BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Kepulangan para jamaah haji dari Kloter 4 Kabupaten Banyumas pada Sabtu sore (14/6) disambut dengan suasana haru dan penuh emosional. Langit Sumpiuh yang mendung seolah ikut merasakan kebahagiaan mereka.
Ketika bus yang membawa rombongan jamaah merapat di halaman Pendopo Surya Kusuma Yuda, rintik hujan mulai turun. Momen ini menjadi saksi bisu kepulangan mereka setelah lebih dari sebulan menunaikan ibadah haji di Tanah Suci.
Di antara para jamaah, tampak seorang perempuan tua yang menuruni bus dengan perlahan, air matanya tak tertahankan saat kakinya menyentuh tanah Sumpiuh. Tidak jauh darinya, seorang pria muda memeluk erat ayahnya yang telah berusia lanjut.
Pelukan hangat dan isak tangis yang tertahan menyelimuti suasana sore itu, menciptakan pemandangan yang mengharukan. Tangisan bahagia bercampur dengan tetesan hujan, menambah kesan mendalam akan momen berharga tersebut.
Turino Tibyan, salah satu jamaah sekaligus Koordinator IPHI Banyumas Wilayah Eks Kawedanan Sumpiuh, turut menjadi saksi atas momen emosional ini. Ia mengungkapkan rasa syukur atas keselamatan perjalanan mereka,
“Alhamdulillah, waktu berangkat hujan, pulang juga hujan. Semoga ini pertanda berkah,” ungkap Tibyan dengan mata berkaca-kaca.
Meski perjalanan spiritual di Tanah Suci tidak sepenuhnya tanpa hambatan, para jamaah tetap mampu menghadapinya dengan keteguhan hati. Beberapa kebijakan baru di Arab Saudi sempat menyebabkan beberapa jamaah terpisah dari kelompoknya, termasuk dari keluarga mereka.
Namun, berkat koordinasi yang baik, situasi tersebut berhasil diatasi. Meskipun sebagian besar jamaah mengalami batuk dan pilek akibat perubahan cuaca, proses ibadah tetap berjalan lancar.
Sebanyak 107 jamaah dari berbagai wilayah seperti Wangon, Lumbir, dan Kebasen, berkumpul di Sumpiuh. Camat Sumpiuh, Ahmad Suryanto, memastikan seluruh jamaah kembali dalam keadaan sehat dan selamat.
“Alhamdulillah, semuanya berangkat bareng, pulang bareng,” ujar Ahmad, mengajak para jamaah untuk aktif berpartisipasi dalam organisasi IPHI guna menjaga semangat kemabruran haji.
Di sisi lain, Sub Koordinator Surveilans, Imunisasi dan KLB Dinas Kesehatan Banyumas, Achmad Chairul Hamdi, melaporkan bahwa salah satu jamaah dari Kloter 4 harus dipulangkan menggunakan ambulans karena kondisi kesehatan yang menurun saat tiba di Donohudan.
Langkah ini diambil sebagai langkah antisipatif terhadap kemungkinan penularan penyakit dari Tanah Suci.
“Beliau dalam kondisi kurang sehat saat tiba di Donohudan. Kita antisipasi kemungkinan bawaan penyakit dari Tanah Suci,” jelas Hamdi.
Kasus serupa juga terjadi di kloter lain. Dari Kloter 5, seorang jamaah asal Jatilawang sempat dibawa ke rumah sakit di Solo karena mengalami tekanan darah tinggi dan sakit perut. Setelah kondisinya stabil, ia melanjutkan perjalanan ke Banyumas dengan ambulans.
Sementara itu, Kloter 6 dan 7 kembali dalam keadaan sehat, meskipun pemantauan kesehatan tetap dilakukan secara intensif.
Namun, perhatian utama tertuju pada Kloter 8. Seorang jamaah lansia mendadak harus turun dari pesawat saat pengisian bahan bakar di Bandara Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara, pada Minggu (15/6), karena diduga mengalami stroke akibat kelelahan.
“Yang bersangkutan sudah masuk ruang perawatan RSUD Deli Serdang. Ditemani istri. Alhamdulillah siang ini mulai membaik,” ujar Hamdi.
Selain itu, seorang jamaah lain dari Kloter 8 juga dijemput dengan ambulans sesampainya di Banyumas untuk dirujuk ke rumah sakit lokal.
Sementara itu, di Banjarnegara, suasana serupa terjadi di halaman Pendopo Dipayudha Adigraha.
Jamaah Kloter 4 Banjarnegara yang berjumlah 244 orang merupakan rombongan terakhir yang kembali dari Tanah Suci. Setibanya mereka sekitar pukul 14.30 WIB, para jamaah langsung melakukan sujud syukur di atas aspal yang masih hangat diterpa sinar matahari sore.
Sekretaris Daerah Banjarnegara, Indarto, menyambut para jamaah bersama jajaran Forkopimda dan OPD. Bagi Indarto, kembalinya para jamaah bukan hanya sekadar peristiwa keagamaan, tetapi juga menjadi kebanggaan kolektif masyarakat.
“Selamat datang para dhuyufurrahman, semoga menjadi haji mabrur. Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja keras selama musim haji ini,” tuturnya.
Indarto juga berharap agar penyelenggaraan haji di masa mendatang dapat semakin baik dan terkoordinasi dengan lebih terstruktur.
Di tengah kerumunan orang yang menyambut, terdengar lantunan takbir yang tak pernah berhenti. Suara itu seakan merajut kembali jarak yang sempat terpisah antara mereka yang pergi dengan doa, dan mereka yang menunggu dengan penuh harap.
Di tanah ini, pelukan akhirnya menyatu. Meskipun ibadah haji telah usai, kenangan dan berkahnya akan terus membekas dalam sanubari. (fij/jud/stch)
















