauma healing ini sangat membantu, terutama untuk anak-anak. Tapi bagi yang sudah tua, apalagi keluarganya meninggal atau belum ditemukan, traumanya jauh lebih berat,” ungkapnya dengan suara serak pada Rabu (19/11/2025).

Pendampingan psikologis memang menjadi kebutuhan mendesak dalam situasi seperti ini.

Ratusan warga selamat—dari anak-anak hingga lanjut usia—memikul beban mental yang berat setelah peristiwa longsor besar meluluhlantakkan rumah-rumah mereka.

Gejala syok dan hilang fokus masih banyak dialami, bahkan ketakutan berlebihan menghantui setiap kali suara keras terdengar.

Sebagai upaya meringankan beban psikologis tersebut, Polres Banjarnegara telah mengerahkan tim trauma healing ke lima titik pengungsian.

Kapolres Banjarnegara AKBP Mariska Fendi Susanto menjelaskan bahwa pendampingan dilakukan secara intensif setiap hari karena kondisi mental sebagian warga berada dalam fase rentan dan membutuhkan perhatian khusus.

“Di situasi darurat seperti ini, trauma healing menjadi bagian penting. Petugas kami mendatangi pos-pos pengungsian untuk memberikan konseling, bermain dengan anak-anak, serta memberikan edukasi mitigasi bencana,” terang Mariska dengan penuh empati.

Ruang aktivitas didirikan khusus untuk anak-anak lengkap dengan permainan kreatif dan kegiatan menggambar guna mengalihkan perhatian mereka dari trauma yang dialami.

Sementara itu, sesi konseling untuk orang dewasa dilangsungkan dalam kelompok kecil agar mereka bisa saling berbagi pengalaman dan mengurangi beban emosional yang menumpuk.

Kegiatan pendampingan ini berjalan paralel dengan operasi pencarian korban longsor yang dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama tim gabungan lainnya.

Hingga kini, kondisi tanah di lokasi longsor masih labil dan menuntut kewaspadaan tinggi dalam setiap upaya pencarian.

Tragedi longsor di Situkung telah meninggalkan jejak kehancuran yang besar. Sebanyak 48 rumah tertimbun sepenuhnya sementara 194 rumah lainnya mengalami kerusakan parah.

Dua warga dinyatakan meninggal dunia akibat bencana ini dan hingga Rabu sore tercatat sebanyak 937 warga terpaksa mengungsi ke berbagai lokasi pengungsian seperti GOR Beji, Gedung Haji Pringamba, Kantor Kecamatan Pandanarum hingga ke rumah kerabat di desa sekitar.

Langkah-langkah cepat dan sigap dari berbagai pihak sangat diperlukan dalam menghadapi bencana alam semacam ini guna meminimalkan dampak lanjutan baik secara fisik maupun mental terhadap seluruh korban terdampak.

Sementara itu aparat dan relawan terus berupaya semaksimal mungkin untuk menemukan para korban hilang meski medan pencarian cukup sulit dijangkau.

Dukungan moral dan material dari pemerintah serta masyarakat luas tentunya sangat dibutuhkan untuk mempercepat pemulihan kondisi para penyintas pasca bencana ini terjadi.

Bantuan berupa logistik makanan serta kebutuhan dasar lainnya juga terus disalurkan demi memastikan kesehatan dan kenyamanan para pengungsi selama masa pemulihan berlangsung.

Kisah Rumini dan para penyintas lainnya menggambarkan betapa pentingnya dukungan sosial dan keberlanjutan upaya pemulihan pasca bencana agar mereka dapat kembali bangkit membangun kehidupan baru meski harus melewati proses panjang penuh tantangan.

Di tengah segala keterbatasan dan derita yang mendera para korban longsor tersebut tetap ada harapan akan hari esok yang lebih baik berkat kerja keras semua pihak terkait serta solidaritas antar sesama manusia dalam menghadapi cobaan berat seperti ini. (jud/dda)

Berita Sebelumnya
Acosta Tes Fairing Anyar KTM

Pedro Acosta Uji Coba Fairing Baru Red Bull KTM di Hari Terakhir MotoGP 2025

Berita Selanjutnya
Harga Turun Petani Tembakau Merugi

Harga Tembakau Temanggung Anjlok, Petani Kesulitan Raup Keuntungan