BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Para petani yang berada di Kecamatan Jeruklegi, Kabupaten Cilacap, kini mulai melaksanakan berbagai teknik pengendalian hama tikus untuk melindungi tanaman padi mereka dari serangan yang mengancam hasil pertanian.
Dalam upaya ini, mereka terlibat dalam kegiatan Gerakan Pengendalian (Gerdal) yang digelar sejak Senin (27/4) lalu.
Pada kesempatan tersebut, para petani bekerja sama dengan petugas pertanian setempat untuk mempraktikkan metode pengendalian secara langsung di lapangan.
Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Jeruklegi, Edy Sudaryanto, menjelaskan bahwa pengendalian hama tikus dilakukan melalui kombinasi antara cara tradisional dan teknik modern.
“Kegiatan gerakan pengendalian hama tikus dilakukan dengan pengemposan lubang sarang tikus, menggunakan mercon tikus, serta pemberian umpan racun yang diletakkan di mulut sarang,” ujarnya saat ditemui pada Rabu (29/4).
Metode ini dianggap efektif karena dilakukan secara kolektif oleh para petani, sehingga dapat menekan populasi hama secara signifikan.
Awalnya, kegiatan Gerdal ini difokuskan di lahan seluas dua hektare di Desa Karangkemiri, yang merupakan bagian dari total hamparan sawah seluas 41 hektare di desa tersebut.
Namun, rencana ke depan adalah memperluas kegiatan ini hingga mencakup desa-desa lain di sekitarnya.
Hal ini menunjukkan komitmen para petani untuk bersama-sama berjuang melawan hama yang kerap menjadi momok dalam pertanian mereka.
Edy juga menambahkan bahwa keberadaan hama tikus merupakan salah satu ancaman serius bagi para petani.
Jika tidak segera dikendalikan, serangan hama ini dapat menyebabkan penurunan hasil panen bahkan gagal panen.
Oleh karena itu, penerapan berbagai teknik pengendalian sangat penting agar tanaman padi dapat tumbuh optimal hingga masa panen tiba.
“Harapannya dengan gerakan ini tanaman padi bisa terjaga dan hasil panen petani tetap maksimal,” pungkas Edy.
Serangan hama tikus telah menjadi masalah berulang bagi para petani di wilayah ini.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak petani mengalami kerugian besar akibat serangan tikus yang tidak terkendali.
Beberapa faktor seperti perubahan iklim dan kurangnya kesadaran akan pentingnya pengendalian hama turut berkontribusi terhadap meningkatnya populasi tikus di area pertanian.
Dengan adanya inisiatif Gerdal ini, harapan untuk mengurangi dampak negatif dari serangan hama menjadi semakin nyata.
Kegiatan Gerdal tidak hanya merupakan usaha untuk menekan populasi tikus, tetapi juga menjadi wadah bagi para petani untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam mengelola pertanian mereka.
Kolaborasi antara para petani dan penyuluh pertanian sangat penting dalam menciptakan solusi yang tepat guna menghadapi tantangan yang ada.
Dalam hal ini, Edy berharap bahwa semua pihak dapat bersinergi demi tercapainya hasil pertanian yang maksimal.
Dengan adanya upaya sistematis seperti Gerdal, diharapkan kesadaran para petani akan pentingnya pengendalian hama semakin meningkat. (jul/stch/dda)
















