BANYUMASEKSPRES.ID, Tim SAR gabungan berhasil mengungkap salah satu elemen kunci dalam investigasi jatuhnya pesawat ATR 42-500 di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Dalam operasi pencarian yang intensif, mereka menemukan kotak hitam atau black box yang terdiri dari Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR).
Penemuan ini menjadi sinyal penting dalam upaya mengurai misteri di balik kecelakaan tersebut.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar, yang juga bertindak sebagai SAR Mission Coordinator (SMC), menjelaskan bahwa penemuan ini dicapai setelah dilakukan penyisiran lanjutan oleh tim SAR gabungan di sektor pencarian.
“Black box yang ditemukan terdiri dari Flight Data Recorder dan Cockpit Voice Recorder. Keduanya ditemukan di sekitar badan pesawat oleh tim SAR gabungan saat melakukan penyisiran lanjutan di sektor pencarian,” ungkap Arif dalam keterangannya pada Rabu (21/1).
Flight Data Recorder (FDR) memiliki peran krusial dengan merekam berbagai parameter penerbangan seperti ketinggian, kecepatan, arah, posisi pesawat, hingga kinerja mesin.
Informasi ini sangat berharga bagi pihak berwenang untuk merekonstruksi kronologi penerbangan sebelum terjadinya kecelakaan.
Di sisi lain, Cockpit Voice Recorder (CVR) menangkap percakapan di dalam kokpit termasuk komunikasi antar awak pesawat serta suara-suara penting lainnya selama penerbangan berlangsung.
“Secara umum, perangkat FDR dan CVR disimpan di bagian ekor pesawat,” jelas Arif lebih lanjut.
Ekor pesawat dianggap memiliki ketahanan lebih tinggi terhadap benturan, sehingga peluang untuk menyelamatkan data dari perangkat ini menjadi lebih besar saat terjadi kecelakaan.
Setelah ditemukannya black box tersebut, langkah selanjutnya adalah menyerahkan temuan ini kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang memiliki otoritas penuh untuk melakukan investigasi lanjutan sesuai prosedur yang berlaku.
“Penemuan ini menjadi langkah penting dalam proses investigasi kecelakaan pesawat. Tim SAR tetap melanjutkan tugas sesuai mandat, dengan fokus pada pencarian dan evakuasi korban serta pengamanan objek penting di lokasi kejadian,” tambah Arif.
Dalam konteks investigasi kecelakaan udara, FDR dan CVR adalah alat vital yang dapat memberikan petunjuk berharga mengenai apa yang sebenarnya terjadi sebelum insiden fatal tersebut terjadi.
Dengan menganalisis data dari kedua perangkat ini, penyelidik mampu membangun kembali urutan kejadian yang mengarah ke bencana.
Ini termasuk memahami tindakan terakhir pilot serta respon sistem pesawat terhadap situasi darurat yang dialami.
Proses analisis data FDR dan CVR akan memakan waktu karena membutuhkan ketelitian luar biasa untuk memastikan setiap detail terungkap dengan akurat.
Para ahli dari KNKT akan bekerja sama dengan lembaga internasional jika diperlukan untuk memastikan hasil investigasi memenuhi standar keselamatan penerbangan global.
Sementara itu, operasi pencarian dan evakuasi korban terus berlangsung di lokasi kecelakaan dengan tetap mengedepankan keselamatan para petugas lapangan.
Kondisi medan yang menantang di lereng Gunung Bulusaraung menambah kompleksitas upaya penyelamatan ini namun semangat kolaboratif tim SAR gabungan tetap menjadi motor utama dalam menghadapi tantangan tersebut.
Selain aspek teknis investigasi, ada juga dimensi kemanusiaan dari tragedi ini yang tidak boleh dilupakan.
Setiap upaya penyelamatan bukan hanya soal menemukan jawaban atas pertanyaan teknis tetapi juga memberi penghormatan kepada para korban dan memberikan sedikit ketenangan bagi keluarga mereka yang ditinggalkan.
Dengan penemuan kotak hitam ini harapan baru muncul untuk mengungkap apa sebenarnya yang menyebabkan tragedi jatuhnya ATR 42-500 di Pangkep. (*/dda)
















