BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Pada Sabtu (30/8), suasana di Desa Lebeng, Kecamatan Sumpiuh, terasa berbeda. Ratusan warga dari berbagai kalangan usia berkumpul untuk mengikuti kirab bendera merah putih yang membentang sepanjang 1.080 meter.
Kegiatan ini diikuti oleh anak-anak, remaja, orang dewasa hingga perangkat desa yang dengan penuh semangat berjalan kaki mengelilingi desa sejauh lima kilometer.
Kirab dimulai dan berakhir di lapangan desa, menjadi simbol persatuan dan kebersamaan warga dalam memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia.
Sebelum kirab dimulai, Kepala Desa Lebeng, Tugiyo, menyampaikan pentingnya menjaga bendera merah putih sebagai simbol negara. Dalam apel sebelum kirab berlangsung, Tugiyo menegaskan bahwa bendera harus dijaga dengan sebaik-baiknya agar tidak tercecer apalagi menyentuh tanah.
“Kita betul-betul menghormati bendera merah putih, simbol negara,” ungkap Tugiyo, menunjukkan semangat nasionalisme yang kuat di antara warga.
Bendera raksasa tersebut dihamparkan dengan sangat hati-hati. Warga Desa Lebeng berbaris rapi dan bergantian memegang sisi kain merah putih yang panjangnya lebih dari satu kilometer.
Pemandangan ini tidak hanya menunjukkan kecintaan masyarakat terhadap negaranya tetapi juga menggambarkan kerja sama dan gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia.
Menurut Andri Agasi, seorang tokoh pemuda desa, ide untuk membuat bendera raksasa ini muncul dari generasi muda yang ingin menambah nuansa berbeda pada perayaan kemerdekaan tahun ini.
“Prosesnya satu minggu, mulai dari membeli bahan sampai menjahit kain jadi bendera utuh. Semuanya gotong royong warga,” jelas Andri Agasi. Inisiatif ini mendapatkan dukungan penuh dari seluruh warga desa yang terlibat aktif dalam setiap proses pembuatannya.
Kirab tersebut mendapat apresiasi tinggi dari Camat Sumpiuh Ahmad Suryanto. Ahmad menilai kegiatan itu bukan sekadar acara seremonial tetapi merupakan wujud nyata nasionalisme dan cinta tanah air warga Desa Lebeng.
“Jangan hanya dilihat dari kainnya. Kirab ini adalah wujud cinta tanah air,” tegas Ahmad.
Ia juga mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan hasil perjuangan luar biasa yang harus terus dijaga oleh seluruh lapisan masyarakat.
Partisipasi aktif aparat keamanan seperti Polsek Sumpiuh, Koramil 10 Sumpiuh, serta Satlinmas desa turut memastikan jalannya kirab berlangsung tertib dan lancar.
Kehadiran mereka memberikan rasa aman dan nyaman bagi peserta kirab sehingga acara dapat berjalan sesuai rencana tanpa kendala berarti.
Kirab bendera sepanjang 1.080 meter ini tidak hanya menjadi simbol kebanggaan bagi warga Desa Lebeng tetapi juga mencerminkan persatuan dan semangat gotong royong yang solid di antara mereka.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern saat ini, kegiatan semacam ini mampu mengingatkan kembali akan pentingnya menjaga nilai-nilai kebangsaan dan kebersamaan sebagai pilar utama dalam memperkuat jati diri bangsa.
Kegiatan kirab di Desa Lebeng juga memberikan pelajaran berharga mengenai bagaimana sebuah komunitas dapat bersatu untuk merayakan sesuatu yang lebih besar daripada diri mereka sendiri yaitu kemerdekaan bangsa.
Dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat tanpa memandang usia atau status sosial acara tersebut berhasil menciptakan momen kebersamaan yang akan dikenang oleh semua peserta.
Sebagai penutup rangkaian acara kirab Kepala Desa Lebeng kembali menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh warga dan pihak terkait yang telah mendukung suksesnya kegiatan ini.
Menurutnya apa yang telah dicapai bukan hanya sebagai bentuk perayaan tetapi juga sebagai pengingat bagi kita semua akan pentingnya menjaga persatuan demi masa depan bangsa yang lebih baik.
Kirab bendera merah putih sepanjang 1.080 meter ini pun menjadi simbol kuat persatuan dan kebersamaan warga Desa Lebeng di momen perayaan kemerdekaan Indonesia ke-80 tahun yang tentunya meninggalkan kesan mendalam bagi setiap orang yang hadir pada hari itu. (fij/stch)
















