BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Setelah tujuh hari melakukan operasi pencarian dan pertolongan (opsar) yang intensif, upaya untuk menemukan Kardan (78), warga Desa Karang Kemiri, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas, akhirnya dihentikan.
Kardan dilaporkan hilang di kawasan hutan setempat dan meskipun upaya pencarian sudah dilakukan secara maksimal, hasilnya tetap nihil.
Komandan Tim Rescue, Amin Riyanto, menjelaskan bahwa penghentian operasi ini dilakukan pada Sabtu (17/1) sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku.
“Operasi pencarian sudah kami tutup kemarin sore, setelah pencarian hari ketujuh,” kata Amin saat dikonfirmasi oleh awak media pada Minggu (18/1).
Selama operasi berlangsung, tim SAR gabungan telah berusaha sekuat tenaga untuk menyisir berbagai sektor di area pencarian.
Namun, hingga berakhirnya operasi tersebut, keberadaan Kardan belum juga berhasil ditemukan.
Hal ini membuat pihak berwenang menyatakan Kardan sebagai orang hilang.
Menurut Amin, tim SAR menghadapi sejumlah kendala signifikan selama proses pencarian.
Vegetasi hutan yang sangat rapat serta medan berbahaya berupa tebing-tebing curam menjadi tantangan utama.
Selain itu, kondisi cuaca yang tidak menentu turut mempersulit upaya para petugas dalam mencari keberadaan Kardan.
Berbagai strategi telah diterapkan oleh tim SAR gabungan dalam upaya menemukan Kardan.
Penyisiran darat dilakukan secara menyeluruh di berbagai sektor sementara pemantauan melalui udara juga telah dikerahkan.
Namun sayangnya, seluruh usaha tersebut belum membuahkan hasil yang diharapkan.
Menghadapi situasi ini, pihak keluarga korban menerima keputusan penghentian operasi dengan ikhlas.
“Keluarga korban juga sudah menyatakan ikhlas atas hasil pencarian yang dilakukan tim SAR,” pungkas Amin.
Peristiwa hilangnya Kardan ini menjadi sorotan mengingat kompleksitas dan tantangan geografis dari kawasan hutan Karang Kemiri.
Medan hutan yang sulit dijangkau memang sering kali menjadi penghalang utama dalam operasi pencarian semacam ini.
Vegetasi lebat dapat mengaburkan pandangan dan membatasi pergerakan tim penyelamat sehingga memperpanjang durasi pencarian.
Selain itu, cuaca yang tidak menentu kerap kali menghambat kelancaran operasi SAR.
Hujan deras atau kabut tebal dapat mengganggu visibilitas serta meningkatkan risiko keselamatan bagi para penyelamat.
Oleh karenanya, setiap operasi harus direncanakan dengan cermat agar semua potensi bahaya bisa diminimalisir.
Dari segi teknis, penggunaan teknologi modern seperti drone untuk pemantauan udara sebetulnya bisa menjadi solusi efektif dalam meningkatkan efisiensi pencarian di medan sulit seperti hutan Karang Kemiri ini.
Namun tetap saja, faktor cuaca sering kali menjadi kendala utama yang tidak bisa sepenuhnya diatasi hanya dengan teknologi.
Keputusan untuk menghentikan operasi pencarian memang bukan hal yang mudah baik bagi tim SAR maupun keluarga korban.
Namun SOP yang berlaku memang menetapkan batas waktu tertentu untuk memastikan efektivitas serta alokasi sumber daya yang tepat dalam setiap misi penyelamatan.
Sementara itu, masyarakat setempat menunjukkan solidaritas tinggi terhadap keluarga Kardan dengan memberikan dukungan moril selama proses pencarian berlangsung.(zet/dda)
















